Thursday, December 15, 2011

Tinjauan Psikologis Aksi Bakar Diri

Relevankah altruism di zaman seperti ini?


Terlepas dari hukum salah dan benar, banyak yang menyesalkan kenapa seorang mahasiswa UBK harus mengakhiri hidupnya dengan membakar diri di depan istana Presiden beberapa waktu lalu. Beberapa kalangan berpendapat, bukankah akan lebih baik tetap hidup dan berbuat baik lebih banyak? 

Ada yang bertanya, apakah sudah dikategorikan orang yang mengalami depresi berat sehingga mampu membakar dirinya? Pertanyaan itu muncul karena ketidaktahuan alasan yang melatari tindakan tersebut. Andai saja ada alasan yang terungkap, tentu tidak akan menyisakan rasa penasaran dalam benak setiap orang. 

Saat ini sulit untuk memastikan apa yang melatar belakangi terjadinya aksi bakar diri di depan istana waktu itu, karena yang bersangkutan sudah meninggal dunia.

Tuduhan adanya gangguan jiwa tentu tidak sepenuhnya benar, karena untuk memastikan ada tidaknya gangguan jiwa seseorang dan juga mendiagnosis dengan pasti gangguan jiwa yang dialami seseorang setidaknya ada beberapa prosedur yang perlu ditempuh seperti: wawancara klinis, pemeriksaan fisik dan status mental, dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan kepribadian (MMPI, Minnesota Multiphasic Personality Inventory). 

Pada beberapa  kasus percobaan bunuh diri ditemukan adanya suatu gangguan depresi yang berat yang menybebabkan keinginan untuk mengakhiri hidup, juga ditemukan gangguan psikotik yang ditandai dengan adanya semacam halusinasi seperti mendengar suara yang menyuruhnya mengakhiri hidup, atau bisa juga karena suatu waham atau keyakinan yang salah bahwa dengan meninggal maka banyak masalah terselesaikan.

Memperhatikan bahwa korban adalah seorang aktivis maka faktor kepribadian bisa menjadi hal yang patut dipertimbangkan. Pada mereka yang memiliki kepribadian ambang/borderline ada tanda-tanda emosi yang meluap-luap atau impulsif dan sering disertai dorongan untuk menyakiti diri sendiri.

Melihat keseharian korban sebagai aktivis dapat diketahui bahwa mekanisme pertahanan mental untuk mengatasi stresor internal dan eksternal adalah dengan cara altruism yaitu keinginan untuk mengorbankan diri bagi kepentingan orang lain yang sering sekali berlebihan. 

Mana yang menjadi motif Sondang Hutagalung melakukan aksi bunuh diri, hanya dia dan Tuhan yang tahu saat ini.

3 comments:

  1. wow...smpe bakar diri...kyanya terlalu berlebihan...

    mampir balik ya mba...

    udh d follow,klo berkenan follow back...

    thnk u

    ReplyDelete
  2. dengan alasan apa pun bakar diri tidak di benarkan apa lagi bagi aktivis mahasiswa yang berpendidikan, ketahanan mentalnya terlihat dari kejadian tersebut berarti dia tidak kuat terhadap tekanan, sekarang banyak perusahaan yng mepertsyaratkan calon karyawannya yang tahan terhadap tekanan

    ReplyDelete
  3. Memang bakar diri tidak diperkenakan oleh agama manapun,tapi saya memandang berbeda
    karena itu merupakan bentuk teguran keras dari seorang anak bangsa kepada petinggi di negeri ini,untuk memerhatikan nasib rakyat kecil jangan hanya mikirin perut mereka sendiri

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.