Sunday, September 11, 2011

AKU MAU JADI PAHLAWAN KORUPTOR BIAR PUNYA DUIT SELANGIT!!!


SATIRE:

AKU MAU JADI PAHLAWAN KORUPTOR BIAR PUNYA DUIT SELANGIT!!!
Oleh: Heru Supanji

Pemberian subsidi harus diubah. "Janganlah memberikan subsidi kepada orang yang mampu," tegasnya saat ditemui sahabatnya di dangau selepas istirahat makan siang.

Pak Tua menghitung, subsidi BBM mencapai lebih dari Rp 100 triliun setiap tahun itu adalah pemborosan anggaran negara karena lebih banyak dinikmati orang kaya. "Subsidi BBM itu harus dikurangi dan dialihkan untuk program kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang menjadi tujuan utama semua negara," terangnya.

Subsidi BBM khusus untuk pertamax harus dihentikan total lalu diarahkan pada pembangunan infrastruktur dan program gas murah untuk masyarakat kurang mampu. "Kita harus mencari apa yang paling boros di negeri ini? Yang paling boros di negeri ini adalah memberikan subsidi kepada yang tidak betul," ucapnya.

“Kenapa tidak ada yang punya inisiatif mengusut pengembalian aset negara untuk mensejahterakan rakyat?”, tanyaku sambil menatap Pak Tua itu, begitu aku memanggilnya seperti dia pinta saat pertama kali berkenalan. Sampai sekarang aku masih tidak tahu nama aslinya.

Pak Tua tercenung sesaat, mungkin pertanyaanku mengusik hatinya.
“Selama ini tidak pernah dilaporkan ada aset negara yang dikembalikan oleh para koruptor negeri ini.” Kataku ragu sambil menatap Pak Tua.

“Hitung berapa  kerugian negara akibat raibnya aset negara tersebut?” kataku setelah yakin Pak Tua memberikan kesempatan aku menuntaskan kalimat ketidak puasan.

Pak Tua menghela napas dalam. Matanya menerawang jauh, lalau katanya “ Komisi Pemberantasan Korupsi seharusnya membongkar semua kasus korupsi yang pernah ada. Sebut saja mantan Bendahara Partai Demokrat contohnya, Muhammad Nazaruddin. KPK menyatakan Nazaruddin sedikitnya terindikasi terlibat 31 kasus dengan nilai proyek Rp6 triliun. KPK harus menyentuh semua itu. KPK belum menyentuh semua dan  hanya baru melokalisasi kasus yang melibatkan Nazaruddin itu pada kasus Wisma Atlet. Nazaruddin dibuat menjadi common enemy oleh KPK."

Pak Tua menyeruput kopi dari cangkir stainless steel, aku menunggu sambil membersihkan gagang cangkul. Pak Tua mengambil singkong bakar dan menggigitnya, beberapa saat kami saling diam.

“Dari 31 proyek diduga melibatkan BUMN bidang konstruksi. Namun, KPK belum menyentuh pihak lain selain Nazaruddin.  Seperti Hambalang itu, semua harus dibongkar. Kode etik yang dibuat KPK itu membatasi kasus-kasus yang lain. Cobalah ditetapkan salah satu direktur BUMN itu sebagai tersangka, pasti dia akan bernyanyi." Ujarnya.

Sebelumnya aku pernah dengar saat Pak Tua bicara dengan temannya bahwa sejumlah BUMN konstruksi pernah berkerja sama dengan Nazaruddin. Nilai proyeknya mencapai Rp3,7 triliun. Aku membayangkan uang itu sebanyak apa, dan hatiku tiba-tiba tertawa saat aku ingat anakku yang punya cita-cita ingin punya uang selangit.

"KPK tidak boleh melakukan tebang pilih dan berhenti melakukan pemeriksaan kasus korupsi hanya pada Wisma Atlet. Ini perlu supaya memberikan efek jera bagi pemain proyek," ujar sahabat Pak Tua setelah sekian lama hanya mengangguk-angguk saja. Pak Tua menyenderkan bahunya sebagai pertanda siap menyimak lebih jauh.

‘Permainan mulai memanas dan berubah seperti anak kecil yang bermain “Ayahku yang terbaik”. Itu, sejenis permainan yang sebenarnya menjelek-jelekan orang lain untuk membuat bapak kita nampak baik.” Kata Sahabat Pak Tua.  

Menurut berita, Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin terus menuding Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Chandra M. Hamzah pernah menghadiri sejumlah pertemuan dengannya. Tak cuma itu, dia juga menuding Chandra menerima sejumlah uang darinya. Tapi hingga saat ini, Chandra tak sekali pun mengomentari berbagai tudingan itu.

Ternyata, sikap diamnya itu dilakukan atas dasar keputusan Rapat Pimpinan KPK beberapa waktu lalu. Rapat memutuskan agar Chandra tidak menyampaikan apapun ke media massa, hingga kasus dugaan pelanggaran kode etik ini beres diperiksa Komite Etik KPK.

Nazaruddin menuding keterlibatan Chandra dalam proyek pengadaan baju hansip dan e-KTP yang menurutnya bernilai sekitar Rp7 triliun. Disamping itu, dia menyatakan bahwa dia dan Chandra pernah bertemu sebanyak lima kali di tempat yang berbeda. Dua di antaranya berlangsung di rumah Nazaruddin.

Aku berpamitan pada Pak Tua dan sahabatnya, sambil memanggul cangkul di bahu kanan aku melangkah pulang. Terngiang teriakan polos anakku yang masih lugu dalam kostum super hero, telanjang dada dan hanya bercawat serta memakai sayap handuk selepas mandi tadi pagi.

“Aku mau jadi pahlawan koruptor biar punya duit selangit!!!”, tinjunya yang kecil teracung ke langit.

Puri Sunyi, 11 September 2011

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.