Friday, December 16, 2011

Titik Nadir HAM di Indonesia

"NGERI!"
Hanya itukah yang bisa kita ucapkan?



Kriminalitas yang berakhir hilangnya nyawa seseorang begitu sering kita dengar beberapa hari terkhir ini. Mirisnya lagi, kejadian-kejadian pembunuhan itu terjadi di ruang publik. Hanya ada satu kata yang bisa mewakili seluruh perasaan dan rasa takut, "NGERI!"

Penusukan seorang siswa di jalanan dan seorang siswa lain di mal, atau kejadian tewasnya pelajar karena dicelurit pelajar lain hingga pengeroyokan seorang mahasiswa oleh mahasiswa lain di kampusnya sampai tewas menjadi deretan peristiwa kecil yang melibatkan kaum pelajar di ruang publik. Di luar kasus-kasus tersebut masih banyak peristiwa yang menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan sedang berada di titik nadir.

Penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan begitu rendah, tidak saja terjadi pada golongan yang tidak terdidik. Pada golongan terdidik seperti pelajar dan mahasiswa penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia juga sangat rendah. Hal ini sangat mengkhawatirkan mengingat pelajar dan mahasiswa merupakan potensial generasi penerus bangsa.

Pembiaran terjadinya degradasi nilai-nilai kemanusiaan pada kaum terdidik akan berdampak rendahnya sikap negara terhadap HAM rakyatnya di masa depan, ketika amanat diembankan kepada mereka selaku aparatur negara. Solusinya untuk saat ini dan mendesak adalah pendidikan HAM bagi mereka.

Pendidikan HAM bagi pelajar dan mahasiswa bisa diberikan substansinya saja, mengingat padatnya kurikulum saat ini yang tidak memungkinkan Pendidikan HAM berdiri sendiri. Pendidikan HAM harus terselip ke dalam setiap mata pelajaran/kuliah sehingga bisa menjadi roh pada pelajaran/kuliah.

Melalui pendidikan HAM, diharapkan semua siswa/mahasiswa lebih bisa menghormati hak asasi pelajar lain, utamanya hak hidup pelajar lain. Dengan tertanamnya penghormatan terhadap HAM diharapkan tawuran-tawuran pelajar yang kerap berakhir dengan hilangnya nyawa bisa berkurang bahkan hilang sama sekali.

Melalui pendidikan HAM, mahasiswa diharapkan lebih menghormati hak asasi mahasiswa lain sehingga ketika mereka terbentur masalah tidak langsung main hakim sendiri yang berakibat hilangnya nyawa seorang mahasiswa lain. Bahkan mahasiswa bisa menjadi pembela HAM (human right defender).

Posisi mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat tentu harus menjadi pembela rakyat dengan aksi penentangan-penentangan terhadap pelanggaran HAM oleh siapapun. Dengan demikian diharapkan segera terbentuk tatanan bernegara dan bermasyarakat yang menjunjung tinggi HAM.

Baca Juga:
Tinjauan Psikologis Aksi Bakar Diri
SAMPAI JUMPA, BU
Kesempatan Kedua Bisa Datang Setiap Saat
Legenda Pulau Kemaro
Mengenang Sondang Hutagalung
Salah Gunakan Dekstro Berakibat Maut
Menjadi Tokoh Teladan Hidup Sederhana
Kartu Pelajar Bukan Pengganti KTP Atau SIM?

1 comment:

  1. mahasiswa bakar diri kayaknya ada yg salah nech pada pendidikan padahal dia tuh aktivis berpendidikan, salah didik nech rupanya, saya sebagai seorang guru jadi malu harusnya anak itu jangan jadi mahasiswa, jd dari SMA nya jangan lulus dulu, kalau tidak di luluskan guru di tegor pimpinan....

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.