Wednesday, December 7, 2011

Menjadi Tokoh Teladan Hidup Sederhana

Budaya Hidup Sederhana Telah Padam


Hidup sederhana bukan berarti miskin, juga bukan berarti pelit. Hidup sederhana adalah apa adanya, sesuai dengan kebutuhan saat itu. Menjadi kaya tidak ada yang melarang, agama manapun mendorong umatnya menjadi kaya sebab kemiskinan mendekatkan diri pada kejahatan. Akan tetapi harta yang diperoleh tentunya harus berasal dari yang baik dan halal, bukan dari merampok, mencuri, atau menggarong uang rakyat.

Hidup sederhana membutuhkan keteladanan, terutama keteladanan dari para pemimpin di tengah kondisi perekonomian atau kehidupan masyarakat yang masih banyak berada di bawah garis kemiskinan, juga pengangguran. Apalagi saat ini dimana krisis ekonomi Erofa dan Amerika siap berimbas pada ekonomi kita, keteladanan menerapkan pola hidup sederhana sangat dibutuhkan.

Saat ini sangat sulit mencari sosok pemimpin yang sedarhana, hidup apa adanya seperti yang diperlihatkan para tokoh bangsa ini sebelumnya. Bung Hatta, Sjafruddin Prawiranegara, M. Natsir, Burhanuddin Harahap, Buya Hamka, Abdul Haris Nasution, M. Jusuf dan sederetan tokoh lain yang dicatat sejarah memiliki kehidupan sangat sederhana.

Bila sejarah mencatat Bung Hatta, tokoh proklamator dan Wakil Presiden pertama RI tidak kesampaian membeli sepatu Bally sampai akhir jabatannya. Burhanuddin Harahap, saat dilantik menjadi Perdana Menteri RI tidak memiliki jas sehingga terpaksa harus meminjam dan ketika dilantik jas itu terlalu kecil. Sjafruddin Prawiranegara, tidak bisa membeli peralatan bayi saat istrinya melahirkan dan anaknya satu sekolah dengan sopirnya. Padahal saat itu ia seorang Menteri Keuangan RI.  

Sejarah juga mencatat, di masa sekarang banyak pegawai negeri sipil (PNS) memiliki kekayaan berlimpah, tidak sesuai dengan penghasilan yang sesungguhnya. Dua mantan PNS Direktorat Jenderal Pajak, Kementrian Keuangan, Bahasyim Assifie dan Gayus Halomoan Tambunan. Bahasyim divonis Mahkamah Agung (MA) 12 tahun penjara karena memiliki kekayaan Rp 64 miliar, yang sebelumnya disebutkan jaksa penuntut umum simpanannya di berbagai rekening mencapai Rp 932 miliar. Gayus Tambunan, mantan PNS golongan IIIA Ditjen Pajak memiliki rumah mewah di Gading Park View dan apartemen di Cempaka Mas, mobil mewah dan uang tunai lebih dari Rp 75 miliar.

Negara membutuhkan lebih banyak Bung Hatta, M. Natsir, Sjafruddin, Burhanuddin Harahap dan sederet nama lain dalam kesederhanaannya. Negara dan rakyat tidak membutuhkan Gayus dan Bahasyim yang jelas-jelas merampok uang rakyat. 

Berikut adalah daftar gaji pejabat negara saat ini, dengan tabel ini kita bisa menilai sesederhana apa mereka dalam keseharian. Ataukah mereka telah hidup melampaui kapasitas penghasilannya?


No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.