Monday, September 26, 2011

KAKEK SAKIT GIGI, JANGAN MAIN MERIAM BULUH!!!


Satire: Heru Supanji

Sudah beberapa hari ini kakek lebih banyak diam dan mendengarkan. Tutup mulut mungkin membuatnya lebih nyaman daripada terlalu harus banyak bicara yang  membuat giginya senut-senut.

Kegaduhan sekecil apapun yang terdengar di telinga kakek membuat jantungnya memompa darah lebih deras ke seluruh tubuh. Semakin keras degup jantung, semakin keras senut-senut digiginya. Akibatnya kami terpaksa harus berbicara pelan-pelan, kadang terpaksa hanya berbisik-bisik.

Kami tidak boleh membuat Kakek tambah pusing dengan menanyakan kabar Kak Nazar atau Kak Nunun, Kakek sudah pusing dengan urusan KUD. Adalagi hal lain yang membuat Kakek tambah semakin pusing, urusan mafia pilkades.

Beberapa teman Kakek yang dulu menjadi tim sukses di pilkades yang lalu menuntut giliran ikut merasakan dan mengolah sawah bengkok sebelum jabatan Kakek berakhir. Sejak Kakek menjabat lagi menjadi Kepala Desa, sawah bengkok desa kami memang sudah menjadi rahasia umum dikelola dan dinikmati hasilnya oleh teman-teman Kakek itu.

Masalah sawah bengkok timbul mengingat masih ada beberapa teman Kakek yang merasa berjasa tapi belum mendapat kesempatan mengembalikan modal waktu mendukung pilkades dulu. Teman-teman Kakek khawatir pengganti Kakek tidak mempersilahkan mereka mengelola sawah bengkok. Beberapa dari mereka memaksa Kakek memperpendek masa kelola sawah bengkok agar yang belum bisa segera menggarap dan ikut menikmati.

Hari itu tidur siang Kakek terganggu keributan anak-anak yang bermain meriam buluh. Rupanya beberapa teman-temanku masih menyimpan karbid sisa bulan Ramadhan kemarin dan diam-diam menyalakannya di sawah belakang rumah kami. Kakek memintaku untuk menghentikan teman-teman bermain meriam buluh.

“Kakek sakit gigi, jangan main meriam buluh!!!” Begitu aku menegaskan teman-teman agar berhenti membuat keributan. Teman-teman sepakat berhenti karena memandang Kakek sebagai sesepuh, bukan karena takut padaku.... hehehee...

Teman-teman membawa pergi meriam buluh, entah kemana. Sampai tiba-tiba aku mendengar lagi ledakan lebih keras, dan kakek memandangku dengan tidak suka. Aku tahu Kakek murka.

Aku bergegas ke arah suara dari seberang sungai. Terlambat untuk dihentikan, salah satu temanku terkapar bersimbah darah dekat meriam buluh yang hancur berkeping-keping. Teman-teman yang lain entah dimana.

Aku Cuma bisa berbisik, ”Kakek sakit gigi, jangan main meriam buluh!!!”  

Puri Sunyi, 26 September 2011

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.