Wednesday, August 31, 2011

TANAH SURGA

SATIRE:

TANAH SURGA
Oleh : Heru Supanji

Lagu ini menggambarkan eksotisnya tanah air di mata bangsa Eropa saat menginjakan kaki di tanah Nusantara dimasa itu. Konon seorang tuan belanda yang baru turun dari kapal di abad ke 16 dan berjalan-jalan menyusuri ladang dikagetkan oleh seekor ular yang melintas, reflek dia mengambil batu dan menyambit ular itu. Untuk memastikan ular itu benar-benar mati tuan Belanda memukul ular itu dengan sebatang tongkat dan menancapkan tongkat itu sebelum dia pergi.

Seminggu kemudian tuan itu melewati jalan itu lagi dan mendapati batu yang dia gunakan menyambit ular dan tongkat yang dia pakai memukul bertunas. Tuan itu berpikir, subur nian tanah ini! Dia tidak tahu kalau yang dia pakai menyambit adalah ubi jalar yang kering terjemur dan tongkat yang dia pakai adalah pohon singkong.

Koes Plus menggambarkan kisah itu dalam lagu sederhana:

Bukan lautan, hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang datang menghampirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu  jadi tanaman

Kita memang patut bersyukur dianugerahi tanah subur makmur dan kaya raya ini. Belum meninggalpun kita sudah berada di surga. Hanya di surga segalanya menjadi mungkin dan tidak ada yang mustahil. Karena memang Allah menyediakan surga bagi mahluknya yang taat beribadah dan tanpa pamrih.

Hanya di surga, yang membolehkan kita berpuasa 30 hari ketika bangsa lain termasuk negara-negara Arab berpuasa 29 hari. Memang indah hidup di surga, hari raya Idul Fitri saja sampai 2 hari.

Pantas bangsa lain berbondong-bondong memperebutkan tanah surga ini. Tanah surga yang salah urus. Konon untuk mengembalikan kesejahteraan rakyat yang hilang di tanah surga ini, sepertinya  kita harus menghiba agar ada bangsa lain yang sudi menjajah lagi. Mungkinkah?

Tuesday, August 30, 2011

Satire Ramadhan


SHOLATKU INGAT 1 SYAWAL
Oleh: Heru Supanji


Kalau penentuan 1 Ramadan (awal puasa) setiap tahun selalu sama mengapa begitu tiba waktu untuk menetapkan perayaan lebaran 1 Idul Fitri selalu berbeda dan banyak konflik pelik di masyarakat? Bukankah seluruh umat Islam seharusnya sadar bahwa seluruh peradaban Islam itu berasal dari kota suci, yakni Madinah dan Makkah di Arab Saudi?

 Sejak zaman nabi Muhammad hingga sekarang, di dua kota itu tidak pernah keliru menentukan pelaksanaan 1 Ramadan dan 1 Syawal. Hanya di Indonesia saja yang sering terjadi perbedaan.

Arab Saudi dengan Indonesia, terpaut waktu sekitar 4 jam. Jika di Madinah atau Makkah pukul 6.00 pagi maka di Indonesia  pukul 10.00 wib dan tidak ada perbedaan hari. Begitu juga dengan negara paling jauh, misalnya Amerika hanya terpaut sekitar 8 jam dan harinya saat itu sama. Apabila di Arab Senin maka di Indonesia  juga Senin.

Maka jika di Arab Saudi merayakan Idul Fitri, tentunya di Indonesia juga harus melakukan hal yang sama. Karena di sini hanya terjadi perbedaan jam dan bukan terjadi perbedaan hari. Lantas mengapa terjadi perselisihan, jika di Arab Saudi sudah 1 Syawal tetapi mengapa di Indonesia belum? Bukankah umat Islam harus berkiblat ke Madinah atau Makkah?

1 Syawal itu hukumnya haram untuk berpuasa dan jelas berdosa bagi yang tidak mentaatinya. 1 Syawal merupakan ketetapan Allah sejak zaman 'azali' berdasarkan 'sunnatullah' yang tidak akan pernah meleset sedikitpun. Hanya saja, umat Islam terlalu dikotomi. Setiap tahun masehi umat Islam selalu taat dan tidak pernah pernah berselisih pendapat tentang 25 Desember atau yang lainnya.

Sampai sekarang ini umat Islam sendiri lebih takut kepada 'kepentingan' manusia. Tidak takut kepada hukum Allah. Makanya sering timbul bencana alam atau wabah melanda negeri ini. Padahal jika ditilik, bulan, bumi, dan matahari hanya ada satu jumlahnya. Kiblat umat Islam hanya kepada Madinah dan Makkah al Mukaramah.

Andai disadari bahwa dari dulu banyak 'tangan-tangan' yang tidak suka jika umat Islam bersatu, yang selalu ingin mencerai-beraikan keadaan umat Islam. Termasuk mencampuri hari raya kemenangan atau Idul Fitri itu sendiri. Padahal jika dirasakan, justru umat Islam itu sendiri yang rugi besar. Karena tidak ada ketegasan dari para pemimpin, itu pangkalnya!

"Pemimpin kita harus tegas dan tidak boleh tawar-menawar dalam masalah hukum Islam. Hukum Islam itu bukan Nabi Muhammad yang membuat, tetapi Allah yang menentukan. Rasulullah hanya sebagai perantara penyampaian hukum Allah itu," tegas Ustaz Basir Daeng Masabbi seperti  yang aku baca di media.

"Tidak ada solusi lain kecuali mengikuti keputusan ulama yang shahih dari Arab Saudi. Kita harus melakukan hal ini agar selamat di dunia dan akhirat. Sebab mereka di sana yang selalu kita ikuti," imbuh Ustaz Basir Daeng Masabbi.

Islam di Indonesia harus melangsungkan Idul Fitri  mengikuti Arab Saudi. Sebab Madinah dan Makkah itu sendiri merupakan kiblat (pijakan) yang tidak bisa ditawar lagi. Jika Pemerintah salah menetapkan Idul Fitri, maka Pemerintahlah yang harus memikul dosanya.

Imam sudah bertakbir dan aku segera berniat.

"Ushalli sunnatal li'iidil fitri rak'ataini (imamam/makmumam) lillahita'aalaa"
"Aku niat shalat idul fitri dua rakaat (imam/makmum) karena Allah Ta'ala"

Aku menjawab takbir tambahan.

Subhaanallaah wal hamdulillaahi wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar.
"Maha suci Allah dan segala puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah itu Maha Besar"

Ya Allah.... benarkah ini 1 Syawal yang engkau ridhoi?

Puri Sunyi , 30 Agustus 2011.

