Monday, September 5, 2011

"AKU TAK TAHU MANA YANG TANGAN KIRI MANA YANG TANGAN KANAN"

SATIRE:


Oleh: Heru Supanji

Selalu ada perkerjaan kotor yang harus selalu dilakukan oleh setiap orang. Siapapun dan apapun orang itu pasti berususan dengan dua hal, kalau tidak bersih ya dengan yang kotor itu tadi.

Permasalahannya, siapa yang harus mengerjakan pekerjaan kotor itu?

Seorang anak kecil yang masih belum mengerti apa-apa atau katakan saja belum mengenal fungsi kedua tangan kanan dan kirinya dengan baik sudah dapat dipastikan dia akan meminjam tangan orang lain untuk membersihkan bokongnya. Jangankan bokongnya yang jauh dari pandangan matanya, ingus yang nemplok di hidungnya saja atau kotoran mata di sudut matanya saja mesti tangan ibunya yang membersihkan.

Sesuatu akan nampak kotor dan bersih itu hanya soal penglihatan, penciuman dan pendengaran. Semua yang tidak terlihat jelek, tidak tercium busuk dan tidak terdengar memuakkan sudah dipastikan mendapat predikat ‘bersih’. Begitu juga dengan sebaliknya, semua yang tidak terlihat tidak jelek, tidak tercium tidak busuk, dan tidak terdengar tidak memuakkan sudah dapat dikatakan tidak tidak bersih.

Bingung kan? Emang membingungkan, sebingung tangan kiri yang bertukar tempat dengan tangan kanan. Semestinya tangan kiri mengerjakan semua hal yang kotor-kotor dan tangan kanan mengerjakan semua hal yang bersih-bersih saja. Jangan bicara soal keadilan, justru ini keadilan yang pantas.

Lalu apa yang tidak pantas?

Pantasnya tangan kanan tidak menyerahkan tanggung jawab ke tangan kiri sehingga tangan kiri lebih menonjol dari tangan lainnya. Begini jelasnya:

Diketahui, sebuah telegram rahasia mengungkapkan bahwa mantan Kapolri yang kini menjadi Kepala BIN, Jenderal (Purn) Sutanto, adalah tokoh yang telah mendanai FPI.

Pendanaan dari Sutanto itu diberikan sebelum serangan yang dilakukan FPI ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Februari 2006 silam. Namun kemudian Sutanto menghentikan aliran dananya setelah serangan terjadi.

"Yahya Asagaf, seorang pejabat senior BIN mengatakan, Sutanto yang saat itu menjadi Kapolri menganggap FPI bermanfaat sebagai ‘attack dog’,” ungkap telegram rahasia yang dipublikasikan oleh Wikileaks itu.

Saat pejabat kedutaan AS menanyakan manfaat FPI memainkan peran ‘attack dog’ itu, karena sebenarnya polisi sudah cukup menakutkan bagi masyarakat, Yahya menjelaskan bahwa FPI digunakan sebagai ‘alat’ oleh polisi, agar petugas keamanan itu tidak menerima kritik terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia. Disebutkan juga bahwa mendanai FPI adalah sudah tradisi di lingkungan Polri dan BIN.

Kawat diplomatik yang dipublikasikan Wikileaks juga mengatakan bahwa FPI mendapatkan sebagian besar dananya dari petugas keamanan, tetapi mereka harus menghadapi pemotongan dana setelah serangan dilakukan.


Bocoran Wikileaks juga mengatakan bahwa mantan Kapolda Metro Jaya, Komjen (purn) Nugroho Djajusman, sebagai tokoh yang ‘dihormati’ di lingkungan FPI.

Semakin bingung kan? Jadi aku simpulkan saja biar singkat:

" AKU TAK TAHU MANA YANG TANGAN KIRI  MANA YANG TANGAN KANAN"

Puri Sunyi, 6 September 2011

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.