Sunday, December 18, 2011

Koteka, Sampai Kapan Dipertahankan?

Gundah Dalam Genggam Mesra



Semakin erat genggaman Pertiwi
Semakin gundah rasa Papua
Setiap hasrat diartikan pemberontakan
Tak tahu harus memaki atau mengerang nikmat


Puri Sunyi, 9 Desember 2011
Heru Supanji

Kita mengenal koteka sebagai pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya sebagian penduduk asli Pulau Papua. Sebenarnya koteka terbuat dari kulit labu air,Lagenaria siceraria. Koteka dibuat dengan cara mengeluarkan isi dan biji labu tua dan menjemur kulitnya. 

Secara harfiah, kata koteka bermakna "pakaian", berasal dari bahasa salah satu suku di Paniai. Sebagian suku pegunungan Jayawijaya menyebutnya holim atau horim.

Anggapan umum orang luar Papua, bahwa ukuran dan bentuk koteka berkaitan dengan status pemakainya. Sebenarnya tidak demikian, namun ukuran biasanya berkaitan dengan aktivitas pengguna, hendak bekerja atau upacara. 

Suku-suku di Papua yang banyak dapat dikenali dan dibedakan dari cara mereka menggunakan koteka. Koteka yang pendek digunakan saat bekerja, dan yang panjang dengan hiasan-hiasan digunakan dalam upacara adat. Kendati demikian, setiap suku memiliki perbedaan bentuk koteka. Orang Yali, misalnya, menyukai bentuk labu yang panjang. Berbeda dengan orang Tiom yang biasanya memakai dua labu.

Seiring waktu, koteka semakin kurang populer dipakai sehari-hari. Koteka dilarang dikenakan di kendaraan umum dan sekolah-sekolah. Kalaupun ada, koteka hanya untuk diperjualbelikan sebagai cenderamata.

Di kawasan pegunungan, seperti Wamena, koteka masih dipakai. Untuk berfoto dengan pemakainya, wisatawan harus merogoh kantong beberapa puluh ribu rupiah. Di kawasan pantai, orang lebih sulit lagi menemukannya.

Para misionaris mengampanyekan penggunaan celana pendek sebagai penganti koteka sejak 1950-an, proses yang tidak mudah. Suku Dani di Lembah Baliem saat itu kadang-kadang mengenakan celana, namun tetap mempertahankan koteka.

Pemerintah RI sejak 1960-an pun berupaya mengurangi pemakaian koteka. Melalui para gubernur, sejak Frans Kaisiepo pada 1964, kampanye antikoteka digelar.

Pada 1971, dikenal istilah "operasi koteka" dengan membagi-bagikan pakaian kepada penduduk. Akan tetapi karena tidak ada sabun, pakaian itu akhirnya tak pernah dicuci. Pada akhirnya warga Papua malah terserang penyakit kulit.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.