Tuesday, August 30, 2011

SHOLATKU INGAT MUDIK


SHOLATKU INGAT MUDIK
Oleh : Heru Supanji

Itu perjalan mudik paling tidak menyenangkan sepanjang sejarah. Adik-adik pasti mencatatnya dalam hati dan tidak akan melupakannya sepanjang hidupnya. Aku yakin begitu, karena kenangan perjalanan itu juga berbekas di hatiku.

Ketika bus mulai melaju, adik kami menangis minta turun karena pengap dan merasa tidak bisa bernapas karena terhimpit. Sebagian penumpang memandangi kami bergantian, dan aku pura-pura tidak tahu kalau mereka perhatikan.

Sambil menunggu bus di terminal tadi, kami  benar-benar mirip pengungsi dengan seabreg bawaan. Aku anak yang paling besar membawa pakaian bekas tapi masih layak pakai yang di buntal taplak meja, adikku bertugas membawa kantong plastik dengan dua kaleng biskuit di dalamnya. Adikku yang lain menjagai tas besar bawaan Bapak  yang berisi pakaian kami semua untuk ganti selama di udik. Lalu adikku yang bungsu hanya bisa bawa bantal kumalnya yang memang harus dibawa-bawa kalau kami bepergian, dia hanya bisa tentram kalau bisa memeluk bantal itu.

Bus yang kami tumpangi mulai melaju meniggalkan kota. Penumpang bus penuh sesak dan sebagian berdiri, kadang-kadang penumpang yang berdiri itu disuruh jongkok bila melewati beberapa Pos Polisi.

Semakin lama laju bus semakin ugal-ugalan karena berpacu dengan motor-motor yang sering menyalip tiba-tiba sehingga membuat sopir bus yang kami tumpangi naik pitam. Kejar-kejaran seperti itu baru berehenti setelah di jalan didapati banyak lubang disana-sini dan mirip kubangan kerbau.

Sampai di terminal tujuan disambut hujan cukup deras. Belum sempat bernapas lega kami sudah harus tergopoh-gopoh mencari tempat bernaung. Lagi-lagi kami menunggu mobil berikutnya yang akan membawa ke kampung nun jauh. Kami tidak mendapat tempat duduk dan terpaksa berjejer di emperan terminal sambil terkena tempias hujan yang terbawa angin.  

Kuseka leleran air hujan di rambut dan pipi adiku dengan sapu tangan. Kulihat ibuku juga melakukan hal yang sama pada adik kami yang lain. Aku memandang nanar wajah ayah dan ibuku yang sabar, sebagian bajunya basah kena hujan. Kulihat  wajah adik-adikku  yang kelelahan dan lapar. Mereka menatapku dengan iba, hatiku bergetar.

Darah menggelegak di jantungku, dadaku berdegup kencang. Aku mulai marah pada diriku sendiri akan nasib malang mereka. Aku mengutuk diriku sendiri dan betekad untuk  bisa menyediakan sekedar mobil butut untuk tumpangan mereka.

“Makan bakso yuk  biar perutnya hangat.” Tawarku untuk mengurai kebekuan. Adik-adik menggeleng, selama ini mereka nyaris tidak suka jajanan seperti itu karena setiap pagi kami dipaksa makan kenyang agar tidak jajan di sekolah. Uang saku kami  hanya pas untuk berangkat dan pulang sekolah.

Ya Allah, kemiskinan mendera kami dengan keras serta sarat dengan lapar dan dahaga. Tapi justru kemiskinan itu pula yang membuat kami sabar dan tawakal.

Kini empat puluh tahun telah berlalu, adik kami yang dulu selalu membawa bantal kumal kemanapun dia pergi sekarang berada di Afrika tergabung dalam Pasukan PBB untuk misi Perdamaian. Kakaknya yang dulu betugas menjagai bawaan ayah sudah berkeluarga dan hidup bahagia dengan suami dan anaknya. Adikku yang paling dekat, sebentar lagi lulus sertifikasi sebagai guru dan akan makmur hidupnya. Sementara aku…. karyawan rendahan di sebuah pabrik milik teman dan seorang suami dari seorang penjual gado-gado yang cantik…. Alhamdulillah, aku juga buruh ronda malam.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh…., assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh…” , aku mengucap salam dan mengusap wajahku.

Ya Allah…. pipiku basah, tapi bukan karena hujan. Aku rindu untuk mudik seperti empat puluh tahun lalu…. Tapi kapan? Tanggal 1 Syawal 1432 H yang jadi bahan perdebatan baru saja diputuskan, dan itu berarti lusa karena hilal senja ini tidak nampak di ufuk.

Puri Sunyi, 30 Agustus 2011 

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.