Friday, September 30, 2011

Hella Haasse 'Oeroeg' Tutup Usia


Penulis Novel Kolonial 'Oeroeg' Tutup Usia


Indonesia menduduki tempat penting dalam karyanya. Dia dilahirkan di Batavia - nama Jakarta pada zaman kolonial Belanda - 2 Februari 1918, Ibunya seorang pianis bernama Katherina Diehm-Winzenhohler, dan ayahnya seorang inspektur keuangan pemerintahan kolonial Belanda bernama Willem Hendrik Haasse. Pengalaman masa muda di Hindia Belanda tak pernah lepas dari kehidupan penulis tenar Belanda ini. Indonesia adalah tanah airnya. Walaupun Hella Haasse juga mengatakan, ia selalu merasa asing di negeri kelahirannya.

Tulisan Hella Haasse sudah puluhan tahun digemari publik luas Belanda. 'Ratu' sastra Belanda ini (93 tahun ) tutup usia Kamis malam (29/09/11) di kediamannya di Amsterdam.Hella Haasse meninggalkan kumpulan karya besar, hasil tulisannya selama bertahun-tahun.

Haasse menulis karya pertama tahun 1948, Oeroeg, yang mengisahkan persahabatan antara anak Indonesia dan anak Eropa. Novel pertama Haase, "Oeroeg" (baca: Urug), langsung populer, dan menjadi bacaan wajib anak-anak sekolah di Belanda, dari generasi ke generasi. Novel yang ditulis saat Haase baru berusia 30 tahun, menceritakan tentang persahabatan sejati dua anak, satu putra keluarga Belanda yang menjajah Indonesia. Lainnya, bocah pribumi. Persahabatan mereka diuji di masa revolusi, ketika Belanda ingin menggagalkan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945. Persahabatan berakhir ketika anak Indonesia itu bergabung dengan pejuang kemerdekaan.

Buku tersebut bertahun-tahun masuk daftar karya sastra paling populer di kalangan anak-anak sekolah Belanda.Di buku-buku lainnya, Haasse mencatat sejarah Indonesia, seperti 'Heren van de Thee' (Juragan Perkebunan Teh, terbit 1992) mengenai perkebunan teh. Untuk itu ia mempelajari pelbagai arsip dan tulisan, suatu kebiasaan yang dilakukannya sebelum menulis roman berlatar-belakang sejarah.

Karya Haasse telah diterjemahkan dan dipublikasikan di 90 negara. Ia meraih hampir semua penghargaan karya sastra Belanda. 'Oeroeg' bahkan difilmkan pada 1993, dengan judul sama dengan novelnya. 

Novel 'Oeroeg" menjadi menarik karena kaya penggambaran situasi Indonesia di zaman itu: keadaan alam, kehidupan keluarga Belanda dan pribumi, rumah-rumah penduduk pribumi dan Belanda, ia gambarkan dengan begitu detail dan memikat.

(Sumber:Washington Examiner,VIVAnews, RNW Indonesia)

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.