Monday, October 31, 2011

Komodo Bangkitkan Nasionalisme Indonesia

Komodo dan Nasionalisme Buta 

Komodo masuk sebagai salah satu nomine 7 Keajaiban Dunia Baru oleh New 7 (Seven) Wonders of Nature  dan kita semua berharap akan ada satu lagi kekayaan Indonesia yang mendapat pengakuan dari dunia internasional.

Kita bisa melihat bagaimana berbagai figur publik berbondong-bondong menyerukan agar bangsa Indonesia menunjukkan nasionalismenya lewat mendukung komodo dengan cara mengirim SMS ke 9818. SMS dukungan yang pada awalnya bernilai Rp 1000, turun hanya dikenai biaya Rp 1. 

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi duta resmi pemenangan Pulau Komodo, menyusul kemudian dukungan DPRD Manggarai Barat, lalu sembilan hakim agung Mahkamah Konstitusi, MPR, berbagai pimpinan media massa dan pengusaha nasional,  juga selebritas semacam Fadli 'Padi' dan RAN, Slank, bahkan sampai Presiden SBY pun menyerukan dukungan.

Demi Komodo kerjasama dengan empat provider telekomunikasi pun dilakukan untuk melancarkan pemilihan via SMS. Saking menggilanya jumlah kiriman SMS untuk memenangkan Pulau Komodo, penyedia layanan SMS Mobilink pun menaikkan kapasitas servernya mengingat dukungan yang semakin meningkat menjelang masa berakhirnya masa pemilihan pada 11 November nanti. Diperkirakan, Pulau Komodo masih membutuhkan 30 juta suara untuk menang.

Salah satu negara yang juga masuk dalam nomine 7 Keajaiban Dunia Baru ialah Maladewa, tapi kemudian negara ini memutuskan mundur. Alasannya bahwa penyelenggara tidak transparan dalam menjelaskan bagaimana cara mereka menghitung dukungan, lalu karena biaya-biaya tak terduga yang terus meningkat jumlahnya. Mereka menyebut harus membayar sponsor platinum mencapai $350 ribu; dua biaya sponsor emas dengan total $420 ribu, mensponsori tur dunia dengan menerima kunjungan delegasi, menyediakan perjalanan balon udara, penerbangan, akomodasi, kunjungan wartawan; biaya $1 juta dolar bagi penyedia layanan telepon untuk berpartisipasi dalam kampanye New7Wonders; dan $1 juta lagi agar maskapai Maladewa bisa menempelkan logo New7Wonders di pesawat-pesawat mereka.

Biaya-biaya tersebut sangat besar hanya demi sebuah predikat 'ajaib'. Padahal selama ini reputasi komodo sebagai tujuan wisata dunia juga sudah diakui. Selain itu, bukankah biaya jutaan dollar itu bisa lebih baik digunakan untuk sebuah kampanye wisata Indonesia yang terencana (semacam Malaysia dengan Truly Asia-nya atau Thailand lewat Amazing Thailand-nya) daripada demi membayar biaya-biaya lisensi pada sebuah perusahaan yang tidak jelas reputasinya?

Kita lupa bahwa lembaga New7Wonders yang mengadakan kompetisi ini sama sekali tidak terhubung dengan lembaga UNESCO di bawah PBB. Padahal UNESCO sudah lebih dulu menetapkan Taman Nasional Komodo sebagai Situs Warisan Dunia pada 1986.

Bahkan, UNESCO sampai mengeluarkan pernyataan tersendiri demi menegaskan bahwa apa yang mereka lakukan dengan penetapan Situs-Situs Warisan Dunia sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh New7Wonders (Pernyataan resmi dari UNESCO bisa dibaca di sini).

Sejak 2007, UNESCO menyatakan bahwa mereka sudah berkali-kali diajak bekerjasama oleh organisasi milik Bernard Weber ini, tapi mereka memilih untuk tidak berpartisipasi. Lembaga PBB biasanya menggunakan bahasa-bahasa yang diplomatis. 

Maka ketika UNESCO mengatakan, "tidak ada yang bisa dibandingkan antara kampanye media yang dilakukan Tuan Weber dengan pekerjaan ilmiah dan proses pendidikan yang kami lakukan di UNESCO sehingga menghasilkan daftar situs-situs Warisan Dunia," itu artinya mereka sedang memberi peringatan keras akan cara kerja lembaga ini. 

Dengan kenyataan seperti itu kita masih ngotot memenangkan komodo dalam kompetisi yang tidak jelas cara penjuriannya yang  bahkan jika kita menang pun, kita masih harus membayar biaya-biaya tinggi demi meraih pengakuan internasional.  Sebegitu hausnya kita akan pengakuan internasional dari lembaga yang reputasinya  masih dipertanyakan. Yang membuat miris hati berbagai figur publik seolah terbutakan akan fakta-fakta yang tersedia dan secara membuta mendukung komodo.

BACA JUGA:
Legenda Es Dung Dung
Pengabaian Terhadap Hak Anak
Mengenal Lebih Dekat Pulau Moratua

1 comment:

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.