Thursday, November 10, 2011

Mewarisi Jiwa Bung Tomo

Hari Pahlawan Bukan Hari Libur

Gelar Pahlawan Nasional diberikan pemerintah kepada Bung Tomo pada peringatan Hari Pahlawan, 10 Nopember 2008. Kini muncul desakan masyarakat agar Hari Pahlawan yang biasa diperingati setiap 10 Nopember dijadikan hari libur nasional, karena sampai saat ini Hari Pahlwan masih menepati hari penting ke dua setelah libur nasional lainnya.

Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Bung Tomo terjadi atas desakan keluarganya, Gerakan Pemuda Ansor dan FP Golkar DPR-RI. Kini muncul juga desakan dari pihak keluarga Bung Tomo menjadikan Hari Pahlawan sebagai hari libur.

"Hari Pahlwan masih menjadi hari libur ke dua setelah hari libur lainnya. Tetapi jika melihat besarnya perjuangan bangsa ini terutama saat peperangan yang terjadi di Surabaya, seharusnya peringatan Hari Pahlawan menjadi hari libur nasional atau setidaknya regional Jatim," kata Zainal Karim, keponakan Bung Tomo, tokoh pahlawan Surabaya (Kamis, 27 Oktober 2011).

Alasan yang mendasari hal tersebut ialah besarnya Semangat Bung Tomo saat memimpin perjuangan pemuda di Surabaya sebagai apresiasi lebih besar. "Jika Hari Raya Nyepi bisa menjadi hari libur regional khusus Bali kenapa Hari Pahlawan tidak? Kami justru berharap ini mampu menggugah para pembuat kebijakan di negeri ini," ujar Karim berharap.

Tercatat dalam sejarah Bung Tomo sebagai pengerah arek-arek Surabaya. Di bawah komandonya dan dukungan moral dan moril sejumlah ulama masa itu, pertempuran Surabaya membuat kewalahan tentara Inggris yang berada di bawah pasukan Sekutu yang awalnya mendarat pada akhir bulan Oktober 1945 di Surabaya.  Pemuda Surabaya saat itu merupakan benteng terkuat di Surabaya.

Pecah pertempuran sengit dengan 6.000 tentara Hindia Belanda untuk menyelamatkan tawanan Eropa. Tewasnya pemimpin tentara Inggris, Brigadir Mallaby pada 30 Oktober 1945 menjadikan ultimatum agar pemuda Surabaya menyerahkan senjata dan dilakukan serangan dari darat, udara dan laut atas kota Surabaya. 

Bung Tomo dengan jiwa mudanya pada peristiwa 66 tahun silam patut dijadikan teladan bagi kaum muda dalam melawan penjajah kekinian berupa penjajahan ekonomi, penjajahan ideologi, penajahan budaya dan lainnya. Pemuda dituntut lebih banyak berjuang dan berkreasi daripada hanya sekedar membuat aksi-aksi yang semakin kurang jelas.

Bung Tomo dan rekan-rekannya yang gugur di pertempuran Surabaya, tidak pernah berharap dan bermimpi diberi gelar Pahlawan Nasional. Andai Bung Tomo masih hidup pun tidak pernah berpikir bahwa Hari Pahlawan dijadikan hari libur. Atau Bung Tomo berpikir ingin dibangunkan patung untuknya, yang ternyata menelan dana cukup besar, mencapai Rp 61 miliar.

Hanya membuang-buang uang jika pembangunan patung Bung Tomo di Jln. Tunjungan 100 Surabaya. Dana untuk pembangunan patung itu lebih bermanfaat digunakan membangun museum, sekolah atau hal lain yang lebih bermanfaat ketimbang patung bisu yang akan dikotori carut marut lalulintas kendaraan bermotor. 

Hari Pahlawan sebagai libur juga patut dipertimbangkan lagi. Menjadi pahlawan itu tidak harus diikuti hari libur. Penambahan hari libur nasional akan menjadi sebuah persoalan baru, sebab tidak tertutup kemungkinan keluarga Pahlawan Nasional  lainpun akan mengusulkan hal yang sama.

Dengan penambahan Hari  Pahlawan sebagai hari libur maka kalender pemerintah untuk hari libur akan menjadi empat belas hari. Ini akan merugikan semua pihak jika ditinjau dari segi produktivitas yang masih sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negara. Tiga belas hari libur nasional juga sudah merupakan masalah bagi pengusaha yang harus melakukan produksi, libur berarti adanya lembur dan artinya biaya.

Terlalu banyak libur tidak bermanfaat bagi generasi muda, terutama pelajar dan mahasiswa. Libur yang terlalu banyak membuat mereka semakin tidak kreatif dan malah mendorong mereka untuk lebih banyak berada di warnet, atau nongkrong di pinggir jalan yang sering berujung tawuran.

Hari Pahlawan tidak harus libur, cukup mendoakan para pahlawan yang sudah menjadi syuhada di taman-taman makam pahlawan.

BACA JUGA:
Kelalaian Penyebab Kematian di Jalan Raya
Menghindari Pikun di Hari Tua
Internet Pemicu Sex Bebas
Mungkinkah Pendidikan Tanpa Ijazah?
Westerling memerintahkan tembak tengkuk, bahkan pe...
Di Jerman, Memaki "Babi Tua" Denda Rp30 Juta
Wanita, Perkosaan, dan Rawannya Angkutan Umum
Surat dari Pelaku Pembantaian Rawagede

5 comments:

  1. tidak perlu 10 November sebagai hari libur seharusnya upacara dan bersihkan serta rawat makam atau ziarah ke taman makam pahlawan

    ReplyDelete
  2. setuju dengan ASAZ.selain itu mendoakan para arwah pahlawan itu adalah salah satu sikap meghargai jasanya.kunjungan gan....
    n blogwalking.

    ReplyDelete
  3. sayang kondisi bangsa kita sungguh memprihatinkan... para pejuang kita banyak yang terbengkalai, diusir dari rumahnya... pengorbanan darah mereka seperti tidak ada nilainya di masa sekarang... saya sangat kecewa dengan pemerintah

    blogwalking gan dari cantikalayanti.blogspot.com follow dan komen balik juga ya ke blog gw..

    salam kenal

    ReplyDelete
  4. Mengenang para pahlawan dan bung Tomo... tapi kira-kira kalau masa sekarang, siapa atau masih ada gak orang yang pantas kita anggap sebagai pahlawan?

    ReplyDelete
  5. Tidak penting mempolemikkan hari pahlawan itu libur atau tidak. Yang penting adalah memasukkan moral berkorban para pahlawan kepada anak-anak di bangku sekolah. Sekarang ini saya lihat semua anak di bangku sekolah sudah krisis moral.

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.