Thursday, August 25, 2011

PUISI

Menanti

Oleh: Heru Supanji

Di tepi jalan menanti suntingan hati
Yang pernah berjanji sehidup semati
Kemarin dia pergi
Janji kembali
Sampai hari ini
Atau nanti
Menanti

Puri Sunyi, 6 Juli 2011

Resah Dalam Penantian

oleh Nila Sapti Supanji

Kerendahan hati ini bagai benalu, 
saat kudamba tautan hati kita, 
selalu ada tuk bersama.....
Namun, tak kau hiraukan diriku...........
Ketinggian hati ini bagai bumerang, 
saat tak kau katakan sejujurnya padaku
tentang betapa Arogannya aku dimatamu,
walau padaku kau katakan suka.....
Antara hati kita mulai tak bicara, 
gaung yang mendayu bagai bunyi sengau, 
suara hati kita mulai terdengar parau, 
sering kini lebih baik diam tak bersuara, 
ketakutan hatiku mulai meresahkan hatimu, 
kaupun mulai membenci sikapku,
keraguanku kini jadi kebimbanganmu, 
perlahan kau mulai menyendiri...
Pedih hati ini mungkin tak sepedih hatinya 
yang lebih dulu mengenalmu sejak bertahun lalu, 
Aku yang telah terbiasa disakiti mulai kebal, 
Kau biarkan ruang hampa ini terlalu lama, 
tangan kananmu menggenggam tambang,
tangan kirimu menggapai beruang terbang, 
dimana sesungguhnya hatimu kau simpan....
kulihat lagi binar matamu tak pernah jemu, 
kudengar lagi kalimatmu tak pernah ragu, 
adakah keresahanku kau rasakan juga...
adakah penantianku sia-sia....?
pada 13 Desember 2009 jam 18:33

Mati Sebelum Mati
Oleh : Heru Supanji

Aku tak ’kan berkedip
Walau kau hunjam jantungku dengan seribu belati
Karena aku tak bisa lagi mati
Kau terlambat sepersejuta detik
Aku sudah mati sebelum mati


Puri Sunyi, 09;23 – 5 Juli 2011



HATI YANG BEKU

Oleh: Heru Supanji

Hatiku membatu sedingin pualam purba
Tak bergeming setegar karang dihantam gelombang
Aku kehilangan rasa
Tubuh dan jiwa ini meradang dirasuk angkara
Bagai serigala lapar memakan dirinya sendiri

Puri Sunyi, 26 Juli 2011

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.