KEARIFAN LOKAL


LOCAL GENIUS


Pendidikan dan Pembelajaran dengan metode "drill" diterapkan biyungku ketika aku kecil dulu. Menjelang idul fitri seperti ini, aku dituntun untuk melafalkan kalimat "sungkem" yang kurang lebih begini;

 "Sowan simbah ingkeng wayah ngaturaken sungkeming pangabekti, ngaturaken sedaya lepat, lampah setindak saha wiraos saklimah ingkang mboten dipun idini sarak keparenga simbah nglumunturaken pangapunten. Mboten langkung ingkeng wayah nyuwun tambah berkah donga pangestu, mugi-mugi sedaya ingkeng kula sedya kaijabah. Amien"

         LOCAL GENIUS yang hampir hilang ditelan zaman.

pada 30 Agustus 2011 jam 3:54


MAAF LEBARAN DITUNDA SAMPAI LUSA

Fiksi Mini:


MAAF LEBARAN DITUNDA SAMPAI LUSA
Oleh: Heru Supanji

Takbir yang berkumandang syahdu dari surau terputus ajakan imam masjid untuk melaksanakan sholat tarawih. Santap sahur menjadi istimewa  karena ada ketupat dan opor ayam. Ibu-ibu panik menyelamatkan masakan agar tidak basi, anak-anak melipat baju lebaran dengan kecewa, bapa-bapa cemas menghitung biaya hidup tiga kali lipat yang diperpanjang sehari lagi.

Rakyat merasa dipermainkan ketika tersiar kabar resmi, “Maaf lebaran ditunda sampai lusa!”

Puri Sunyi, 30 Agustus 2011

BACA JUGA:
ANCAMAN HUKUM PANCUNG
TANAH SURGA
Satire Ramadhan

SHOLATKU INGAT MUDIK


SHOLATKU INGAT MUDIK
Oleh : Heru Supanji

Itu perjalan mudik paling tidak menyenangkan sepanjang sejarah. Adik-adik pasti mencatatnya dalam hati dan tidak akan melupakannya sepanjang hidupnya. Aku yakin begitu, karena kenangan perjalanan itu juga berbekas di hatiku.

Ketika bus mulai melaju, adik kami menangis minta turun karena pengap dan merasa tidak bisa bernapas karena terhimpit. Sebagian penumpang memandangi kami bergantian, dan aku pura-pura tidak tahu kalau mereka perhatikan.

Sambil menunggu bus di terminal tadi, kami  benar-benar mirip pengungsi dengan seabreg bawaan. Aku anak yang paling besar membawa pakaian bekas tapi masih layak pakai yang di buntal taplak meja, adikku bertugas membawa kantong plastik dengan dua kaleng biskuit di dalamnya. Adikku yang lain menjagai tas besar bawaan Bapak  yang berisi pakaian kami semua untuk ganti selama di udik. Lalu adikku yang bungsu hanya bisa bawa bantal kumalnya yang memang harus dibawa-bawa kalau kami bepergian, dia hanya bisa tentram kalau bisa memeluk bantal itu.

Bus yang kami tumpangi mulai melaju meniggalkan kota. Penumpang bus penuh sesak dan sebagian berdiri, kadang-kadang penumpang yang berdiri itu disuruh jongkok bila melewati beberapa Pos Polisi.

Semakin lama laju bus semakin ugal-ugalan karena berpacu dengan motor-motor yang sering menyalip tiba-tiba sehingga membuat sopir bus yang kami tumpangi naik pitam. Kejar-kejaran seperti itu baru berehenti setelah di jalan didapati banyak lubang disana-sini dan mirip kubangan kerbau.

Sampai di terminal tujuan disambut hujan cukup deras. Belum sempat bernapas lega kami sudah harus tergopoh-gopoh mencari tempat bernaung. Lagi-lagi kami menunggu mobil berikutnya yang akan membawa ke kampung nun jauh. Kami tidak mendapat tempat duduk dan terpaksa berjejer di emperan terminal sambil terkena tempias hujan yang terbawa angin.  

Kuseka leleran air hujan di rambut dan pipi adiku dengan sapu tangan. Kulihat ibuku juga melakukan hal yang sama pada adik kami yang lain. Aku memandang nanar wajah ayah dan ibuku yang sabar, sebagian bajunya basah kena hujan. Kulihat  wajah adik-adikku  yang kelelahan dan lapar. Mereka menatapku dengan iba, hatiku bergetar.

Darah menggelegak di jantungku, dadaku berdegup kencang. Aku mulai marah pada diriku sendiri akan nasib malang mereka. Aku mengutuk diriku sendiri dan betekad untuk  bisa menyediakan sekedar mobil butut untuk tumpangan mereka.

“Makan bakso yuk  biar perutnya hangat.” Tawarku untuk mengurai kebekuan. Adik-adik menggeleng, selama ini mereka nyaris tidak suka jajanan seperti itu karena setiap pagi kami dipaksa makan kenyang agar tidak jajan di sekolah. Uang saku kami  hanya pas untuk berangkat dan pulang sekolah.

Ya Allah, kemiskinan mendera kami dengan keras serta sarat dengan lapar dan dahaga. Tapi justru kemiskinan itu pula yang membuat kami sabar dan tawakal.

Kini empat puluh tahun telah berlalu, adik kami yang dulu selalu membawa bantal kumal kemanapun dia pergi sekarang berada di Afrika tergabung dalam Pasukan PBB untuk misi Perdamaian. Kakaknya yang dulu betugas menjagai bawaan ayah sudah berkeluarga dan hidup bahagia dengan suami dan anaknya. Adikku yang paling dekat, sebentar lagi lulus sertifikasi sebagai guru dan akan makmur hidupnya. Sementara aku…. karyawan rendahan di sebuah pabrik milik teman dan seorang suami dari seorang penjual gado-gado yang cantik…. Alhamdulillah, aku juga buruh ronda malam.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh…., assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh…” , aku mengucap salam dan mengusap wajahku.

Ya Allah…. pipiku basah, tapi bukan karena hujan. Aku rindu untuk mudik seperti empat puluh tahun lalu…. Tapi kapan? Tanggal 1 Syawal 1432 H yang jadi bahan perdebatan baru saja diputuskan, dan itu berarti lusa karena hilal senja ini tidak nampak di ufuk.

Puri Sunyi, 30 Agustus 2011 

Monday, August 29, 2011

TIPS BUAT KAMERAMAN


Persiapan Kegiatan Lapangan


Persiapan yang matang dan sempurna akan menghindarkan kita dari kesalahan-kesalahan berupa pengulangan ambil gambar atau juga insiden akibat kejadian tak terduga. Tips ini berlaku buat semua yang harus berurusan dengan kamera, baik kameraman senior ataupun pemula.


1. Diskusikan dan prediksikan terlebih dahulu hal yang tidak terduga yang akan terjadi dengan team, tentang apa yang akan anda liput. 

