Thursday, September 22, 2011

ROK MINI BUKAN KAMBING HITAM


Rok Mini Betebaran di Bundaran HI



Kasus pemerkosaan bukan hanya ada di Jakarta, perkosaan ada dimana-mana di belahan bumi ini. Yang unik dari kasus perkosaan di Jakarta ternyata 'Rok Mini' dianggap sebagai biang keladi. Dalam hal ini jelas  kaum hawa yang gemar memakai rok mini enggan disalahkan jika pakaiannya memicu aksi pemerkosaan.

Tidak mau disalahkan puluhan perempuan dengan mengenakan rok mini menggelar aksi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu 18 September lalu. Aksi digelar sebagai bentuk pernyataan tidak suka atas Polemik kaitan antara busana dan motif munculnya perkosaan terus menggelinding. Mereka keberatan jika busana dijadikan alasan tingginya angka perkosaan karena sama saja melindungi pemerkosa.
Demo tersebut sebenarnya dipicu oleh dua kejadian yang mereka anggap tidak peka terhadap perasaan perempuan. Pertama, mengenai komentar Gubernur Jakarta Fauzi Bowo yang menyebut perkosaan di angkutan umum muncul karena gaya busana mini. Kedua, Bupati Aceh Barat Ramli Mansur yang mengatakan perempuan berbusana minim seakan minta di perkosa.

Dengan memakai rok mini, mereka juga membawa berbagai spanduk berisi kecaman terhadap pihak-pihak yang memusuhi perempuan dengan pakaian mini. Seperti: My rok is my right (rok saya adalah hak saya), Don't tell us how to dress. Tell them not to rape (jangan ajari kami bagaimana berpakaian, tetapi katakan mereka untuk tidak memperkosa).
 "Jangan salahkan rok mini kami. Salahkan otaknya," ujar salah seorang orator.

"Yang mini bukan rok kami tapi otak kalian," teriak peserta lain.

Kelompok Perempuan Menolak Perkosaan (KPMP) mengatakan jika pihaknya tidak sepakat dengan ucapan para birokrat. Malah, hal itu memicu polemik karena bias gender karena lagi-lagi perempuan dikesampingkan. Mereka mengecam pejabat yang sembrono memberikan pendapat yang justru menyudutkan para perempuan. Perkataan mereka menistakan korban yang membutuhkan pertolongan dan perawatan fisik, social secara utuh. Ujung-ujungnya, pejabat sibuk mengkritik perempuan tetapi pelakunya bebas.

Dalam demo itu, mereka sepakat bahwa perkosaan muncul bukan hanya masalah rok mini atau pakaian ketat. Mereka lantas mengambil contoh perkosaan di Aceh yang wilayahnya menggunakan syariat Islam. Disana, perkosaan tetap terjadi walau korbannya sudah menutup badannya. "Kalau otaknya porno, ya porno saja," imbuhnya.

Mereka juga menyebut dengan lantang statistic perkosaan yang ada sepanjang 2011 hingga September ada 3,753 kasus. Khusus di Jakarta ada 41 kasus dan mencuat tiga kasus perkosaan di angkutan umum. Dari data tersebut, mereka yakin jika semua itu terjadi tidak hanya karena urusan berpakaian.




Sumber: 

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.