Monday, September 19, 2011

ETIKA MELAWAK



Tidak diketahui secara pasti, sejak kapan manusia senang berseloroh, bercanda atau humor. Belakangan ini acara lawakan semakin marak di televisi. Maka tidak mengherankan bila acara-acara yang berbau komedi mendapat tenpat tersendiri, bahkan pemirsa televisi ada yang hanya mau menonton acara komedi saja. Sepertinya lawakan atau komedi menjadi menu pendongkrak rating.

Pengaruh acara komedi terhadap pemirsa televisi sangat signifikan. Nyaris semua ucapan/seloroh yang dilontarkan seorang komedian akan diduplikasi oleh para fans hanya bertaut waktu sehari setelah acara ditayangkan.

Mengingat betapa besar pengaruh yang akan ditimbulkan akibat lawakan ini maka komedian dituntut tidak asal bunyi dan asal lucu. Hal tersebut agar tidak membahayakan diri sendiri selaku komedian atau juga orang lain sebagai penikmat komedi.

Komedian, saat ini sudah menjadi salah satu profesi yang menjanjikan. Profesi yang bisa mendatangkan uang dalam jumlah tak terhingga, seperti beberapa media mengabarkan ada komedian yang memiliki penghasilan satu milyar perbulan. Jumlah yang sangat fantastis! Mungkin kelak di kemudian hari akan ada jurusan di perguruan tinggi yang membuka program studi atau sekurang-kurangnya konsentrasi bidang humorologi. 


Bagi anda yang ingin mencoba profesi baru sebagai komedian ada baiknya mempelajari etika melawak, seperti uraian berikut:

Dr Yusuf Qardawi meletakkan lima etika yg perlu dipatuhi dalam bergurau senda:


Pertama:
Tidak menggunakan perkara yang bohong sebagai alat untuk manusia tertawa.

Nabi saw bersabda:  Celaka orang yang bercakap kemudian berbohong supaya manusia ketawa. Celakalah dia dan celakalah dia. (Hr Ahmad dan ad-Darimi – sanadnya sahih)

Kedua:


Gurauan tidak mengandungi penghinaan terhadap orang lain melainkan diizinkan oleh orang tersebut.

“ Wahai orang-orang yang beriman janganlah satu puak itu menghina puak yang lain, kemungkinan orang yang dihina lebih baik dari orang yang menghina. Janganlah wanita menghina wanita yang lain , kemungkinan wanita yang dihina lebih baik baik dari yang wanita menghina… “ ( 11 : al-Hujarat) 

Nabi saw bersabda: “Cukuplah seorang itu melakukan kejahatan apabila dia menghina saudaranya semuslim.”
(Hr Muslim – sahih)



Termasuk dalam menghina ialah dengan meniru perbuatan orang lain.

Aisyah ra berkata “Aku telah meniru perbuatan seorang manusia.” Lalu Rasulullah saw bersabda

“Aku tidak suka meniru perbuatan orang lain.” (Hr Ahmad dan Baihaqi – sanad sahih)

Ketiga: 
Melawak yang tidak menakutkan orang lain. 

Nukman bin Basyir ra berkata: Sesungguhnya kami bersama Rasulullah saw dalam satu perjalanan. Seorang lelaki mengantuk di atas tunggangannya. Seorang lelaki yang lain mengambil anak panah dari busurnya dan mengejutkan lelaki yang mengantuk yang menyebabkan dia terperanjat.

Rasulullah saw bersabda

“Haram bagi seorang lelaki menakutkan orang Islam. (Hr Thabrani – sahih)

Nabi saw bersabda

“ Janganlah kamu mengambil barang kepunyaan saudara seislamnya dengan niat melawak atau pun betul-betul.”  (Hr Ahmad – sahih)

Keempat:
Jangan melawak ditempat yang serius dan jangan serius di tempat melawak.


Dalam Islam ada 3 perkara yang dianggap diambil hukumnya walaupun dalam keadaan melawak. Nabi saw bersabda:

“Tiga perkara yang mana yang mana diambil hukumnya sama ada dalam keadaan melawak atau serius:
1. Nikah
2. Cerai
3. Membebaskan hamba.
(Hr Abu Daud, at-Tirmizi dan Ibnu Majah – sanadnya hasan)

 Sesungguhnya Allah telah mencela orang-orang musyrikin yang ketawa ketika mendengar al-Quran. Firman Allah swt: “Adakah kamu hai musyrikin rasa hairan dengan ayat-ayat suci al-Quran? Kamu ketawa ketika mendengarnya, tidak menangis ketika mendengarnya dan kamu dengar dalam keadaan lalai.” (59 – 61 : an-Najm)

Kelima:
Hendaklah melawak sekadar perlu dan tidak berlebihan.

Nabi saw bersabda:
“Janganlah kamu banyak ketawa. Sesungguhnya banyak ketawa boleh mematikan hati.” (Hr Ahmad dan Ibu Majah – sanad hasan)

Saidina Ali ra:

“Masukkan lawak dalam kata-kata sekadar kamu memasukkan garam dalam makanan kamu.”

Said bin al-‘As berkata:“Bersederhanalah dalam melawak. Berlebihan dalam melawak akan menghilangkan keindahan dan menyebabkan orang-orang yang bodoh akan berani terhadap mu. Meninggalkan melawak akan menjauhkan orang-orang yang hendak bermesra dan menyebabkan orang-orang yang berdamping dengan mu berasa rimas.”

Rujukan: Tafsir Sobuni , sahih muslim, Mawahib al-Laduniah bi syarh asSyamail alMuhammadiah oleh syeikh sulaiman Jamal dan Feqhul Lahwi wat Tarwih oleh Dr Yusuf Qardawi.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.