2.Setting perlengkapan berikut cadangan, jika outddoor lengkapi dengan bag hacking…

3.Di TKP, searching sejenak obyek dan subyek serta engel dan kemungkinan-kemungkinan yg bias saja terjadi diluar teknik : Misal daun/ranting yg mungkin jatuh, burung/binatang liar yg mendadak melintas juga orang atau kendaraan yg mungkin mengganggu…

4.Merekamlah dengan selektif, jangan ada gambar mubazir ato goyang dan jangan pernah ragu2. Disiplinlah dengan star,stop dan record serta biasakan edit by kamera.

5.Diamlah ketika mengambil gambar (tutup mulut), karena audio membuat video menjadi tiga dimensi dan anda membutuhkan suara suasana sekitar

6.Jika harus mengarahkan obyek, jangan mengarahkan sambil merekam. Tapi arahkan dulu bila perlu memberi contoh baru rekamlah. Agar anda mendapat natural soundnya tanpa ada suaramu yang berisik

7.Tahan semua shoot antara 8 - 15 detik untuk mempermudah editing

8.Jangan mengulang gambar dengan obyek,komposisi dan angle yang sama.(pemborosan)..kecuali adegan salah …

9.Minimalis pergerakan kamera. Pergerakan kamera akan sangat indah jika dibarengi maksud dan motivasi. Contoh : panning untuk menunjukan luas bangunan

10.Mulailah dan akhirilah pergerakan kamera dengan still shoot 8 detik, untuk mempermudah editing

11.Merekamlah dalam sequence : wide shoot, medium, detail, variatif angle

12.Selalu gunakan tripod ketika merekam subyek yang diam

13.Selalu gunakan tripod ketika wawancara subyek yang sedang duduk

14.Jangan malas dekatilah obyek ketika mengambil gambar, minimalis zoom in karena gambar akan labil dan goyang

15.Jika subyek yang kamu wawancara melihat / sadar kamera, taruh dia tepat ditengah Close Up / Medium Close Up

16.Rubahlah angle dan perspektif seindah mungkin. Jangan perlakukan kamera seperti matamu

17.Jika subyek melihat reporter, eye level composition sangat bagus. Gunakan aturan "nose room" and " looking room" letakkan ujung hidungnya tepat di tengah kamera, jangan letakkan subyek di tengah dalam komposisi ini

18.Beritahu subyek supaya melihat reporter dan jangan pernah melihat kamera serta jangan membuat kontak mata selama merekam

19.Jika wawancara lebih dari satu subyek letakkan looking room yang berbeda antara satu subyek yang satu dengan yang lain

20.Sebagai gambar perkenalan ketika editing, rekamlah sequence perbincangan antara reporter dan subyek ( 5 - 8 angle ) 

21.Tebarlah pandangan jangan lengah waspadai setiap momen

22.Jadilah peramal dan prediksikan apa yang akan terjadi nanti

23.Untuk mendapat Depth Of Field yang sempurna, maksimalkan zoom in dan mainkan fokus

24.Buatlah sedikit efek untuk membuang kebosanan gambar. Change Focus antar satu subyek ke subyek yang lain, Efek Background menjauh / mendekat dari subyek : lakukan pergerakan track out sembari zoom in dan sebaliknya

25.Jangan ragu untuk mengambil gambar Extrem Close Up

26.Cobalah mengedit karena dengan begitu kamu akan tahu gambar apa yang mubazir dan mana yang kamu butuhkan


Sumber: (Germindo production) Gunawan Sejati

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H


بسم اللّه الرَّحمنالرَّ حيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Heru Supanji  dan Nila Sapti Supanji  dan segenap keluarga besar mengucapkan 
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H , Semoga Teman-teman Komunitas Sastra Sukabumi  berkenan memafkan semua kekhilafan dan salah kami selama terjalin persahabatan
 di Wadah kita bersama yaitu 
Komunitas Sastra Sukabumi
dengan penuh  harapan dan do'a :
اللهم بلغنا رمظان
جعلنا الله و إياكم من العائدين الفا ئزين

 المقبو لين وكل عام وانتم وبخير
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته





MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN


  • بسم اللّه الرَّحمن الرَّحيم



    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Hari Kemenangan nan Fitri, insya Allah besok, aku ingin jadi orang pertama yang minta maaf dan dimaafkan segala khilaf dan dosa..

    - untuk orang yang MENYAYANGI ku : makasih telah membuatku menjadi orang yang begitu sempurna dimatamu ..

    - untuk orang yang MENYAKITI ku : terimakasih banyak telah mengajarkanku arti kesabaran dan semoga kamu tidak pernah merasakan sakit yang aku rasakan ..

    - untuk orang yang pernah aku SAKITI : maafkanlah kekhilafanku.. aku hanyalah manusia yang jauh dari kesempurnaan..

    - untuk SAHABAT ku : mungkin kita memiliki banyak perbedaan, namun ga dapat dipungkiri lagi kalau aku sangat membutuhkanmu..

    - untuk orang yang menganggapku SAUDARA : makasih telah menyayangiku seikhlas hatimu, memberi kasih sayang dan perhatian kepada kehidupanku.
    Maafkan segala kesalahan yg disengaja maupun yg tidak...mohon maaf lahir dan batin dengan 
    penuh. harapan dan do'a :

    اللهم بلغنا رمظان


    جعلنا الله و إياكم من العائدين الفا ئزين

     المقبولين وكل عام وانتم وبخير


    و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


    Salam Tommy n keluarga



SHOLATKU INGAT JANUR
Oleh: Heru Supanji

Walau semua orang sepakat lebaran Idul Fitri jatuh pada 1 Syawal 1432 H, tapi semua masih simpang siur mengenai hari apa tepatnya. Penentuan hari lebaran sepertinya selalu menuai perbedaan, dan celakanya kita selalu mengagung-agungkan perbedaan untuk menutupi hukum yang banci. Kita dibuat terlena semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tidak ada ketegasan dari pemerintah, itu intinya!

Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cerdik Pandai mestinya sebagai Tigo Tungku Sajarangan  semestinya lebih punya wibawa untuk menetukan hitam putih negeri dan bangsa ini. Ninik Mamak suaranya sudah dianggap suara kampungan dan tidak mewakili moderenisasi di era global. Alim Ulama dipersilakan berlomba di kancah politik agar terbebas dari membina umat, soalnya segelintir elit politik yang menjadi penguasa di pemerintahan menginginkan umat bodoh sebanyak mungkin untuk melanggengkan jabatannya. Cerdik Pandai juga hanya pintar mengkritisi jalannya pemerintahan tanpa bisa memberi jalan keluar, lihat saja dengan reformasi yang digulirkan dengan biaya yang luar biasa?

