Sunday, September 18, 2011

Wanita, Perkosaan, dan Rawannya Angkutan Umum

Pada 2011 di wilayah Polda Metro Jaya terjadi 40 kasus pemerkosaan. Tiga terjadi di angkot 
Kepala Biro Operasional Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Sujarno mengungkapkan, sebanyak 40 kasus pemerkosaan pada periode Januari hingga September 2011 terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Dari 40 kasus tersebut, tiga kasus pemerkosaan terjadi di dalam angkutan kota (angkot).

Kasus pemerkosaan yang dominan terjadi di perumahan biasa dengan jumlah kasus 26, kemudian di kantor 1 kali, di tempat keramaian 1 kali, di perumahan BTN delapan kali, dan real estate satu kali.

Jumlah tersebut dikatakan Sujarno lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah kasus pemerkosaan pada 2010 yang berjumlah 41 kasus dengan pemerkosaan di jalanan empat kasus.

Kejahatan seksual di atas angkutan umum Jakarta terus berulang. Yang terbaru, polisi mengungkap aksi pemerkosaan di atas angkot D-02 jurusan Lebak Bulus-Pondok Labu. Aksi laknat itu dilakukan oleh para “sopir tembak” terhadap seorang karyawati berinisial SRS (27). Polisi telah menangkap salah satu pemerkosa, Yogi. Tiga temannya, Andri, Arif, dan Sebastian masih diburu.

Di malam yang nahas itu, SRS yang baru pulang kerja turun dari Kopaja di kawasan Cilandak, Jakarta. Saat menunggu angkutan umum lain ke arah rumahnya di Pondok Gede, mikrolet D-02 jurusan Ciputat-Pondok Labu yang disopiri Yogi datang menghampirinya. SRS ditawari akan diantar sampai Pasar Rebo. Padahal, angkot ini tak melayani trayek ke arah itu.

Yogi dan seorang temannya duduk di bangku depan, sementara dua teman lainnya di bangku penumpang belakang. Baru berjalan berapa saat, para pelaku yang ada di belakang langsung menutup pintu angkot. Satu lainnya memegangi SRS yang sudah mulai curiga.

Musik di dalam angkot disetel kencang agar teriakan SRS tidak terdengar dari luar. Salah seorang pelaku, Andri alias Putaw, menyuruh korban membuka baju. Penolakan dan perlawanan SRS sia-sia saja. Dia tak berkutik ditelikung dua lelaki yang jauh lebih kuat darinya.

Malang tak dapat dicegah. Sambil dibawa berkeliling, SRS digagahi Putaw. Habis Putaw melampiaskan nafsunya, penderitaan SRS belum berakhir. Yogi yang mengendarai angkot berpindah posisi. Giliran dia memperkosa SRS.

Dalam keadaan lemah tak berdaya, SRS diturunkan para berandal itu di kawasan Ragunan, di sekitar Kompleks Marinir. Beberapa barang korban, seperti BlackBerry Gemini, ponsel Esia, uang tunai Rp700 ribu, dirampas. Dengan pertolongan warga sekitar, SRS kemudian diantar pulang ke rumah.

Semula SRS tak melapor polisi. Dua minggu kemudian, SRS mengenali wajah Yogi yang sedang mengetem di perempatan Lebak Bulus, Jakarta. Langsung dia mengadu kepada polisi lalu lintas di dekat situ. Yogi mencoba kabur, tapi tanpa ampun dia diringkus dan dihajar warga, sebelum kemudian digelandang ke kantor polisi.

Belum lama berselang, pemerkosaan di dalam angkot--yang bahkan berujung pembunuhan—juga menimpa seorang mahasiswi Universitas Bina Nusantara bernama Livia Pavita Soelistio. Pelakunya juga kawanan “sopir tembak” angkot M24 jurusan Slipi-Binus-Kebon Jeruk. Polisi sudah menangkap empat penjahat pelakunya.

Sama seperti Yogi cs., para tersangka mengaku sejak awal mereka memang sudah mempersiapkan diri untuk merampok. Mereka mengincar siapa saja wanita yang naik angkot mereka. Modusnya juga nyaris sama.

Begitu almarhumah naik angkot durjana itu, mereka meringkus dan membawanya berputar-putar. Livia yang malang lalu dibawa ke sebuah istal kuda di daerah Kemanggisan, Jakarta Barat. Di tempat inilah dia diperkosa beramai-ramai, dan tewas dibekap. 

Dalam keadaan tak bernyawa, sekitar pukul 16.30 WIB, mayat Livia dibuang di kawasan Cisauk, Tangerang, Banten. Baru pada tanggal 21 Agustus 2011, jenazahnya ditemukan dalam kondisi yang susah dikenali lagi.

Kejahatan serupa—meski tak sampai diperkosa--juga dialami seorang wanita lain di Depok, Jawa Barat, pada Jumat pagi, 31 Desember 2010 yang lalu. Kali ini menimpa Elvira Taufani, 40, warga Beji. Akan berangkat kerja, sekitar pukul 06.45 dia naik angkot D04 jurusan Kukusan menuju Terminal Depok. Tiba-tiba lelaki yang duduk di sebelahnya membekap mulut dia dan menodongkan pistol sambil mengancam akan membunuhnya jika dia melawan.

Rupanya dia merupakan salah seorang dari kawanan perampok di angkot itu. Elvira mereka paksa mencairkan uang dari kartu ATM-nya sebesar Rp15 juta, sebelum mereka buang di kawasan Kampung Rawa Kalong, Setia Mekar, Tambun Selatan, Bekasi.

Sumber:





No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.