Sunday, December 25, 2011

Membasmi Korupsi Ala Hongkong?

Reformasi Kepolisian Hongkong


Pemerintah Veracruz, negara bagian terbesar di Meksiko membubarkan institusi kepolisian sebagai solusi menghilangkan korupsi sampai ke akarnya dinilai pegiat anti korupsi dunia sebagai tindakan efektif. Sebenarnya, Meksiko bukan negara pertama yang melakukannya. Hongkong adalah perintis di kalangan negara korup dalam memberantas praktik yang banyak menyengsarakan warga di banyak negara itu. 

Menurut Transparency Internasional, berdasarkan analisis indeks persepsi korupsi di berbagai negara di dunia, disimpulkan bahwa praktik korupsi terkait dengan budaya. Namun pandangan TI akhirnya terbantahkan, korupsi sebenarnya tidak terkait interpretasi budaya. Hongkong, salah satu wilayah yang berhasil mematahlan asusmsi itu. Bahkan ICAC (Independent Commision Against Corruption), badan antikorupsi negeri itu menjadi rujukan dunia dalam menghapus praktik korupsi masif.

Hongkong di era 1960-an mencapai perkembangan ekonomi pesat namun tidak dibarengi reformasi di berbagai sektor termasuk reformasi birokrasi di lingkungan kepolisian. Gaji pegawai yang rendah menjadi legitimasi budaya pungli dan korupsi. Kasus-kasus korupsi merebak dari pejabat pemerintah, polisi, pemadam kebakaran, sampai pekerja kebersihan rumah sakit.

Pada masa korupsi merajalela di Hongkong, petugas pemadam kebakaran tidak mau menyemprotkan air ke rumah yang terbakar sebelum menerima "uang semprot". Istilah populer saat itu, mbou jin mbou soi (tak ada uang, tak ada air). Perawat tak mau memberi tambahan selimut kalau tak diberi "uang teh".

Kepolisian Hongkong (Hongkong Royal Police), juga merupakan sumber praktik korupsi serupa itu. Ernest Hunt, mantan perwira polisi, mengatakan kepada Daily Express bahwa 95 persen polisi Hongkong saat itu korup. Polisi Hongkong juga menjalankan kejahatan, lembaga antikorupsi yang sempat ada tidak berjalan karena berhadapan dengan korps sendiri.

Kisah legendaris penangkapan Peter Fitzroy Godber, Kepala Kepolisan Wilayah Wanchai, bisa dijadikan teladan. Pada Juni 1973, ia tiba-tiba pulang ke Inggris saat akan dimintai keterangan setelah diketahui memiliki kekayaan jutaan dolar di rekening sejumlah negara. Kegegeran meledak di tengah tuntutan warga Hongkong bagi penangkapan Godber dan pemberantasan korupsi.

Godber dapat di seret ke pengadilan Hongkong dan dijatuhi hukuman 31 bulan, rumahnya di Inggris disita. Namun setelah bebas pada 1977, Godber ikut lenyap bersama uang jutaan dolar miliknya dan terdata tinggal di Spanyol. Meski Godber bisa menikmati hasil jarahannya, kasus tersebut menjadi titik balik pemberantasan korupsi di negara itu.

ICAC dibentuk 15 Februari 1974 dan menjelma menjadi Komisi Independen Pemberantasan Korupsi dalam wujud yang sebenarnya. Walau pada awal pendiriannya ada kesinisan dari bebagai kalangan sehingga ICAC dipelesetkan kepanjangannya sebagai "I Can Accept Cash" (saya terima uang tunai).

ICAC bertindak tanpa pandang bulu dan bertanggungjawab langsung kepada Gubernur Hongkong. Awalnya, kebanyakan penyidik ICAC adalah sersan yang direkrut khusus dari Kepolisian Inggris. Taktik yang mereka gunakan sangat keras dan agresif, tiba-tiba "menyerbu" kantor polisi dan menanyai semua personel dari atasan hingga bawahan dengan pertanyaan pancingan. Metode ini berjalan efektif, terutama juga dengan aturan hukum yang keras serta konsisten berupa UU Pencegahan Suap (Prevention of Bribery Ordinance, 1971).

Lembaga kepolisian Hongkong di reformasi besar-besaran, termasuk lewat upaya menaikan gaji anggota yang sangat memadai. Tingkat korupsi turun dari 38 persen pada 1977 menjadi 8 persen pada 1982. Kini Hongkong menjadi wiayah kategori "bersih" dan nyaman untuk investasi. 

Kalau Hongkong bisa, pertanyaannya kapan kita bisa?

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.