Adat dan tradisi yang masih dipegang teguh dari warisan Tigo Tungku Sajarangan dan nyaris tidak mengalami sentuhan modernisasi tinggal satu, ketupat lebaran. Lihat saja dimana-mana bentuk ketupat relatif sama.

Ketupat adalah sejenis makanan yang terbuat dari nasi dan dibungkus oleh daun kelapa muda atau dikenal juga dengan janur. Umumnya ketupat identik sebagai hidangan spesial lebaran, tradisi ketupat ini diperkirakan berasal dari saat Islam masuk ke tanah Jawa.

 Dalam sejarah, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada masyarakat Jawa. Beliau membudayakan dua kali Bakda, yaitu “Bakda Lebaran” dan “Bakda Kupat”. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut Bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah sudah selesai dimasak, kupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan.

 Ketupat sendiri menurut para ahli memiliki beberapa arti, diantaranya adalah mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat. Yang kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Yang ketiga mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri.

Ngomong-ngomong soal janur aku jadi teringat Danurwenda, anak angkat Abah di kampung. Entah sejak kapan anak itu ada di keluarga kami, yang jelas sebelum kami anak-anaknya lahir dia sudah ada di dalam daftar keluarga. Dan entah siapa yang memulai memanggil namanya dengan sebutan Janur.

“Janur.” Kata Abah pendek, dan tidak lama kemudian Danurwenda kembali setelah beberapa saat pergi. Dia membawa daun kelapa muda yang masih berwarna kekuningan  dan bersetrip hijau pada tepinya. Seringnya Abah bilang ‘janur’ itu yang membuat kami yang waktu itu masih kecil-kecil menyimpulkan kalau dia benama “Janur”.

Kenangan kami bersama Janur ibarat dongeng seribu satu malam. Buatku figur seorang Janur mewakili ketokohan Abah kami di keluarga. Di musim hujan ketika air sungai meluap dan kami tidak bisa menyebrang, hanya Janur yang mengendong kami satu demi satu kakak beradik agar bisa pergi ke sekolah di seberang sungai. Di masa remaja, Janur juga yang sering membukakan pintu regol ketika kami pulang mengendap-endap di malam hari. Bahkan ketika kami menikah satu demi satu, Janur juga yang paling sibuk menjadi even organizer bagi perhelatan pernikahan. Janur is the best buat kami sekeluarga.

Janur menggantikan tugas kami mengurus Abah dan Umi di kampung, karena kami kakak beradik lima bersaudara merantau semua. Aku sendiri ikut suami di Sukabumi. Eik adikku yang paling cantik jadi guru di Linggau, sekota dengan adikku Wawan  yang jadi Polisi.  Endi paling dekat dengan aku karena dia di Bekasi, sedangkan Dadang ada di Jawa Timur paling jauh sendiri dari rumah kami di Talang Ratu - Palembang.

Sering dalam sholatku aku mendo’akan kesehatan orang tua kami, betapa kesepian mereka sepeninggal anak-anaknya yang tidak bisa pulang kampung walau  setahun sekalipun. Terbayang saat-saat menjelang lebaran seperti ini, ibu sibuk membuat pesanan kue-kue lebaran dan abah membuat ketupat dari janur yang dipetik dari pohon kelapa yang ada di pekarangan. Kami lima bersaudara masing-masing punya pohon kelapa satu, karena setiap anaknya lahir Abah selalu menandainya dengan menanam kitri. Tentunya yang paling sibuk lagi Danurwenda, si Janur yang harus selalu memanjat pohon itu satu demi satu untuk melancarkan bisnis Abah melayani pesanan ketupat.

“Allahummaghfirli wa liwalidayya warchamhumaa kamaa robbayaani shoghiiroo”
Yaa Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku waktu kecil.

Ya Allah, sayangi Janur… sebagai mana dia menyayangi kami sejak kecil dan tetap menyayangi Abah dan Umi kami….. berikan dia kesehatan untuk tetap menjaga orangtua kami.

Ampunkan kami ya Abah dan Umi…. Ampunkan kami duhai Janur….. mungkin lebaran tahun depan atau tahun depannya lagi kami baru bisa pulang kampung, atau tidak pernah sama sekali? Entahlah….

Puri Sunyi, 29 Agustus 2011 

HUKUMAN YANG TIDAK MEMBATALKAN PUASA


NAZARUDDIN DIHUKUM MENULIS SURAT
 
OLeh: Heru Supanji

Taufik Syahrawi (SUN TV)

Seorang murid bengal yang tertangkap oleh Pembina Kesiswaan karena sering mangkir dan membolos dari sekolah dibawa ke ruang Bimbingan Konseling / Bimbingan Penyuluhan. Anak yang sebenarnya cerdas itu tidak diizinkan mengkuti pelajaran seperti biasa sambil menunggu kedatangan orangtuanya yang di telpon Waka Kesiswaan. 

Karena mengingat bulan puasa dimana aktivitas pisik dibatasi maka guru Pendidikan jasmani tidak bisa memberikan hukuman lari keliling lapangan basket seperti biasa. Guru pembina Paskibra dan Pramuka juga tidak bisa menjemur Nazaruddin sambil menghormat bendera di lapangan. Guru Pendidikan Agama Islam juga membebaskannya dari menyikat tempat wudhu dan membersihan karpet mushala sekolah. 

Seorang guru pembina seni mengusulkan hukuman yang memadai setelah berkonsultasi dengan guru Bahasa Indonesia, maka diputuskan hukuman yang cocok yaitu membuat karangan. Nazaruddin di minta membuat surat pernyataan. 

Beberapa saat berselang ketika surat itu sudah selesai, dipampanglah surat karya Nazaruddin itu di majalah dinding SDN Rutan Mako Brimob. Kebetulan orang tua Nazaruddin juga baru sampai sekolah ketika Nazaruddin selesai mencapkan paku payung terakhir di pojok kiri bawah surat itu.

Begini karya si cerdas Nazaruddin di mata guru, orang tua dan teman-temannya: 

JAKARTA 25 AGUSTUS 2011

Kepada Yth
Penyidik KPK
Di dalam perkara pembangunan wisma atlet
Di Tempat

Perihal: Pernyataan


Dengan Hormat
Saya, M. Nazaruddin untuk sementara ini berdomisili di Rutan Mako Brimob bersama ini menyatakan:

1. Bahwa saya kalau dipindahkan dari Rutan Mako Brimob, saya akan menjelaskan fakta sebenarnya terkait perkara pembangunan wisma atlet di Palembang.

2. Bahwa saya akan kooperatif di dalam penyidikan dan menjelaskan nama-nama yang terkait di perkara tersebut.Bahwa surat pernyataan ini saya buat tanpa ada tekanan dari pihak manapun.

Hormat Saya

M. Nazaruddin

Tembusan:1. pimpinan KPK,
2. LSM LSM
3. media cetak elektronik.

