Wednesday, October 12, 2011

Pengabaian Terhadap Hak Anak

Budaya Patrilineal Faktor Penyebab Kekerasan Seksual



Seharusnya mereka ada di sekolah, bukan di perempatan jalan atau lampu merah. Mengemis, mengamen, dan berjualan asongan mereka lakukan dengan dalih membantu orang tua yang tidak mampu membiayai sekolah. 

Biaya pendidikan memang relatif tinggi sehingga pemerintahpun turun tangan dengan mengucurkan Dana BOS agar sekolah tidak melakukan pungutan apapun terhadap orangtua murid, dengan kata lain sekolah diberlakukan gratis bagi yang tidak mampu namun masyarakat tidak dilarang untuk menyumbang. Kemudian ketika sekolah gratis akhirnya dilaksanakan dan anak-anak itu tetap saja di sana dengan alasan yang sama, muncul pertanyaan ganjil; salah siapa? 

Keberadaan anak-anak pada tempat dan waktu yang tepat dapat dipandang sebagai wujud ketidak pedulian orangtua terhadap hak perlindungan anak. Lalu siapa yang harus mengawasi anak-anak itu di jalanan? Anak-anak itu harus dikembalikan ke tengah-tengah keluarga yang normal, yang mereka butuhkan bukan sekedar rumah singgah sebagai tempat bernaung. 

Ketidak pedulian orangtua terhadap perlindungan anak adalah pelanggaran dan semestinya bisa di kerat dengan pasal yang mengacu pada kekerasan terhadap anak. Hal ini terlihat dari data yang dimiliki KPAI, di Indonesia terlalu banyak anak yang dipenjarakan, setiap tahun rata-rata mencapai 6.000 anak yang masuk penjara. 

Anak-anak juga sering menjadi korban kekerasan sadistis yang membuat kejiwaan mereka bermasalah. Trauma psikologis di masa kecil berdampak memicu mereka membalas dendam kelak atas apa yang pernah mereka alami. 

Data Komnas Perlindungan Anak menunjukkan sejak Januari hingga September 2010, ada sebanyak 2.044 kasus kekerasan terhadap anak di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya dan 2008. 

Kekerasan fisik terhadap anak paling mendominasi selain kekerasan seksual. Kekerasan seksual terhadap anak paling banyak terjadi di Jabodetabek. Kekerasan seperti itu terjadi karena himpitan ekonomi. Anak meminta susu, sementara ibu tidak dapat memenuhi karena tidak ada uang. Akibatnya, orangtua mengalami depresi luar biasa. 

Anak menjadi korban karena paling tidak berdaya di dalam sebuah komunitas keluarga. 

Budaya patrialineal juga menjadi faktor penyebab kekerasan seksual. Pria begitu dominan dan tidak bisa diajak bermusyawarah oleh istri, atau bahkan menganiaya sang istri. Karena itu, anaklah kemudian menjadi korban penganiayaan. Anak menjadi korban pelampiasan amarah sang istri. 

Lingkungan yang kurang berpendidikan juga kerap menjadi pemicu kekerasan. Sangat tragis sekali, sekitar 70 persen pelaku kekerasan terhadap anak adalah ibu, baik itu ibu kandung, ibu tiri, ibu asuh, ataupun ibu guru di sekolah.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.