Monday, August 29, 2011



SHOLATKU INGAT JANUR
Oleh: Heru Supanji

Walau semua orang sepakat lebaran Idul Fitri jatuh pada 1 Syawal 1432 H, tapi semua masih simpang siur mengenai hari apa tepatnya. Penentuan hari lebaran sepertinya selalu menuai perbedaan, dan celakanya kita selalu mengagung-agungkan perbedaan untuk menutupi hukum yang banci. Kita dibuat terlena semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tidak ada ketegasan dari pemerintah, itu intinya!

Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cerdik Pandai mestinya sebagai Tigo Tungku Sajarangan  semestinya lebih punya wibawa untuk menetukan hitam putih negeri dan bangsa ini. Ninik Mamak suaranya sudah dianggap suara kampungan dan tidak mewakili moderenisasi di era global. Alim Ulama dipersilakan berlomba di kancah politik agar terbebas dari membina umat, soalnya segelintir elit politik yang menjadi penguasa di pemerintahan menginginkan umat bodoh sebanyak mungkin untuk melanggengkan jabatannya. Cerdik Pandai juga hanya pintar mengkritisi jalannya pemerintahan tanpa bisa memberi jalan keluar, lihat saja dengan reformasi yang digulirkan dengan biaya yang luar biasa?

Adat dan tradisi yang masih dipegang teguh dari warisan Tigo Tungku Sajarangan dan nyaris tidak mengalami sentuhan modernisasi tinggal satu, ketupat lebaran. Lihat saja dimana-mana bentuk ketupat relatif sama.

Ketupat adalah sejenis makanan yang terbuat dari nasi dan dibungkus oleh daun kelapa muda atau dikenal juga dengan janur. Umumnya ketupat identik sebagai hidangan spesial lebaran, tradisi ketupat ini diperkirakan berasal dari saat Islam masuk ke tanah Jawa.

 Dalam sejarah, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada masyarakat Jawa. Beliau membudayakan dua kali Bakda, yaitu “Bakda Lebaran” dan “Bakda Kupat”. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut Bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah sudah selesai dimasak, kupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan.

 Ketupat sendiri menurut para ahli memiliki beberapa arti, diantaranya adalah mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat. Yang kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Yang ketiga mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri.

Ngomong-ngomong soal janur aku jadi teringat Danurwenda, anak angkat Abah di kampung. Entah sejak kapan anak itu ada di keluarga kami, yang jelas sebelum kami anak-anaknya lahir dia sudah ada di dalam daftar keluarga. Dan entah siapa yang memulai memanggil namanya dengan sebutan Janur.

“Janur.” Kata Abah pendek, dan tidak lama kemudian Danurwenda kembali setelah beberapa saat pergi. Dia membawa daun kelapa muda yang masih berwarna kekuningan  dan bersetrip hijau pada tepinya. Seringnya Abah bilang ‘janur’ itu yang membuat kami yang waktu itu masih kecil-kecil menyimpulkan kalau dia benama “Janur”.

Kenangan kami bersama Janur ibarat dongeng seribu satu malam. Buatku figur seorang Janur mewakili ketokohan Abah kami di keluarga. Di musim hujan ketika air sungai meluap dan kami tidak bisa menyebrang, hanya Janur yang mengendong kami satu demi satu kakak beradik agar bisa pergi ke sekolah di seberang sungai. Di masa remaja, Janur juga yang sering membukakan pintu regol ketika kami pulang mengendap-endap di malam hari. Bahkan ketika kami menikah satu demi satu, Janur juga yang paling sibuk menjadi even organizer bagi perhelatan pernikahan. Janur is the best buat kami sekeluarga.

Janur menggantikan tugas kami mengurus Abah dan Umi di kampung, karena kami kakak beradik lima bersaudara merantau semua. Aku sendiri ikut suami di Sukabumi. Eik adikku yang paling cantik jadi guru di Linggau, sekota dengan adikku Wawan  yang jadi Polisi.  Endi paling dekat dengan aku karena dia di Bekasi, sedangkan Dadang ada di Jawa Timur paling jauh sendiri dari rumah kami di Talang Ratu - Palembang.

Sering dalam sholatku aku mendo’akan kesehatan orang tua kami, betapa kesepian mereka sepeninggal anak-anaknya yang tidak bisa pulang kampung walau  setahun sekalipun. Terbayang saat-saat menjelang lebaran seperti ini, ibu sibuk membuat pesanan kue-kue lebaran dan abah membuat ketupat dari janur yang dipetik dari pohon kelapa yang ada di pekarangan. Kami lima bersaudara masing-masing punya pohon kelapa satu, karena setiap anaknya lahir Abah selalu menandainya dengan menanam kitri. Tentunya yang paling sibuk lagi Danurwenda, si Janur yang harus selalu memanjat pohon itu satu demi satu untuk melancarkan bisnis Abah melayani pesanan ketupat.

“Allahummaghfirli wa liwalidayya warchamhumaa kamaa robbayaani shoghiiroo”
Yaa Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku waktu kecil.

Ya Allah, sayangi Janur… sebagai mana dia menyayangi kami sejak kecil dan tetap menyayangi Abah dan Umi kami….. berikan dia kesehatan untuk tetap menjaga orangtua kami.

Ampunkan kami ya Abah dan Umi…. Ampunkan kami duhai Janur….. mungkin lebaran tahun depan atau tahun depannya lagi kami baru bisa pulang kampung, atau tidak pernah sama sekali? Entahlah….

Puri Sunyi, 29 Agustus 2011 

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.