Thursday, November 24, 2011

Ekstrak Cacing Tanah Turunkan Demam

Ketika Typhus Abdominalis Menyerang



Sebagai bloger pemula aku memang bandel, paling tidak itu yang sering diomelkan istriku. Dalam keadaan sakitpun masih menyempatkan diri ngeblog, begitu istilahnya. Beberapa tulisan di blog sebelum ini merupakan  tulisan yang kutulis sebelum aku jatuh sakit dan beberapa diantaranya malah kutulis dalam keadaan sakit. 

Sejak awal, aku selalu menulis walau tidak untuk diterbitkan. Aku pikir suatu saat dalam keadaan darurat karena sakit blog tidak boleh berhenti terbit, pembaca pasti ada yang menyempatkan diri berkunjung dan mencari-cari sesuatu. Walau minimal satu pembaca perhari dari hampir 40 ribu pembaca blog yang sempat singgah saat ini. Dan ini bernama komitment, blog harus terbit setiap hari. Artinya dalam keadaan sakit aku cukup mengeluarkan tulisan walau dari arsip blog. 

Tidak seorangpun ingin sakit, apalagi bloger pemula sepertiku yang sedang tergila-gila menembus blantika dunia maya. Aku sangat bangga dengan 50 bendera dari 50 negara yang ada di blog berkat Vlog dan VIVAnews, dan itu terus memacu untuk terus kembali keesokan harinya dengan sesuatu yang baru untuk para sahabat pembaca dari berbagai belahan lain bumi ini. Dan celakanya, persediaan arsipku selama sakit  tidak cukup banyak sehingga aku bisa cuti terlalu lama dari depan laptop. 

Gejala awal yang aku alami ialah demam, seperti mau flu tapi tidak disertai gejala batuk pilek. Aku menduga dari masuk angin karena beberapa hari sebelumnya naik motor tanpa jaket dan kehujanan. Anehnya demam itu muncul kalau tidak sore pasti malam hari, disertai nyeri kepala hebat. 

Karena menduga masuk angin, tentu sasaran pertama jamu tolak angin dan mengisi perut sepenuh mungkin sebelum beristirahat. Demam masih tetap tinggi dan keluar keringat dingin sampai rambut dan badan terasa lengket. Esok harinya aku merasa enteng dan berani mandi air dingin, tapi sore harinya aku demam lagi. Kepala terasa nyeri lebih hebat, sampai aku harus mengikatnya dengan ulos. Ini typhus abdominalis! Dengan cepat aku membuat diagnosa atas sakitku. 

Sore itu dalam keadaan demam aku kendarai jeep setelah berhasil membujuk anakku yang masih kelas 6 SD untuk mengantarku ke apotik, dengan janji kubelikan burger akhirnya dia mau juga. Di apotik aku minta selembar antibiotik, obat radang tenggorokan dan  sari kurma. Kemudian aku menyebutkan satu merek produk, tapi ternyata produk itu tidak dikenali. Aku sebutkan produk itu berupa ekstrak cacing. Pelayan apotik rupanya cepat tanggap dan memberiku yang aku mau walau dengan nama berbeda. Aku baca sekilas untuk meyakinkan itu benar sebelum membayarnya.

Di dalam jeep, aku buka botol minum dan segera kutelan sebutir antibiotik dan tiga kapsul ekstrak cacing, kususul dua sendok sari kurma dan kututup dengan mengemut tablet hisap obat radang tenggorokan. Kujalankan lagi jeep perlahan dalam hujan untuk mencari burger dan terus ke rumah adikku untuk sekalian menjemput anakku yang tadi siang pamit latihan band.

Bagi teman-teman yang belum pernah terkena typhus tentu tidak akan mengenali penyakit itu dengan segera, beberpa gejala awal yang perlu dikenali yang akan dialami dalam beberapa hari yaitu :
  • Demam lebih seminggu, mulainya seperti flu akan tetapi jika tipus umumnya muncul sore dan malam hari.
  • Demam sukar turun
  • Nyeri kepala hebat
  • Perut terasa tidak eanak
  • Tidak bisa buang air besar
Gejala tipus ringan (paratipus), yaitu:
  • Mengalami buang-buang air
  • Lidah tampak putih susu, bagian tepinya merah terang
  • Bibir kering
  • Kondidi fisik lemah
Gejala tipus stadium lanjut, yaitu: muncul gejala kuning, karena pada tipus organ hati bisa membengkak seperti gejala hepatitis.

Sedangkan komplikasi yang akan terjadi pada penyakit tipus, pada umumnya muncul setelah minggu kedua demam, yaitu jika mendadak suhu turun dan disangka sakit sudah sembuh, sementara itu denyut nadi makin meninggi, perut melilit dan pasien tampak sakit berat. Kondisi seperti ini membutuhkan pertolongan gawat darurat, karena isi usus yang tumpah ke rongga perut harus secepatnya dibersikan.

Untuk mengetahui tipus, lebih baik dengan melakukan tes widal di lab, setelah demam menginjak hari ke tiga dan melihat gejala awalnya. Agar bisa tahu langkah pengobatan selanjutnya dan sehingga tidak terlanjur parah.