Sunday, August 28, 2011

Menanti


Menanti

Oleh: Heru Supanji

Di tepi jalan menanti suntingan hati
Yang pernah berjanji sehidup semati
Kemarin dia pergi
Janji kembali
Sampai hari ini
Atau nanti
Menanti

Puri Sunyi, 6 Juli 2011


Izinkan Aku Menang







Izinkan Aku Menang .

Hari ke hari berlalu ...
Tak mampu ku menahannya .
Peristiwa demi peristiwa datang...
Tak mampu ku mencegahnya .

Tiada ku mau kepenatan ini .
Tiada ku ingin kesengsaraan ini .
Aku juga ingin seperti mereka
yang Bahagia di segala penjuru-MU .

Tapi...Inilah aku .
Aku menerima semua Pemberian-MU atas hidupku .
Gejolak hidup pernah KAU kirimkan..
dalam waktuku lalu .
Terjerembab dan memar hidupku .
Menahan agar kutak Lebur .
Dan...Aku Bisa .

Sekarang Izinkan aku Bahagia YA ILLAHI...
Meniti hari didepanku dengan senyuman .
Dengan Do'a -do'a Indahku .
Izinkan aku lebih mendekat dalam dekapan Kasih-MU .

Biarlah semua lepas dari tanganku .
Aku percaya ini Rencana-MU yang terbaik buatku .
Biarkan yang Menyisa ini bersamaku , menemaniku Menuju-MU .

Akhirnya...sampailah langkahku dipenghujung Bulan Suci-MU .
Pintu Kemenangan itu samar dapat kulihat .
Tuntun langkahku tetap menuju Pintu-MU YA RAHMATULLOH...
Dan...bukakan untukku .
Didalam sana aku ingin bersama saudara-saudaraku...
Menikmati kemenangan Di Hari Raya 1 Syawal nanti .
Izinkan aku Menang bersama Mereka .

Ditulis Oleh : Nila Sapti Supanji .
28 Ramadhan 1432 H . ( BV23A )

Cepat Lebaran Sudah Datang

Yus Marni

Cepat Lebaran Sudah Datang




Ayo naiklah ke truk ini, nanti keburu telat!

...

cepat nanti duitnya keburu dijadikan ketupat, rendang , baju baru dan sandal baru

Turun!

turunlah berpencarlah disitu, 


dilampu merah itu, ditrotoar itu, di jalan-jalan di sudut pasar dan mall itu!

Jangan terlambat!

Mumpung mereka lagi sibuk dan mencarimu, fitri, suci...kejarlah mereka...

mereka lagi berusaha mencapai kefitrianmu dan menggapai kesucianmu.

Ayo suci tadahkan tanganmu tengadah sepenuh wajah

fitri tadahkan tanganmu tengadah dengan muka terdedah

keruk simpati para dermawan, alirkan dana buat fakir miskin dan anak jalanan

Fitri, Suci ...raih simpati mereka ,...

mumpung mereka sedang berupaya meraih fitri yang suci

kumpulkan recehan mereka, kumpulkan sedekah dan zakat fitrah mereka

kemudian setelah itu kembali berkumpul padaku

setorkan pendapatanmu, buat bensin truk yang membawamu tadi,...


jangan khawatir kan kuberikan kalian imbalan sebungkus nasi.

kumpulkan semua pendapatan padaku 


jika masih ingin bergabung di kerajaan pengemis yang ku koordinir

Ku kalungkan pemandangan yang menyedihkan dalam puisi 270811



Saturday, August 27, 2011

WINA PRIVATE COURSE: FIKSI MINI

WINA PRIVATE COURSE: FIKSI MINI: ADA APA DENGAN MATAMU Oleh: Heru Supanji Ketika wakil rakyat di Gedung DPR tidak dipercaya rakyat, digelar rapat raksasa yang dipimpi...

Thursday, August 25, 2011

PROSA

BIS SEPERTI APA YANG KAU TUNGGU?
by Anoname

Cinta itu sama seperti orang yang menunggu bis. Sebuah bis datang, dan kamu bilang, 'Wah.. terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman neh !

Aku tunggu bis berikutnya aja deh.'

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, 'Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah..'

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang, 'Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku'. Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.

Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.

Ketika bis kelima datang, kamu sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju ! Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.

Moral dari cerita ini: sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.

Tidak ada salahnya memiliki 'persyaratan' untuk 'calon', tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita.

Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kamu masih bisa berteriak 'Kiri' ! dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti, kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu, agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Lalu bis seperti apa yang kamu tunggu ??




Puri Sunyi, 23 Agustus 2011

Photo by Andreva_Moogle

PUISI

Menanti

Oleh: Heru Supanji

Di tepi jalan menanti suntingan hati
Yang pernah berjanji sehidup semati
Kemarin dia pergi
Janji kembali
Sampai hari ini
Atau nanti
Menanti

Puri Sunyi, 6 Juli 2011

Resah Dalam Penantian

oleh Nila Sapti Supanji

Kerendahan hati ini bagai benalu, 
saat kudamba tautan hati kita, 
selalu ada tuk bersama.....
Namun, tak kau hiraukan diriku...........
Ketinggian hati ini bagai bumerang, 
saat tak kau katakan sejujurnya padaku
tentang betapa Arogannya aku dimatamu,
walau padaku kau katakan suka.....
Antara hati kita mulai tak bicara, 
gaung yang mendayu bagai bunyi sengau, 
suara hati kita mulai terdengar parau, 
sering kini lebih baik diam tak bersuara, 
ketakutan hatiku mulai meresahkan hatimu, 
kaupun mulai membenci sikapku,
keraguanku kini jadi kebimbanganmu, 
perlahan kau mulai menyendiri...
Pedih hati ini mungkin tak sepedih hatinya 
yang lebih dulu mengenalmu sejak bertahun lalu, 
Aku yang telah terbiasa disakiti mulai kebal, 
Kau biarkan ruang hampa ini terlalu lama, 
tangan kananmu menggenggam tambang,
tangan kirimu menggapai beruang terbang, 
dimana sesungguhnya hatimu kau simpan....
kulihat lagi binar matamu tak pernah jemu, 
kudengar lagi kalimatmu tak pernah ragu, 
adakah keresahanku kau rasakan juga...
adakah penantianku sia-sia....?
pada 13 Desember 2009 jam 18:33

Mati Sebelum Mati
Oleh : Heru Supanji

Aku tak ’kan berkedip
Walau kau hunjam jantungku dengan seribu belati
Karena aku tak bisa lagi mati
Kau terlambat sepersejuta detik
Aku sudah mati sebelum mati


Puri Sunyi, 09;23 – 5 Juli 2011



HATI YANG BEKU

Oleh: Heru Supanji

Hatiku membatu sedingin pualam purba
Tak bergeming setegar karang dihantam gelombang
Aku kehilangan rasa
Tubuh dan jiwa ini meradang dirasuk angkara
Bagai serigala lapar memakan dirinya sendiri

Puri Sunyi, 26 Juli 2011

SENTILAN SATIRE


Mualaf:






SHOLATKU INGAT  ALLAH
Oleh : Heru Supanji

“Kenapa nggak jadi taraweh di masjid?”, tanya  istriku penuh selidik.
Sambil menggelar sajadah di pojok kamar kujawab,” Aku ingin berhenti hidup selalu berpamrih. Tadi imam mengumumkan ibadah sunah setara ibadah wajib dan ibadah wajib dinaikan seratus kali pahalanya. Bagaimana aku harus meng-imam padanya?”

