Sunday, October 16, 2011

Mengapa Harus Menuntut Ilmu (Jembatan) Sampai ke China?


Tujuh dari 10 jembatan terpanjang di dunia ada di Tiongkok. 
Dan mereka tak pernah puas.



Jembatan menjadi sarana perhubungan yang sangat vital untuk menopang laju ekonomi, selain itu jembatan juga menjadi sarana pariwisata yang menarik. Banyak orang yang melancong hanya untuk melihat jembatan, merasakan kemegahannya dari dekat dan sekedar berfoto untuk kenang-kenangan.

Seberapa banyak jembatan yang kita miliki di luar Jembatan Ampera di Sungai Musi dan Jembatan Suramadu yang membentang di Selat Madura? Tentu jumlahnya sangat banyak, walau tidak sebanyak jumlah sungai dan selat yang kita miliki.

Bagi raksasa ekonomi dunia China, jembatan ternyata bukan sekadar rangkaian besi yang menjulur dari satu tempat ke tempat lainnya. Lihat Tiongkok, disana jembatan adalah mercu suar perekonomian nasional yang kian mengukuhkan dominasi mereka di percaturan global. 

Buka data Guinness World Records 2011. Dari 10 jembatan terpanjang dan terbesar di dunia, tak tanggung-tanggung, tujuh di antaranya berada di China. Jembatan Bang Na Expressway di Thailand menempati peringkat empat. Jembatan Lake Pontchartrain Causeway dan Manchac Swamp Bridge di Amerika Serikat masing-masing berada di urutan tujuh dan delapan. Selebihnya, ada di China.

Gelar jembatan terpanjang di dunia saat ini disematkan kepada Danyang-Kunshan Grand Bridge. Memiliki panjang 164,8 km, jembatan itu digunakan sebagai rel kereta super cepat yang menghubungkan dua kota utama di China, Beijing dan Shanghai. Membentang dari Shanghai hingga Kota Nanjing di Provinsi Jiangsu, China sebelah timur, jembatan ini melintasi perairan di atas Danau Yangcheng di Kota Suzhou sepanjang 9 km. Pembangunannya baru rampung 2010 kemarin dan mulai digunakan bagi layanan kereta super cepat setahun kemudian. 

China seperti tak pernah merasa puas, terus membangun jembatan-jembatan mahapanjang lainnya. Pada 30 Juni 2011, misalnya, China meresmikan Qingdao Haiwan Bridge, yang dikenal sebagai jembatan lintas perairan terpanjang di dunia. Jembatan Teluk Jiaozhou-begitu nama lain jembatan berbentuk huruf ‘T’ ini--dibangun untuk mengatasi kemacetan lalu lintas dan menjulur sepanjang 41,58 km dari Distrik Huangdao di Kota Qingdao sampai Pulau Hongdao. 

Media Barat mengakui jembatan tersebut telah melampaui Jembatan English Channel, yang menghubungkan Inggris dan Prancis, serta hampir 6 km lebih panjang dari pemegang rekor sebelumnya, yaitu Jembatan Lake Pontchartrain Causeway di negara bagian Louisiana, AS. 

Daily Mail menulis, "Jembatan itu 174 kali lebih panjang dari Tower Bridge di London." Pembangunannya menelan dana sangat besar. Menurut harian The Telegraph, jembatan yang baru selesai dalam empat tahun itu berbiaya 5,5 miliar poundsterling, atau sekitar Rp76,9 triliun. Hebatnya, pengembangnya bukan perusahaan asing, tapi perusahaan nasional China sendiri. 

Menurut Telegraph, kendati sudah diresmikan, jembatan itu baru dibuka untuk umum pada 2011 ini. Memiliki enam lajur, Jembatan Teluk Jiaozhou dirancang mampu menyeberangkan 30 ribu mobil setiap hari dan bakal memotong 20-30 menit waktu tempuh Qingdao-Hongdao. Strukturnya dibuat super kokoh--bakal kuat menahan guncangan gempa bumi hingga berkekuatan 8 Skala Richter, angin topan berkecepatan 125 mil per jam, termasuk bila ditabrak kapal seberat 300 ribu ton. 

Shandong Gausu Group mengemukakan, proyek kebanggaan mereka itu dikerjakan sedikitnya 10 ribu orang, yang bekerja penuh 24 jam seminggu selama empat tahun. Para pekerja dibagi dalam dua shift untuk mengangkat dan menyambung 450 ribu ton baja--yang cukup untuk membangun 64 Menara Eiffel serta 2,3 juta kubik beton--setara untuk membangun 3.800 unit kolam renang standar olimpiade. 

China merasa perlu membangun Jembatan Teluk Jiaozhou lantaran wilayah itu sangat strategis. Dengan pertumbuhan ekonomi hingga 16 persen setahun, Qingdao merupakan salah satu kota termakmur dan wilayah dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat di China. Berpenduduk 4,3 juta jiwa, Qingdao dikenal sebagai wilayah di mana pangkalan utama bagi Angkatan Laut China berada.

Terkenal dengan pantainya yang indah, Qingdao adalah salah satu daerah tujuan wisata utama. Di sini pula ada kota produsen bir kebanggaan China, Tsingtao. Pada 2009, menurut hasil survei, Qingdao disebut sebagai kota paling layak huni di China. Itulah sebabnya pembangunan jembatan baru ini digolongkan sebagai kebijakan ekonomi strategis Pemerintah China. 

Keberadaan jembatan itu dielu-elukan penduduk setempat. Namun, ada juga yang mengritik. "Menghabiskan miliaran Yuan hanya untuk menghemat waktu 20 menit berkendara, cuma membuang-buang uang pembayar pajak saja," demikian komentar pedas seorang warga Provinsi Jilin, seperti dikutip Daily Mail. 

China masih saja seperti tak pernah puas, terus berambisi membangun jembatan-jembatan mahapanjang lainnya. Proyek ambisius mereka berikutnya adalah jembatan yang bakal menghubungkan kawasan segitiga emas: Provinsi Guangdong-Hong Kong-Makau. Jembatan ini akan membentang sepanjang hampir 50 km, melebihi Jembatan Teluk Jiaozhou. Pembangunannya sudah dimulai sejak Desember tahun lalu. Diperkirakan bakal menyedot 6,5 miliar poundsterling atau sekitar Rp90,9 triliun, jembatan ini ditargetkan selesai pada 2016 nanti.

"Melalui jaringan yang lebih nyaman dan cepat, layanan keuangan, pariwisata, perdagangan, logistik, dan profesional Hong Kong bisa terintegrasi lebih baik dengan kawasan Delta Pearl River dan kawasan di sekitarnya," kata Donald Tsang, Kepala Eksekutif Hong Kong, seperti dikutip Daily Mail. Soal membangun jembatan, seperti kata pepatah, tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China.

Lalu, kapan kita akan melancong ke China dan meniru pembuatan jembatan untuk menghubungkan antar pulau di negeri tercinta ini? Jawabnya ada di angin lalu yang membuat cemara berdesau dan rumput bergoyang.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.