Tuesday, August 30, 2011

Satire Ramadhan


SHOLATKU INGAT 1 SYAWAL
Oleh: Heru Supanji


Kalau penentuan 1 Ramadan (awal puasa) setiap tahun selalu sama mengapa begitu tiba waktu untuk menetapkan perayaan lebaran 1 Idul Fitri selalu berbeda dan banyak konflik pelik di masyarakat? Bukankah seluruh umat Islam seharusnya sadar bahwa seluruh peradaban Islam itu berasal dari kota suci, yakni Madinah dan Makkah di Arab Saudi?

 Sejak zaman nabi Muhammad hingga sekarang, di dua kota itu tidak pernah keliru menentukan pelaksanaan 1 Ramadan dan 1 Syawal. Hanya di Indonesia saja yang sering terjadi perbedaan.

Arab Saudi dengan Indonesia, terpaut waktu sekitar 4 jam. Jika di Madinah atau Makkah pukul 6.00 pagi maka di Indonesia  pukul 10.00 wib dan tidak ada perbedaan hari. Begitu juga dengan negara paling jauh, misalnya Amerika hanya terpaut sekitar 8 jam dan harinya saat itu sama. Apabila di Arab Senin maka di Indonesia  juga Senin.

Maka jika di Arab Saudi merayakan Idul Fitri, tentunya di Indonesia juga harus melakukan hal yang sama. Karena di sini hanya terjadi perbedaan jam dan bukan terjadi perbedaan hari. Lantas mengapa terjadi perselisihan, jika di Arab Saudi sudah 1 Syawal tetapi mengapa di Indonesia belum? Bukankah umat Islam harus berkiblat ke Madinah atau Makkah?

1 Syawal itu hukumnya haram untuk berpuasa dan jelas berdosa bagi yang tidak mentaatinya. 1 Syawal merupakan ketetapan Allah sejak zaman 'azali' berdasarkan 'sunnatullah' yang tidak akan pernah meleset sedikitpun. Hanya saja, umat Islam terlalu dikotomi. Setiap tahun masehi umat Islam selalu taat dan tidak pernah pernah berselisih pendapat tentang 25 Desember atau yang lainnya.

Sampai sekarang ini umat Islam sendiri lebih takut kepada 'kepentingan' manusia. Tidak takut kepada hukum Allah. Makanya sering timbul bencana alam atau wabah melanda negeri ini. Padahal jika ditilik, bulan, bumi, dan matahari hanya ada satu jumlahnya. Kiblat umat Islam hanya kepada Madinah dan Makkah al Mukaramah.

Andai disadari bahwa dari dulu banyak 'tangan-tangan' yang tidak suka jika umat Islam bersatu, yang selalu ingin mencerai-beraikan keadaan umat Islam. Termasuk mencampuri hari raya kemenangan atau Idul Fitri itu sendiri. Padahal jika dirasakan, justru umat Islam itu sendiri yang rugi besar. Karena tidak ada ketegasan dari para pemimpin, itu pangkalnya!

"Pemimpin kita harus tegas dan tidak boleh tawar-menawar dalam masalah hukum Islam. Hukum Islam itu bukan Nabi Muhammad yang membuat, tetapi Allah yang menentukan. Rasulullah hanya sebagai perantara penyampaian hukum Allah itu," tegas Ustaz Basir Daeng Masabbi seperti  yang aku baca di media.

"Tidak ada solusi lain kecuali mengikuti keputusan ulama yang shahih dari Arab Saudi. Kita harus melakukan hal ini agar selamat di dunia dan akhirat. Sebab mereka di sana yang selalu kita ikuti," imbuh Ustaz Basir Daeng Masabbi.

Islam di Indonesia harus melangsungkan Idul Fitri  mengikuti Arab Saudi. Sebab Madinah dan Makkah itu sendiri merupakan kiblat (pijakan) yang tidak bisa ditawar lagi. Jika Pemerintah salah menetapkan Idul Fitri, maka Pemerintahlah yang harus memikul dosanya.

Imam sudah bertakbir dan aku segera berniat.

"Ushalli sunnatal li'iidil fitri rak'ataini (imamam/makmumam) lillahita'aalaa"
"Aku niat shalat idul fitri dua rakaat (imam/makmum) karena Allah Ta'ala"

Aku menjawab takbir tambahan.

Subhaanallaah wal hamdulillaahi wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar.
"Maha suci Allah dan segala puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah itu Maha Besar"

Ya Allah.... benarkah ini 1 Syawal yang engkau ridhoi?

Puri Sunyi , 30 Agustus 2011.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.