Saturday, December 17, 2011

Bunuh Diri Bukan Budaya Indonesia

Tidak Dibenarkan dalam Ajaran Agama Manapun



Emile Durkheim, sosiolog kelahiran Prancis (1858) mengungkapkan analisa bunuh diri sebagai fakta sosial. Bukunya tentang itu berjudul Suicide. Pendapatnya tentang bunuh diri sebagai kritik terhadap beberapa pendapat sebelumnya tentang faktor penyebab bunuh diri, yaitu faktor psikologis, biologis dan ekologis.  Emile Durkheim memandang penyebab bunuh diri dari asfek sosiologis tanpa sepenuhnya menafikan ketiga pandangan  sebelumnya.

Perbedaan pandangan Durkheim dengan pandangan sebelumnya adalah pendapatnya bahwa walau bunuh diri merupakan keputusan individu, tingkat bunuh diri tidak dapat dipandang semata-mata sebagai akumulasi dari tindakan individual ini. Lebih dari itu, tingkat bunuh diri merupakan gejala sosial dalam masyarakat. Ia merupakan fakta sosial sui generis, tak bisa direduksi menjadi fakta lain, memiliki karakter, dan sifat dasarnya sendiri. (Hanneman Samuel. 2010:56).

Tindakan bunuh diri seseorang tidak semata-mata dilakukan karena konflik personal dalam dirinya, tetapi dipengaruhi oleh konflik yang mendera masyarakat. Dari sisi inilah Durkheim melihat bunuh diri sebagai gejala sosial dalam mayarakat.

Seperti yang terjadi dengan tren berbusana, bunuh diri juga tampaknya memiliki tren tersendiri. Beberapa tahun silam masyarakat kita seakan permisif ketika seorang bocah (SD) Garut melakukan percobaan bunuh diri dengan memberikan reward beasiswa karena alasan percobaan bunuh dirinya adalah tidak dapat memenuhi kebutuhan sekolah? Ternyata tindakan bocah itu menjadi tren yang diikuti bocah-bocah lain dan mengharapkan perlakuan yang sama.

Bunuh diri yang terjadi dalam serangkaian ketidak berdayaan masyarakat akan berbagai konflik yang menderanya, buknlah disebabkan oleh konflik personal melainkan oleh ketidak nyamanan mereka terhadap sistem sosial, termasuk pranata sosial yang ada. Bunuh diri semacam ini disebabkan karena adanya kesadaran kolektif tentang berbagai kekecewaan yang terjadi, Durkheim menyebutnya anomic suicide, yaitu bunuh diri disebabkan karena ketidak jelasan norma-norma yang mengatur.

Bunuh diri tidak dipandang sebagai penyimpangan dalam masyarakat tertentu, melainkan sebagai gejala sosial akan ikatan solidaritas yang tinggi, pengorbanan dan penghormatan seperti harakiri di masyarakat Jepang.

Berbeda dengan pandangan Emile Durkheim dan pandangan bangsa Jepang, Indonesia tidak membenarkan tindakan bunuh diri, baik secara kultural maupun religius. Kultur bangsa kita mengajarkan keberanian untuk terus berjuang bukan dengan cara bunuh diri dan atau menyakiti diri. Bahkan dalam pandangan Islam, bunuh diri adalah hal yang sangat dilarang karena putus asa itu dosa.

Bangsa Indonesia memiliki jiwa heroik dengan semangat kepahlawanan untuk mencari kemaslahatan bukan mencari jalan pintas tanpa dipikir secara jernih dan mendalam. Jangan muncul perilaku menyakiti diri sendiri atau bunuh diri dengan istilah optional altruistic suicide, yaitu rela berkorban dan memiliki semangat heroik dengan rela melakukan bunuh diri karena mendapat penghargaan masyarakat.

Apapun alasan yang digunakan untuk tindakan bunuh diri dan aksi bakar diri yang mengatas namakan tindakan heroik, kekecewaan akan sistem yang berlaku, atau disebabkan ikatan solidaritas tinggi maupun karena ada penghargaan dari masyarakat bukanlah budaya kita, dan tidak dibenarkan dalam ajaran agama.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.