Puri Sunyi, 1 Agustus 2011



SHOLATKU INGAT SANDAL
Oleh: Heru Supanji

Pulang tarawih di malam hari ke dua suamiku bersungut-sungut dan wajahnya tertekuk. “Bagaimana aku bisa sholat dengan khusu kalau ingat sendal terus?”
“Kan sandalnya bisa dititip ke penjaga WC?”, aku menimpali.
“Sandal imam juga hilang dari penitipan karena penjaganya ikut sholat. Orang yang ambil sendal itu Islam juga kan?”, sergah suamiku tambah meradang.

Puri Sunyi, 2 Agustus 2011


SHOLATKU INGAT WALIKOTA
Oleh: Heru Supanji


“Memangnya tidak afdol ya Pak kalau sholat subuh tidak di mesjid agung?” , tanya istriku saat aku memanaskan mesin mobil.
“Disana kan di absen.”, jawabku pendek.
Istriku cuma tertawa dan mengangguk-angguk entah apa maksudnya dan membuatku akhirnya memutuskan sholat di mesjid depan rumah dan nanti sholat lagi di mesjid agung.

Puri Sunyi, 3 Agustus 2011.

SHOLATKU INGAT KELAPA MUDA
Oleh : Heru Supanji



“Allahu Akbar…”, takbiraotul ikhrom mengikuti imam dan membaca iftitah….
Puasa hari ini kok berat nian ya? Musim panas ini membuat cuaca terasa sepanas di pintu neraka. Wah enaknya tuh minum es kelapa muda pakai sirup pandan dan diberi es.
“Allahu Akbar…”, rukuk mengikuti imam….
Buat buka nanti anak-anak pasti akan suka cita minum es kelapa muda. Harus cari kemana nih kelapa muda?
“Allahu Akbar…”, I’tidal ikut imam….
Sambil pulang nanti kan bisa beli di jalan, sekarang di trotoar banyak penjual kelapa muda.
“Allahu Akbar…”, sujud mencium sajadah…
Penjual kelapa kemarin tidak amanah, di pesan kelapa muda kok ngasih yang tua. Hari ini minta di kupas di tempat saja ah….
“Assalamualaikum waroh matullah…..”

Puri Sunyi, 4 Agustus 2011

SHOLATKU INGAT KAKUS
Oleh: Heru Supanji


Aku mengambil tempat di belakang Abah yang bertindak sebagai imam. Kami sholat di kamar kecil rumah kami. Memiliki rumah sendiri adalah idaman setiap orang. Hari ini kami undang Abah, begitu sebutan untuk ayah mertuaku agar mendo’akan rumah mungil kami. Inilah rumah tipe 21 yang mampu kami miliki setelah bertahun-tahun jadi pegawai kecil.
“Ini yang membangun sepertinya bukan orang Islam.” Kata Abah sesaat sebelum kami berwudhu tadi.
 “Lihat kakusnya menghadap kiblat.” Dalam sujudku ucapan Abah terngiang kembali.
Astaghfirullah….

Puri Sunyi, 5 Agustus 2011

SHOLATKU INGAT MUKENAH
Oleh: Heru Supanji


Hampir sepuluh hari tidak berwudhu dan sholat di rumah karena harus mengikuti pelatihan kerja di luar kota. Jangan tanya bagaimana rasa kangen di hati ini menumpuk di sudut hati. Selain kangen sholat berjamaah tentunya ada kangen yang lain.
“Sudah sholat duhur yang?” kataku dari hape sebelum pulang pelatihan.
“Ini baru selesai sholat.” Jawab istriku menentramkan hati, sebagai isyarat kalau dia tidak sedang berhalangan karena ‘ada tamu’.
Menjelang waktu ashar aku sampai di rumah. Langkah tegap dan gagah menjadi gontai ketika di jemuran kulihat mukenah tersampir, sebagai isyarat ‘ada tamu’. Setelah minum dan istirahat kutinggalkan istri dan anak-anak yang sedang membongkar oleh-oleh dari puncak untuk sholat ashar.
Setelah iftitah menjelang alfatihah bayangan mukena tersampir di jemuran berkelebat. Astaghfirullah…, semakin berusaha khusu semakin terlihat lambaian mukenah itu tertiup angin. Gairah yang tertahan sekian lama mendadak sirna, istriku ‘ada tamu’.
Usai mengucap salam kuteruskan membaca tasbih, sempat kulirik di belakangku istriku menyelesaikan sujud rakaat terakhir. Aku menunnggunya dengan seribu tanya hingga dia mengucap salam dan lalu sungkem seperti biasa kalau kami sholat berjamaah.
“Tadi tetangga sebelah menitipkan jemuran karena mendadak harus menengok orangtuanya yang sakit.” Istriku menjelaskan karena membaca keherananku. “Karena hujan jadi aku angkat dan kuangin-anginkan diteras.” 

Puri Sunyi, 6 Agustus 2011

SHOLATKU INGAT HP
Oleh: Heru Supanji


HP bukan barang mewah, semua orang sepertinya harus punya dan menjadi kebutuhan pokok. Banyak orang membawa HP tapi tidak pernah berdering sebagai tanda dia orang penting yang dicari-cari keberadannya. HP nya hanya di pegang atau dimainkan buat menjelajahi dunia maya atau mendengarkan musik,  cuma sekedar alat genggam yang menunjukan setrata sosial tertentu. HP ternyata bagian dari gengsi.
“Emang siapa yang mau telpon?”, begitu alasan istriku saat menolak kubelikan HP.
Akhirnya HP bekas seharga dua karung beras buat istriku aku yang bawa-bawa untuk sekedar aksi, karena seperti kata istriku – siapa yang mau telpon?
Tadi khotib sebelum bertindak sebagai imam sholat Jum’at menganjurkan agar yang membawa HP atau telpon genggam mematikanya atau membuatnya diam tanpa suara. Sampai memasuki rakaat ke dua, pikiranku dipenuhi bayangan HP. HP seharga dua karung beras itu menari-nari. Semakin kutepis, semakin genit.
“Allahu Akbar…”, aku bersujud mengikuti imam. Terbayang HP yang tergeletak di atas tempat wudhu.
“Allahu Akbar…”, aku duduk diantara dua sujud. Selesai sholat ini HP itu pasti sudah raib, batinku. Ampunkan aku gusti…. Seharusnya aku membeli dua karung beras. 
Puri Sunyi, 7 Agustus 2011

