Saturday, September 3, 2011

FATWA MMI : MUDIK HARAM BAGI YANG TIDAK MAMPU

SATIRE:


FATWA  MAJELIS MUDIK INDONESIA :
MUDIK  HARAM  BAGI  YANG TIDAK MAMPU

Oleh: Heru Supanji

Hanya di Indonesia ada tradisi unik yang selalu menelan korban; MUDIK. Oleh karena itu kemudian timbul kelompok masyarakat yang menamakan diri Majelis Mudik Indonesia, semacam LSM yang bergerak di bidang sosial. Petugas mereka tersebar di sepanjang jalur mudik, mulai dari tempat penyebrangan kapal/fery sampai di tiap perempatan atau pertigaan jalan. Dengan bantuan mereka sepertinya aparat Polisi sangat terbantu tugasnya.

Mudik artinya pulang ke udik. Walau jelas mereka datang dari udik jangan coba-coba berkata ‘dasar orang udik’ kepada mereka. Harga diri mereka sudah sangat tinggi karena sentuhan metropolitan. Aku lebih suka menyebut mereka ‘kaum urban’, dan nyata sebutan ini membuat mereka nampak bersahabat. Walau kadang ada juga dari mereka yang kurang bersahabat karena memilih jalan pintas untuk mengejar kemewahan ibu kota.

Siang itu di Pos Kamling yang disulap jadi Posko Mudik dan pangkalaln ojek. Aku disambut teman-teman yang bertugas jaga, mereka membawakan barang-barang yang diturunkan dari bagasi bus. Sementara istriku menepi dan berteduh di Posko Mudik.

“Korban Mudik Lebaran sampai tanggal 1 September 2011 adalah: Meninggal 490 orang, luka berat 729 orang dan luka ringan 1.864 orang, kecelakaan sebanyak 2.773 kejadian. “ Mang Dadan membuka pembicaraan sambil tetap mengawasi arus balik yang kian  padat merayap.

“Kejadian bom Bali, dengan korban sekitar 200-an telah memacu pemerintah menjalankan program antisipasi sampai pre-emtive dengan biaya tinggi agar tidak terulang lagi. “ Mang Dadan berhenti sejenak karena harus menyebrangkan seorang nenek dengan cucunya. Aku menyedot sebotol teh dingin yang di sodorkan istriku.

“Tapi untuk menanggulangi korban mudik, pemerintah tidak menunjukkan perhatian yang serius. Apakah karena korbannya tidak ada orang asing?” kata Mang Dadan lagi setelah berada di pos sambil mengipas-ngipas lehernya dengan topi.

Top of Form
“Ironis memang!” Pak Akhmad Noerhadi Moekri menimpali sambil mengatur motor agar tidak berebut penumpang.

“Contoh paling dekat, di Nagreg, Jurang tanpa pagar pelindung, lampu-lampu tidak menyala karena sistem belum selesai, rambu dan marka belum lengkap. Tapi diresmikan secara lengkap, ada bupati, gubernur dan presiden.” Mang Dadan memaparkan lebih jauh.

“Hal ini mestinya diblow up oleh mass media.” Kata Pak Akhmad Nurhadi  Moekri sesaat setelah motor ojek berangkat. “ Ke mana mereka? “ tanyanya.

“Kalau semua mass media hanya dighunakan untuk kepentingan politik tertentu. Sementara pemerintah juga tidak peduli. Power people seharusnya menjadi pilihan.” Lanjut Pak Akhmad Nurhadi Moekri berapi-api.

“Terlalu mewah memang untuk ngurusin begituan...!” timpal  Hendiw Eto'o seorang ketua pemuda  yang siang  itu ikut bertugas pengamanan. “Maintenance  dan  pelebaran jalan saja seperti balapan dengan hari raya...”, imbuhnya setengah mengeluh.

 “Sabab kualitasna ukur tilu bulaneun, upami didangdosan awal-awal pas lebaran ruksak. Proyek infrastruktur dina diktum SPK disebatkeun masa pemeliharaan 100 hari, upami tos saratus dinten ruksak, nya dianggarkeun deui we taun payun.” Kata Mang Dadan padaku dalam bahasa Sunda.

Terpaksa aku menterjemahkan omongan Mang Dadan ke istriku yang menatapku penuh tanya. Kataku,” Mang Dadan bilang; sebab kualitasnya hanya untuk tiga bulan, kalau dikerjakan lebih awal tentu pas hari lebaran jalan sudah rusak. Pada diktum proyek infrastruktur, SPKnya menyebutkan masa pemeliharaan 100 hari, kalau sudah seratus hari rusak, ya... dianggarkan lagi saja tahun depan.”

“Kelak akan ada fatwa; Mudik haram bagi yang tidak mampu.” Kataku sambil naik salah satu motor ojek berikutnya, istriku juga naik motor ojeg yang lain.

“Pa Akhmad Nurhadi Moekri, di-blow up sudah sering hanya saja tidak di follow up; dinda Heru Supanji, Fatwa nembe berlaku di Puncak, Anu tiasa ka Puncak ukur anu numpak Van sareng Sedan, nu miskin ukur kabedag naek beus mah ka Sukabumi we.” Kata Mang Dadan sambil melambaikan tangan karena ojeg yang aku tumpangi keburu disuruh maju oleh Pak Akhmad Nurhadi Moekri.

·         Bahasa Sunda: Nembe=baru, tiasa=bisa, ukur=hanya, anu=yang, numpak=menaiki, kabedag=mampu, naek=naik

Puri Sunyi, 4 September 2011

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.