Sunday, September 4, 2011

TANYA KAKEK, PASTI DIA TAHU

SATIRE:


TANYA KAKEK, PASTI DIA TAHU
Oleh : Heru Supanji

Kakek semasa dinasnya dulu adalah seorang serdadu yang disegani. Kata Bapak di semasa sekolahnya Kakek aktif sebagai pandu. Pengalaman di gerakan kepanduan itu yang membuat karir militernya cemerlang.  Selepas pensiun Kakek dipercaya memimpin desa kami, desa tempat dia di besarkan di masa kecil hingga remaja.   

Sering di waktu senggangnya kakek mengajari kami strategi perang dan penyamaran. Layaknya serdadu di medan perang kami juga mengenakan atribut seperti serdadu sungguhan hanya tanpa senjata. Senjata yang kami gunakan hanya mulut untuk menyebut nama, walau sambil berbisik. Siapapun yang bisa dipergoki di persembunyiannya dan disebut namanya lebih dulu maka dia mati dan harus diam di sudut netral yang bisa dipandangi oleh semua orang yang sedang bersembunyi.

Keahlian Kakek bersembunyi dan melakukan penyamaran hanya bisa disamai oleh Kak Nunun dan setelah itu Kak Nazar. Mereka bertiga jago strategi, dan aku mengidolakan ketiganya. Kelak aku ingin seperti mereka juga.

Suatu hari Kak Nazar mendapat masalah dengan klub sepak bola binaan Kakek di desa kami. Dikabarkan konon Kak Nazar menggelapkan uang pembelian tanah untuk pembangunan lapangan bola yang akan  digunakan untuk kompetisi antar desa.  Ketika kabar itu sampai ke telinga Bapak, karuan saja Bapak murka. Tapi sayang Kak Nazar sudah pergi entah kemana.

Kami sekeluarga sibuk mencari keberadaan Kak Nazar yang melarikan diri karena takut dikeroyok orang sekampung. Setelah Bapak merasa putus asa, Bapak minta bantuan Kakek untuk menemukan tempat Kak Nazar bersembunyi. Kabar terakhir yang tersiar sebenarnya sejak awal Kakek sudah tahu dimana Kak Nazar bersembunyi, hanya karena simpanan Kakek yang akan dipakai Pilkades terbawa Kak Nazar maka Kakek akhirnya bersedia turun tangan dan meminta Kak Nazar pulang.

Belum selesai persoalan dengan Kak Nazar, tiba-tiba Bapak harus pusing lagi memikirkan Kak Nunun yang juga tidak pulang-pulang karena dikejar-kejar tagihan uang daging yang tidak disetor. Padahal daging seharusnya dibagikan dua hari menjelang lebaran kemarin. Hal itu juga sampai ke telinga Kakek. Tapi Kakek diam saja.

“Tanya Kakek, pasti dia tahu.” Kata hatiku penuh senyum.

Puri Sunyi, 5 September 2011

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.