Berhubung Aku pernah berpengalaman di rawat akibat sakit typhus semasa SMA dulu maka gejala-gejala yang muncul dengan cepat bisa kukenali dan diwapadai. Salah satu jalan pintas menurunkan demam akibat typhus yang masih sangat kupercayai saat ini yaitu cacing tanah.

Sebenarnya penggunaan cacing tanah sebagai obat sudah dimulai sejak tahun 4000 SM oleh bangsa Cina. Ia tercatat dalam Bencao Gang Mu sebagai pu shuks yang di kalangan awam disebut naga tanah atau ti lung kam. Khasiat yang disebutkan beragam seperti melancarkan air seni (diuresis), menetralkan bisa gigitan laba-laba, mengobati sakit malaria, membasmi cacing pita, mengobati sakit kuning dengan perut buncit, meredakan demam dan kejang demam dan menyembuhkan stroke.

Di zaman kembali ke alam ini, cacing tanah (earth worm) digunakan sebagai antitrombosis di Korea Selatan, Cina dan Vietnam; bahan makanan di Jepang, Hongaria, Thailand, Filipina dan Amerika Serikat; pertumbuhan kanker di Amerika Serikat; dan makanan obat di berbagai negara Asia Afrika. Di Jepang dikenal vermijuice dan di Eropa, worm burger, worm spagheti, crispy earthworm dan verne de terre.

Malam hari tiba kembali kujalani ritual minum obat seperti sore tadi.  Tubuh saat itu masih demam dan kepala juga masih terasa berat, kueratkan ikatan ulos di kepala untuk menahan sakitnya.  Aku cuma ingin berbaring di bawah selimut. 

Tidak sampai satu jam, keluar keringat di sekujur tubuh dan kepala. Perut tiba-tiba merasa lapar dan ingin makan, segera segelas susu dan beberapa biskuit marie berpindah ke perutku. Masih kurang puas, aku susulkan beberapa butir telur rebus menemani biskuit marie dan susu. Aku simpulkan saat itu; aku sehat.

Indikator sehat itu nikmat makan dan nikmat tidur. Tapi aku belum bisa merayakan rasa sehatku dengan olahraga kecuali dengan menulis blog ini untuk Anda. Dengan satu syarat dari istriku, tidak boleh begadang atau dikarantina lebih lama dikamar cuma ditemani laptop!

Tulisan ini didedikasikan kepada istri tercinta di perantauan 
dan para orangtua tunggal
Penyimpangan Perilaku Seks Remaja
Jalan Pikiran Bebas Hambatan
Anda Kaya Tanpa Anda Sadari
Kopi Herbal Tingkatkan Libido
Menggapai Berat Badan Ideal

8 comments:

  1. Pak job Ads and advertisements for Karachi,Lahore,Quetta,Peshawar,Multan,Hyderabad,Rawalpindi,Islamabad andhttp://allpkjobz.blogspot.com all cities of Pakistan

    ReplyDelete
  2. @dollpretty; thank you to your information, I'll be there...

    ReplyDelete
  3. Bingung juga ya, kok bisa ekstrak cacing di jadikan obat dan di makan, padahal jika kita menginjak tanah yang banyak cacingnya dg telanjang kaki justru kita malah kena penyakit karena cacing itu...He.he..

    Kebetulan ada artikel mengenai tyhpus diambil dari Majalah Intisari 80-an akhir, silahkan simak, apakah ada kemiripan atau tidak.

    Ini linknya:http://www.djadoelpost.com/2011/09/penyebab-munculnya-penyakit-tifus.html


    Salam
    http:://www.djadoelpost.com

    ReplyDelete
  4. Mas Alkindi, soal cacing jadi obat itu karunia sang pencipta.... dan saya menceritakan pengalaman pribadi mengkonsumsi itu, Alhamdulillah sehat, dan berniat merutinkannya. Link yang Mas Alkindi tidak bisa dibuka dari sini, lalu intisari th 80 saya mungkin waktu itu belum terjangkau membelinya, tapi saya yakin referensi soal typhus pasti awalnya satu sumber... soalnya itu fakta kesehatan.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Bener banget!
    Saya pernah kena typhus *awalnya juga gak tau kalo itu typhus. krn cuma rasanya gak enak badan seperti masuk angin atau mau pilek. Nyatanya menggigil panas dingin.

    Nah, kakak pun samaan, akhirnya kaka ipar yg baik hati membawakan pil cacing tanah. Dalam waktu singkat demam turun , dan tentunya disertai bedrest



    Join Fan Pages VIVAlog
    Best Regards, Gal's

    ReplyDelete
  7. @Galuh Parantri, terimakasih sudah singgah... ternyata kita harus hari-hati terhadap siklus 8 tahunan dan kelipatannya setelah mengidap typhus... Salam....

    ReplyDelete
  8. @Bang Alkindy Siregar: maaf keteledoran mencantumkan sumber bacaan, saat itu artikel ini ditulis saat sakit dan lupa link sumber tulisan yang ternyata memang djadoelpost.... terimakasih Bang...

    Salam
    WINA

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.