SHOLATKU INGAT RECEHAN SERATUS
Oleh: Heru Supanji


Hal-hal yang bersipat receh memang kadang dianggap sepele, karena kecil. Recehan 100, 200 dan 500 sering dengan mudah ditemui di saku, laci, bupet dan kadang-kadang di lantai. Anak-anak sekarang tidak mau diberi uang recehan karena malu menjajankannya walau recehan itu mungkin berjumlah ribuan.
“Malu, seperti om pengemis.” Demikian alasan anakku saat ditanya kenapa tidak mau diberi uang recehan. Sejak belajar bicara dan mengenal orang aku mengajarkan sebutan ‘Om Pengemis’ bagi musafir jalanan, karena kebanyakan dari mereka ada yang relatif gagah.
Bila recehan itu ada di saku maka akan merusak HP karena menggores permukaan LCD, jadi sebaiknya recehan itu jangan di simpan di saku bersama HP. Bila recehan ada di laci maka hanya akan menjadi barang simpanan yang tidak akan berarti.
“Kumpulkan semua uang receh yang kita temukan, niatkan ibadah dengan uang recehan itu.” Anjur ustad saat memberikan kultum sebelum berbuka puasa di masjid.
“Termasuk recehan kembalian uang belanja sehari-hari, kumpulkan di sebuah kaleng bekas kue. Setelah satu bulan tidak perlu menghitungnya lagi agar tidak tergoda memiliki, bawa ke mesjid atau berikan pada fakir miskin. Bisa juga kita bawa kaleng kue itu untuk kita bagikan isinya ke setiap pengemis yang kita temui tanpa berpikir bahwa pengemis itu masih mampu bekerja, tanpa menuduh bahwa pengemis itu malas bekerja.”  Ujar ustad menjelaskan.
Kultum, kuliah tujuh menit yang singkat padat dan berkesan berkesan ditutup dengan tajil bersama yang diikuti seluruh jamaah masjid juga para tamu yang ke magriban di jalan. Usai berbuka bersama segera kami membentuk shaf untuk sholat magrib.
Selama sholat pikiranku gundah dan melayang-layang pada uang receh. Bukan karena ceramah pak ustad yang berkesan, juga bukan karena nasib para pengemis atau fakir miskin itu yang lebih membutuhkan tetapi karena ucapan istriku yang menyusul ke mesjid dan disampaikan dengan terburu-buru dengan air mata berurai sesaat sebelum aku berwudhu.
“Allhu Akbar…” aku bersujud pada rakaat terakhir.
“Ya Allah… keluarkan recehan seratus rupiah yang tertelan anakku. Sehatkanlah anakku, ya Allah…..” Jerit batinku dalam sujud.

Puri Sunyi, 8 Agustus 2011


SHOLATKU INGAT QUTEX
Oleh: Heru Supanji


 “Ini kan urusan perempuan? “, begitu tanyaku.
“Justru karena ini urusan perempuan maka aku ingin membicarakannya,” jawabmu.
“ Dan yang paling asyik buat lelaki apalagi kalau bukan bergunjing soal perempuan? Tapi tak usah khawatir akan membatalkan puasamu, aku hanya ingin bicarakan soal kukunya yang lentik.” Kau menjelaskan topik yang ingin kau bahas dalam obrolan di dijalan menuju mushala saat istirahat siang untuk sholat duhur.
Aku hanya tertawa seperti biasa, dan kau melanjutkan ceramahmu yang kadang tak peduli kapan dan dimana. Aku mendukung sepenuhnya bahwa kau harus sering berlatih berbicara di depan orang lain, seperti yang diajarkan ketika kita kursus dakwah di Remaja Mesjid Agung semasa SMP dulu.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah hukum wudhunya orang yang menggunakan kutek pada kuku-kukunya ?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:
Sesungguhnya kutek itu tidak boleh dipergunakan wanita jika ia hendak shalat, karena kutek tersebut akan menghalangi mengalirnya air dalam bersuci , dan segala sesuatu yang menghalangi mengalirnya air tidak boleh dipergunakan oleh orang yang hendak berwudhu atau mandi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

Artinya : Maka basuhlah mukamu dan tanganmu .
Jika wanita ini menggunakan kutek pada kukunya, maka hal itu akan menghalangi mengalirnya air hingga tidak bisa dipastikan bahwa ia telah mencuci tangannya, dengan demikian ia telah meninggalkan satu kewajiban di antara beberapa yang wajib dalam berwudhu atau mandi.
Adapun bagi wanita yang tidak shalat, seperti wanita yang mendapat haidh, maka tidak ada dosa baginya jika ia menggunakan kutek tersebut, akan tetapi perlu  diketahui bahwa kebiasaaan-kebiasaan tersebut adalah kebiasaan wanita-wanita kafir, dan menggunakan kutek tersebut tidak dibolehkan karena terdapat unsur menyerupai mereka.
“Maka basuhlah mukamu dan tanganmu.” Ya Allah…. Kalimat itu menghunjam di sanubariku, aku belum sempurna mensucikan pikiran dan perbuatanku. Ampunkan aku ya Allah, dalam sujud sholatku yang belum sempurna aku masih terbayang qutex semerah warna bibir istriku. Adakah aku telah menjerumuskannya ke api neraka?

