Saturday, November 5, 2011

Hadiah, Boneka Terakhir

Untuk Adikku tersayang ...................

Anak lelaki kecil itu mungkin tidak lebih dari 5 atau 6 tahun umurnya.

Kasir mengatakan, "Maaf, uangmu tidak cukup untuk membeli boneka ini."

Kemudian anak kecil itu mendekati seorang perempuan tua di dekatnya:''Nenek, apakah engkau yakin aku tidak punya cukup uang?''

Wanita tua itu menjawab:''Kau tahu bahwa kau tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini, sayang''.

Lalu ia memintanya untuk tinggal di sana hanya 5 menit sementara ia berkeliling ke berputar-putar. Dia meninggalkannya dengan cepat.

Si anak kecil itu masih menggenggam boneka itu di tangannya.

Akhirnya, aku berjalan ke arahnya dan aku bertanya padanya siapa yang akan dia beri boneka itu.

"Ini boneka yang paling disukai adik perempuanku dan dia sangat menginginkannya pada Natal nanti. Ia yakin Santa Claus akan memberi boneka ini untuknya. "

Aku mengatakan kepadanya bahwa mungkin Santa Claus akan membawa boneka ini untuknya pada saatnya, dan tidak perlu khawatir.

Tapi dia menjawab dengan sedih. 'Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka ini ke tempat dia sekarang. Aku harus memberikan boneka ini kepada ibu saya sehingga dia bisa memberikannya kepada adikku saat dia pergi ke sana. "

Matanya begitu sedih ketika mengatakan ini. "Adik saya sudah di rumah Tuhan. Ayah bilang Ibu juga akan segera menemui Allah di sana, jadi saya berpikir kalau dia bisa membawa boneka ini untuk diberikan kepada adikku.''

Jantungku hampir berhenti.

Anak kecil itu menatapku dan berkata: "Saya mengatakan kepada ayah untuk memberitahu mama agar tidak pergi dulu, sampai aku kembali dari mal. "

Lalu ia menunjukkan sebuah foto yang sangat bagus, di foto itu dia tertawa.

Dia kemudian mengatakan, "Aku ingin ibu membawa fotoku dengan begitu dia tidak akan melupakan aku. Aku cinta ibu dan kuharap ia tidak meninggalkan aku, tapi ayah berkata ibu harus pergi bersama adikku."

Kemudian dia menatap boneka dengan mata sedih, suasana sangat hening.

Aku cepat-cepat mengambil dompetku dan berkata kepada anak itu. "Bagaimana kalau kita hitung lagi, kalau-kalau uangmu cukup untuk membeli boneka ini?''

"OK" katanya, "Aku harap aku punya cukup .." 

Aku menambahkan beberapa uangku tanpa sepengetahuannya dan kami mulai menghitung. Uangnya cukup untuk boneka itu dan bahkan masih ada sisa untuk disimpan.

Anak kecil itu berkata: "Terima kasih Tuhan karena memberiku cukup uang!"

Kemudian ia memandangku dan menambahkan, "Sebelum tidur semalam saya meminta agar Tuhan mencukupkan uang untuk membeli boneka ini, sehingga ibu yang bisa memberikannya kepada adikku. Dia mendengarku!''

"Saya juga ingin memiliki uang yang cukup untuk membeli mawar putih untuk ibuku, tapi saya tidak berani meminta Tuhan terlalu banyak. Tapi Dia memberiku uang yang cukup untuk membeli boneka dan mawar putih.''

"Ibu saya suka mawar putih. ", katanya lagi.

Beberapa menit kemudian, wanita tua tadi kembali dan aku segera berlalu dengan keranjangku. Aku menyelesaikan belanja dengan perasaan asing. Anak itu sungguh di luar jangkauan pikiranku.

Lalu aku teringat sebuah makalah artikel berita lokal dua hari lalu, yang menyebutkan seorang pria mabuk di sebuah truk yang menabrak mobil yang dikendarai oleh seorang wanita muda dan seorang gadis kecil.

Gadis kecil meninggal seketika, meninggalkan ibunya dalam keadaan kritis. Keluarganya harus memutuskan apakah harus mencabut steker pada mesin pendukung hidup, karena wanita muda itu tidak akan bisa sadar dari koma.

Apakah mereka keluarga dari anak kecil tadi?

Dua hari berikutnya setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca lagi di koran berita bahwa wanita muda itu meninggal dunia.

Aku tidak bisa menahan diri saat aku membeli seikat mawar putih dan bergegas ke rumah duka dimana tubuh wanita muda itu disemayamkan agar siapapun bisa melihatnya untuk terakhir kali sebelum pemakaman.

Dia ada di sana, dalam peti matinya, memegang mawar putih yang indah di tangannya dengan foto anak kecil dan boneka itu ditempatkan di atas dadanya.

Aku meninggalkan tempat itu dengan berlinang air mata, terasa bahwa hidupku telah berubah untuk selamanya. Cinta yang diberikan oleh anak yang masih  kecil itu kepada ibu dan adiknya, sampai hari ini, sulit terbayangkan. Betapa hanya dalam sepersekian detik, seorang pengemudi mabuk telah merenggut semua itu darinya.


Sujata Mitra untuk Komunitas Sastra Sukabumi



No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.