Wednesday, November 23, 2011

Sifat Pemarah Akibat Perkembangan Zaman

Mengapa Kita Harus Memaafkan Diri Sendiri


Menjadi pemarah mungkin bukan tabiat bawaan sejak lahir, tapi lebih cenderung disebabkan karena lingkungan. Dulu bangsa kita terkenal ramah dan murah senyum, bahkan santun kepada siapapun walau dia orang asing sekalipun. Setelah jaman berganti, tampak perbedaan tabiat yang mengikuti perkembangan dunia. Mungkin maskudnya ingin seiring kemajuan jaman, dan tampak terseok-seok  mengejar laju globaliasi sementara adat istiadat juga ditinggalkan.

Dulu, sebelum walkman populer dan pada perkembangannya diikuti discman, lalu muncul mp3 dan akhirnya mp4. Tak ada earphone yang menyumpat telinga, seolah kita siap mendengarkan apapun. Di kendaraan umum antar orang asing bisa saling bertegur sapa dan berkenalan kemudian terlibat pembicaraan yang mengasyikan. Sekarang, di kendaraan umum kita lebih banyak duduk diam membisu seolah berdampingan dengan orang asing yang memiliki bahasa yang sukar untuk dimengerti oleh masing-masing sehingga tidak perlu berkomunikasi.

Dulu sebelum ada HP, sebelum komunikasi demikian cepat dan singkat yang diawali era penyeranta, SMS, MMS dan e-mail. Kita bisa berkumpul di telepon umum, atau menulis surat dengan  dengan tangan  sendiri lalu mengirimnya dan menunggu balasan dengan sabar. Sekarang kesabaran seperti itu sudah lenyap, kita tidak bisa lagi mengantri seperti di telpon umum atau berdebar-debar menunggu balasan surat. Kita ingin serba cepat dan instan, kalau tidak kita marah.

Mau tidak mau, harus diakui kemajuan teknologi yang serba cepat membuat kita menjadi temperamental, sangat - sangat  - sangat pemarah. Tidak rakyat juga tidak pemimpin. Rakyat bisa berkelahi tanpa sebab meski saat itu sedang berjoget dangdut, yang  nyata-nyata sedang menikmati hiburan. Pemimpin juga marah kepada pemimpin lain kalau dia kalah suara dalam pemilihan, menghasut orang banyak dan membuat demo besar-besaran.

Agar tidak menjadi pemarah, kita hanya perlu kata maaf untuk diri sendiri. Ternyata untuk memaafkan diri sendiri sama dengan memilih tahanan untuk dibebaskan dan tahanan itu justru Anda. Jadi tunggu apalagi? Segera bebaskan diri Anda! Semoga kisah inspiratif berikut dapat menawarkan hati Anda.

Penyembuhan
Pada suatu masa hiduplah seorang wanita yang memiliki temperamen buruk. Dia berteriak dan memarahi semua orang di sekelilingnya. Dalam sepanjang hidupnya dia percaya kemarahan berapi-api di dalam dirinya adalah karena kesalahan orang lain. Tapi suatu pagi dia bangun dan menyadari bahwa ia telah mengisolasi diri dari semua orang yang dia kasihi dalam hidupnya. Dia tidak punya teman lagi, dan bahkan keluarganya tidak ingin berhubungan dengannya. Dia menyadari bahwa ia harus membuat perubahan.

Pergilah ia menemui seorang biarawan Buddha yang sangat dihormati untuk meminta saran. Biarawan itu menyuruhnya untuk mengambil kendi tanah liat besar dari dapur, mengisinya dengan air, dan berdiri di luar di trotoar di depan rumahnya. "Udara di luar panas, dan di trotoar banyak pejalan kaki lalu lalang," kata rahib saat dia menunjuk ke luar jendela depan rumahnya. "Ketika pejalan kaki lewat, Anda harus menawarkan mereka segelas air. Lakukan itu sampai tidak ada lagi  kemarahan yang tersisa dalam dirimu."

