Sunday, September 11, 2011

RUMPUT QATAR LEBIH LICIN DARI RUMPUT BAHRAIN


RUMPUT QATAR LEBIH LICIN DARI RUMPUT BAHRAIN
(selalu ada kambing berbulu hitam)

Oleh: Heru Supanji

 Siapa yang tidak kenal pelatih kepala tim nasional Indonesia, Wilhelmus Gerardus Rijsbergen. Sebagian pecinta bola tanah air mendidih darah dikepalanya bila mendengar nama itu.

Usai Indonesia ditekuk Bahrain 0-2 di pertandingan kedua putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia (PPD) 2014 zona Asia, Selasa (6/9), kecaman dan kritik pedas melayang ke PSSI dan paling utama ialah pelatih Wim Rijsbergen. Sebelum ditekuk Bahrain, Indonesia dibungkam Iran dengan skor 3-0 malah.


Rijsbergen dinilai banyak kalangan tidak mampu mengolah potensi dan kemampuan Firman Utina dkk. Orang-orang semakin kesal dengan Rijsbergen yang menyalahkan anak asuhnya saat jumpa pers pasca pertandingan kedua Grup E tersebut.

"Mereka bukan tim saya. Mereka bukan pemain pilihan saya. Tim ini tidak siap berlaga di level internasional seperti ini," cetus pria Belanda tersebut.

Ada  berbagai saksi bahwa pelatih menghina pemain saat turun minum melawan Bahrain. Dia berteriak "f*ck you all, apabila kalian tidak bermain baik di babak kedua saya akan tendang kalian semua dari tim ini (If you don't play better in the second half I will kick all of you out). Bukan main tapi sungguh nyata!

Lalu desakan pun muncul kepada PSSI untuk memecat Rijsbergen dan menggantinya dengan sosok Rahmad Darmawan atau Alfred Riedl, yang sebelumnya 'dibuang' PSSI. Tapi apakah situasi akan membaik apabila Rijsbergen dipecat? Bukankah  Indonesia akan kembali menjalani pertandingan ketiga putaran ketiga PPD 2014 zona Asia melawan Qatar pada 11 Oktober 2011 nanti?

Dengan waktu yang sangat singkat, mustahil timnas akan meraih hasil bagus saat menghadapi Qatar jika ada pergantian pelatih. Pelatih yang baru, siapa pun dia, butuh adaptasi yang cukup. Begitupula para pemain.

PSSI sudah semestinya  tetap mempertahankan Wim Rijsbergen sampai timnas benar-benar melewati semua pertandingan putaran ketiga kualifikasi PPD 2014 zona Asia. Sembari tetap menekankan profesionalisme kepada Rijsbergen.

Beberapa waktu lalu  PSSI mengajak Rijsbergen, staf kepelatihan dan seluruh anggota timnas duduk bersama membicarakan masalah yang ada dan mencari jalan keluarnya.  Rijsbergen mengungkapkan rasa kecewa dengan dua hasil yang diraih timnya, begitupula Bambang Pamungkas dkk.

Setelah dilakukan evaluasi ternyata kesalahan bukan pada pelatih dan para pemain yang tidak bisa bermain bola. Masalah utama ada pada rumput yang licin.

Rumput lapangan Gelora Bung Karno adalah  jenis rumput yang digunakan di lapangan bola luar negeri, yaitu jenis rumput matrela tropis. Rumput lapangan sepak bola Gelora Bung Karno atau GBK  harganyanya  antara Rp 3 miliar dan Rp 3,5 miliar.

Rupanya TIMNAS sudah merusak peribahasa ‘rumput di tetangga lebih hijau dari rumput sendiri, menjadi  rumput tetangga juga ternyata tidak enak!’ Dan itu di buktikan, selalu kalah di mana mana. Mereka berkilah  rumput di Iran jelek, padahal ternyata di GBK juga kalah.

Ini kesimpulan sementara jawaban yang desepakati sebagai  alasan bila nanti kalah saat menghadapi Qatar:

“RUMPUT QATAR LEBIH LICIN DARI RUMPUT BAHRAIN”

Puri Sunyi, 12 September 2011

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.