Saturday, December 24, 2011

Memaknai Sejarah Tragedi Rawagede

Peristiwa Rawagede, kesadaran baru pemaknaan sejarah.


Tragedi Rawagede sebelumnya tidak begitu kita kenal. Para penyusun buku sejarah yang dipergunakan sebagai bahan pelajaran sekolah seolah-olah melewatkan begitu saja peristiwa kemanusiaan yang mengenaskan tersebut. Bahkan pemerintahpun tidak menaruh perhatian yang semestinya.

Pembantaian terhadap rakyat di Rawagede oleh tentara Belanda terjadi pada masa-masa perang  kemerdekaan, yakni ketika pemerintah kolonial Belanda berusaha mengembalikan kekuasaan di bekas tanah jajahannya. Mereka melakukan aksi-aksi militer yang tujuannya menumpas aspirasi kemerdekaan rakyat Indonesia yang baru tumbuh, tetapi dibuat panik karena perlawanan rakyat Indonesia ternyata di luar dugaan.

Rawagede saat itu sebagai pusat titik berkumpulnya berbagai elemen republik, termasuk mereka yang mengungsi dari Jakarta. Pasukan Belanda yang melakukan operasioperasi militer di sekitar Karawang sering mendapat gangguan yang dilakukan oleh laskar-laskar republik. Berbagai laskar perjuangan tersebut memang merupakan kesatuan-kesatuan kecil, tetapi perlawanannya terhadap pihak kolonial terbilang efektif.

Kapten Lukas Sutaryo, salah satu pemimpin laskar yang terkenal di waktu itu. Tentara Belanda dengan berbagai cara mengejarnya. Karena usahanya selalu gagal, akhirnya Belanda menempuh cara paling brutal, rakyat kampung Rawagede dikumpulkan dan dipaksa untuk memberitahukan dimana kapten Lukas berada. Rakyat yang tidak menjawab langsung di tembak. Rumah-rumah dibakar dan bahkan rakyat yang bersembunyi di selokanpun ditembak di tempat. Jumlah korban yang terungkap di kemudian hari sebanyak 431 orang, termasuk anak-anak. Walau jumlah korban tidak disepakati kedua belah pihak, dunia sependapat Belanda telah melakukan kejahatan kemanusiaan.

Pembantaian di Rawagede menjadi pembicaraan di negeri ini atas inisiatif dan usaha perorangan seorang peranakan yang tinggal di Belanda, dialah Jeffry M. Pondaag. Ia mengajak beberapa temannya mendirikan Komite Utang  Kehormatan Belanda yang kemudian berkolaborasi dengan Liesbeth Zegveld, ahli hukum yang memusatkan perhatiannya pada urusan kejahatan kemanusiaan internasional. Prosesnya memakan waktu cukup lama, perkaranya diajukan tahun 1969 dan keputusan hakim baru keluar 2011. 

Upaya Jeffry M. Pondaag dan kawan-kawan tidak mudah karena dihadapkan pada hubungan Indonesia - Belanda yang masih menyisakan ganjalan hukum dan diplomatik. Secara resmi pemerintah Belanda hanya mengakui kedaulatan Republik Indonesia sejak 27 Desember 1949, bukan sejak kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Celah hukum tersebut justru diangkat oleh Liesbeth dan kawan-kawan guna mengadukan perkara kejahatan tentara Belanda di Rawagede ke pengadilan internasional di Den Haag. Sesuai keputusan hakim mahkamah internasional di Den Haag maka tanggal 9 Desember 2011, Pemerintah Kerajaan Belanda harus meminta maaf atas terjadinya kejahatan kemanusiaan yang dilakukan aparatnya di Rawagede  64 tahun silam.  

Bagi kalangan aktivis di Indonesia, peristiwa Rawagede memiliki arti sangat penting. Selama ini berbagai kejahatan di Indonesia belum pernah ada yang ditangani dengan baik, kalaupun ada proses hukumnya berhenti di tengah jalan dengan alasan faktor waktu atau dipandang kadaluwarsa.

Peristiwa Rawagede menimbulkan kesadaran baru bagi kita tentang pemaknaan peristiwa sejarah. Kita sadar, betapa selama ini penghargaan yang kita berikan terhadap sejarah dan pelakunya sangat tidak utuh. Pengertian sejarah cenderung taklid terhadap wacana yang sudah ada sebelumnya dan akibatnya penghargaan terhadap para pelakunyapun sering kurang proporsional.

BACA JUGA
Westerling memerintahkan tembak tengkuk, bahkan pe...
Di Jerman, Memaki "Babi Tua" Denda Rp30 Juta
Wanita, Perkosaan, dan Rawannya Angkutan Umum
Surat dari Pelaku Pembantaian Rawagede
KERINDUANKU
Bukan Asal Bicara
Pria Inilah yang Diburu Belanda di Rawagede
KEMBARA

2 comments:

  1. betul juga selama sekolah seingat saya tidak pernah dibahas peristiwa rawa gede, sebetulnya itu pelanggaran Ham berat karaena yng di bunuh tentara NCA pada saat itu Rakyat bukan tentara

    ReplyDelete
  2. yang belum saya paham sampe sekarang kenapa Belanda belum mengakui kemerdekaan Republik Indonesia .. padahal sudah setengah abah lebih .. semoga dengan diangkatnya kasus rawagede ini akan mengungkap juga kasus-kasus lain yang lama terpendam di negri ini

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.