Wanita dengan temperamen buruk itu bingung - ia tidak mengerti bagaimana hal itu  akan membantunya. Tapi ia pernah mendengar bahwa rahib ini dikenal karena kebijaksanaan yang tidak lazim dan memiliki metode  penyembuhan paling mutahir, dan oleh karena itu ia bersedia melakukan apa saja untuk menyembuhkan dirinya sendiri dan membangun kembali hubungan dengan mereka yang ia kasihi.

Kemarahan
Jadi ia berdiri di luar dengan teko air dan menyediakan air bagi pejalan kaki setiap hari selama beberapa minggu berikutnya. Dan setiap pagi ia bertanya pada dirinya sendiri apakah masih berdenyut marah melalui pembuluh darahnya. Dan setiap pagi jawabannya adalah, "ya." Jadi dia terus melayani memberi air. Sampai sore ini ketika seorang pria kekar berjalan, menyambar kendi air dari tangannya, minum langsung dari kendi itu, dan kemudian melemparkan kendi di tanah lalu ia melanjutkan perjalanannya.

Kemarahan dalam diri wanita memuncak  tak tertahankan. Tidak dapat menahan diri, dia mengangkat kendi tanah liat dari tanah dan dengan sekuat mungkin dia melemparkannya pada pria kekar yang berjalan menjauh. Lemparannya mengenai pria itu, kendi hancur menjadi pecahan ketika menghantam bagian belakang kepalanya dan dia jatuh tergeletak di tanah dengan berdarah.

Begitu kemarahan wanita itu mereda, dia menyadari apa yang telah dilakukan dan mulai menangis. Dia menggunakan telepon umum untuk menelepon polisi dan melaporkan kejadian tersebut. Sebuah ambulans dan dua mobil polisi tiba. Sebagai tindakan darurat medis pria kekar itu diikat ke brankar, polisi memborgol tangan dan kakinya tapi. Kemudian salah satu petugas polisi mendekati wanita itu, yang masih menangis, dan berkata, "Kota ini berutang 'terima kasih' padamu." Pria itu telah ada di daftar orang yang paling kami cari selama lebih dari satu tahun belakangan ini. Dia adalah tersangka utama dalam kasus pembunuhan berantai dan perampokan dengan kekerasan. "

Pesan Moral
Pesan moral dari cerita ini adalah bahwa kita tidak tahu. Kita ingin mempercayai bahwa jika kita benar-benar melepaskan diri dari kegelapan batin maka kita maka kita akan selalu bisa membuat pilihan yang tepat, dan memberi pelayanan kepada diri kita sendiri dan orang di sekitar kita. Tapi hidup tidak begitu jelas dan mudah diduga. Terkadang kegelapan kita sengaja membawa kita untuk melakukan hal-hal yang mempengaruhi dunia dalam cara yang positif, seperti cinta tanpa syarat kita kadang-kadang memaksa kita untuk mengabaikan perbuatan kriminal  yang dilakukan di depan kita.

Saya menceritakan kisah ini tidak bermaksud mendorong Anda menggunakan kemarahan untuk mencapai kebaikan bagi diri Anda, tetapi lebih tertuju pada kesediakan membuka diri untuk memaafkan diri sendiri secara manusiawi - saat Anda merasa gelap karena kemarahan. Karena, bahkan di saat-saat tergelap, ada cahaya yang bersinar dalam diri kita yang memiliki potensi untuk melayani diri kita sendiri dan orang lain dengan cara yang mungkin tidak kita pahami sepenuhnya.

BACA JUGA:
(GoVlog) ODHA di Antara Remaja
Perilaku Hidup Bersih Cegah Hepatitis A
Kemeja Batik Tak Berkancing
Pesan Perpisahan Di Ujung Usia
Senyum dan Tawa Sehatkan Jantung
Ironi Negeri Serba Ada Indonesia
18 Nasihat Saat Usia 18
Penyimpangan Perilaku Seks Remaja

2 comments:

  1. Karena budaya instan dan semuanya ingin cepat membuat orang menjadi tidak sabaran. Dari situlah kemarahan sering timbul

    ReplyDelete
  2. @Dewa Made Ari S: Benar dan angat sependapat.... bahwa percepatan di segala lini kehidupan, tak mampu kita imbangi dengan gerak fisik... Terimakasih telah singgah.

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.