Tuesday, October 11, 2011

Nuklir Ada di Antara Kita


Nuklir dan Pemanfaatannya

'Nuklir', satu kata itu demikian hebatnya. Anak-anak akan berkhayal tentang perang bintang dan penjelajahan luar angkasa bila padanya dibisikan kata 'nuklir'. Orang-orang dewasa akan ingat pelajaran sejarah sewaktu di sekolah dasar  tentang dijatuhkannya bom atom di Nagasaki dan Hiroshima yang mengakhiri perang dunia ke dua. 

Bukan salah masyarakat bila 'Nuklir' selama ini identik dengan sesuatu yang menakutkan. Bom atom Hiroshima, Nagasaki, kebocoran reaktor nuklir Chernobyl, insiden Fukushima, serta hal-hal lain yang dipersepsikan menakutkan.

Sebenarnya 'Nuklir' tidak beda dengan energi lain seperti air, udara, dan api yang dalam jumlah, takaran dan penanganan tertentu pasti bisa menjadi kawan. Sebaliknya, jika dalam jumlah, takaran yang berlebih, air, udara dan api sekalipun bisa menjadi bencana kemanusian yang dahsyat. Tsunami, banjir, kebakaran hunian, pabrik, pasar dan hutan, misalnya. 

Tanpa terasa telah berpuluh tahun nuklir ada di tengah masyarakat dan akrab dalam kehidupan keseharian. Kedokteran adalah bidang yang sudah sejak lama memanfaatkan nuklir, berbagai rumah sakit nasional telah memanfaatkan radioisotope produksi dalam negeri guna keperluan diagnosa atau pun terapi aneka macam penyakit. 

Sektor pertanian juga telah lama menerima faedah teknologi nuklir. Nuklir yang sering dikampanyekan menakutkan justru bisa digunakan untuk menghasilkan benih-benih tanaman unggul yang dibutuhkan bagi peningkatan produksi. 

Peneliti-peneliti nuklir dalam negeri telah banyak sekali menghasilkan benih-benih unggul melalui pemanfaatan teknologi nuklir dengan proses iradiasi. Benih padi unggul hasil pemanfaatan nuklir ini bisa memproduksi 11 ton padi berkualitas pada tiap hektarnya. 

Tak ketinggalan dengan pertanian dan kedokteran, peternakan juga adalah sektor yang turut menikmati kegunaan teknologi nuklir. Nuklir ternyata bisa digunakan untuk membuat vaksin bagi penyakit tertentu pada hewan ternak. 

Tak hanya itu, nuklir juga ternyata bisa dipakai untuk mengukur unsur serta kandungan partikel yang bertebaran di udara. 

Sektor industri juga turut merasakan keuntungan melalui pemanfaatan nuklir. Jadi, nuklir ternyata memiliki banyak manfaat dalam kehidupan keseharian kita. 

'Nuklir' juga memiliki manfaat lain bahwa energi ini bisa digunakan menjadi pembangkit tenaga listrik. Karena itu pemerintah tengah mempertimbangkan untuk menjadikan Pembangkit Listri Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai sebuah alternatif bagi pemenuhan energi di masa depan. 

Namun masyarakat dunia saat ini lebih mendukung penggunaan pembangkit listrik dari tenaga surya sebesar 97 persen, tenaga angin 93 persen, tenaga hidro elektrik 91 persen, dan gas alam 80 persen. Sementara batu bara dan nuklir masing-masing berada di posisi terbawah dalam persepsi masyarakat kali ini. 

Jumlah penentang pembangunan PLTN di Indonesia itu memang masih lebih rendah dibandingkan Brazil. Negara di Amerika Selatan ini menjadi negara dengan penduduk paling besar keinginannya untuk menghentikan pembangunan PLTN sebesar 89 persen. Berbanding terbalik dengan kondisi di Brazil, penduduk di Polandia malah mendukung kelanjutan pembangunan PLTN dengan porsi 52 persen. 

Sebagai manusia yang hidup di zaman modern, tak pernah bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika harus hidup tanpa listrik. Yang pasti segalanya akan menjadi serba gelap, hitam dan tak tampak. 

Namun, pernahkah kita berpikir bahwasanya di negeri yang kita cintai ini telah terjadi ketidakseimbangan antara penggunaan dan pasokan listrik. 

Faktanya, pemadaman bergilir saat ini masih terjadi dan menghantui beberapa daerah di tanah air.Belum lagi masih ada 30 persen rakyat Indonesia yang belum merasakan nikmatnya hidup bersama listrik.Pembangkit-pembangkit listrik yang kita miliki ternyata belum mencukupi kebutuhan akan listrik. 

Berangkat dari hal itu, pemerintah berencana untuk terus menambah jumlah pembangkit listrik, mulai dari energinya bersumberkan batubara, minyak bumi, gas, panas bumi, angin, sinar matahari, sampah, hingga nuklir. 

Target peningkatan pertumbuhan ekonomi, sebagai upaya pengentasan pengangguran dan kemiskinan, tentu akan menjadi sekadar mimpi di siang bolong, apabila negeri ini tidak memiliki kecukupan energi listrik. 

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.