Puri Sunyi, 9 Agustus 2011

SHOLATKU INGAT DEDE YUSUF
Oleh: Heru Supanji


Kamsun mengamuk dengan membawa parang teracung-acung ke udara di depan rumah Lilis kembang desa itu. Teriakan penuh ancaman Kamsun kepada penghuni rumah itu membuat penduduk desa berhamburan datang dan bergerombol di jalan depan rumah sehingga membuat lalu lintas menjadi macet.
“Ada apa mas?” tanya Jojo dari dalam mobil yang terjebak kerumunan orang.
“Ada orang gila lagi ngamuk.” jawabku singkat.
Jojo keluar dari mobil dan segera menghampiri Kamsun, semua mata memandang cemas dan menduga-duga apa yang akan terjadi. Jojo dan Kamsun saling berhadapan,  dengan tenang Jojo menasehati pemuda yang sedang kalap itu.
Nasehat Jojo membuat amarah Kamsun semakin menjadi-jadi, tiba-tiba dia mengayunkan parang mengarah ke kepala Jojo. Semua orang terkesiap kaget. Jojo hanya menggeserkan badan sedikit, tangan kirinya reflek menangkis dan mecengkram pergelangan tangan Kamsun dan tangan kanannya melayangkan tamparan ke pipi  Kamsun sehingga membuat pemuda yang penuh amarah itu kaget. Dengan satu gerakan patahan dan kuncian dari Jojo membuat Kamsun  terpaksa melepaskan parangnya.
“Break!” teriak Dedi Setiadi memecah adegan menegangkan itu. Dedi Setiadi adalah Sang Sutradara sinetron Jendela Rumah Kita. Semua orang yang bermain sebagai kerumunan masa bertepuk tangan.
Itulah kenanganku tentang Jojo yang diperankan oleh Dede Yusuf yang kemudian lebih dikenal sebagai Wakil Gubernur  Jawa Barat. Kenangan itu melintas begitu saja ketika sore tadi Dede Yusuf sebagai Ka Kwarda Gerakan Pramuka Jawa Barat melantik Walikota Sukabumi menjadi Ka Mabicab Gerakan Pramuka kota Sukabumi.
“Allahu Akbar”, aku mengagungkan asma Allah sesaat setelah imam sholat isya takbirotul ikhrom dan aku lalu membaca do’a iftitah sambil kubisikan maknanya dalam hati.
WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHOROS SAMAAWAATI WAL ARDLO, HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN.
Kuhadapkan jiwa ragaku pada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan mengakui kebenaran serta berserah diri, dan tidaklah aku termasuk golongan orang-orang yang musyrik
INNA SHOLAATII WANUSUKII WAMA_HYAAYA WAMAMAATII LILLAAHI ROBBIL 'AALAMIIN,
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya untuk Alloh Tuhan semesta alam
LAASYARIIKALAHU WABIDZAA-LIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN
tiada sekutu bagiNya karena dengan itu aku diperintah. Dan ketahuilah sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.

“ALHAMDULILAHI ROBBIL ALAMIIN…”, imam mebacakan surat alfatihah.
Demi kehormatanku aku akan bersungguh-sungguh: menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila, menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat, menepati Dasa Dharma.
“Aaammiiiinnnnn….., ” suara jamaah sholat isya menggema menyadarkan lamunanku.
Astaghfirullah…. Do’a iftitah yang kumaknai bercampur dengan Tri Satya yang tadi dibacakan saat melantik  oleh Dede Yusuf.

Puri Sunyi, 10 Agustus 2011

SHOLATKU INGAT BOLU KERING
Oleh : Heru Supanji


“Pak jangan lupa bolu kering pesanan Dede.” Kata istriku mengingatkan sebelum aku berangkat kerja kemarin pagi.
Selepas makan sahur kemarin Dede minta dibelikan bolu kering untuk berbuka puasa. Bolu kering adalah makanan kesukaan anakku yang bungsu. Kue sebesar telur di belah dua itu rasanya memang eksotis di lidah. Teksturnya yang lembut, empuk memang membuat siapapun akan segera bisa  merasakan  paduan  telur dan susu yang terkandung di dalamnya tidak saling mengalahkan.
Bukan cuma Dede yang suka kue bolu kering itu, bahkan kami sekeluarga akhirnya jatuh cinta pada rasa panganan yang nampak biasa-biasa itu. Sering kue bolu kering itu menjadi teman minum teh kami di sore hari, tapi tidak untuk sore kali ini karena bulan ramadhan .
Duduk diantara dua sujud sholat asharku kubaca:

RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.

Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.
Benar ya Allah, maafkan kesalahanku. Sore ini kue bolu kering itu terasa lembut dan empuk di mulutku, gigitan pertama begitu terasa nikmatnya sehingga kuikuti gigitan berikutnya sambil kuisi gelas kosong dari dispenser. Suara cucuran air yang lembut terdengar gemercik segar di telingaku, dan tiba-tiba aku tersadar.
Astaghfirullahaladzim….  Aku menghentikan cucuran air dari keran dispenser dan segera menghentikan kunyahanku, aku berlari menuju wastafel dan memuntahkan kunyahan kue bolu kering yang belum sempat lagi kutelan. 

Puri Sunyi, 11 Agustus 2011

SHOLATKU INGAT LUNA MAYA
Oleh: Heru Supanji

Alhamdulillah, HP seharga dua  karung berasku yang sempat raib karena tertinggal di tempat wudhu mesjid ada yang mengantarkan ke rumah. HP itu mungkin terlalu jadul untuk dipakai di era global seperti sekarang.
“Pantasnya ini masuk museum HP.”, ledek temanku ketika melihat HP ku saat pertama kali melihatnya.
“Wah… Pak Heru kurator barang antik ya?”, sahut yang lain dengan nada canda.
Seperti biasa aku hanya tersenyum menghadapi canda kawan-kawan sepekerjaan. Mereka sudah begitu lekat denganku, sudah seperti saudara. Jadi sudah tidak ada ulah mereka yang bisa membuatku tersinggung atau sakit hati.
“Sayang ya HP ini tidak ada blue toothnya. ”, kata temanku sambil menimbang-nimbang HP begitu aku perlihatkan untuk yang kedua kali setelah hilang itu.
Temanku lalu menjelaskan bahwa kalau ada bluetoothnya dia bisa mengirim foto atau video dari HP ke HP tanpa bayar. Aku Cuma mengangguk-angguk sok ngerti.
“Aku bisa mengirim video ini ke HP mu buat kau tonton berdua sama istrimu.” Kata temanku sambil memutar sebuah film video orang dewasa dari HP miliknya.
“SUBHAANA RABBIYAL A‘LAA WA BIHAMDIH.” Aku berbisik dalam sujudku.

“Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi Dan Dengan Memuji-Nya.” Gaung suara batinku.

Subhanallah, Alhamdulillah HP ku tidak memiliki bluetooth sehingga tidak bisa menerima video Luna Maya. Peliharalah kesucian pikiran dan perbuatanku di bualan suci ini ya Allah…

Puri Sunyi, 12 Agustus 2011

 SHOLATKU INGAT NAZARUDDIN
Oleh: Heru Supanji

Siapa yang tidak kenal Nazaruddin? Kalau ada orang yang tidak tahu pun akan pura-pura tahu saat diajak bicara tentang orang yang satu ini. Alasannya sederhana, buat orang yang benar-benar tidak tahu agar dianggap punya pengetahuan up to date sehingga setiap perkembangan di negeri ini tak luput dari perhatiannya. Kan gengsi juga saat kita diajak berbicara tentang hal-hal umum yang sering dibahas di koran-koran atau televisi tapi kita tidak tahu alias kuper. Alasan yang lain, buat orang-orang yang benar-benar tahu agar tahu dirinya tidak terlibat dengan perkara yang sedang dihadapi orang paling dicari di 180 negara di dunia ini.
Sebegitu pentingnya seorang Nazaruddin, sehingga untuk memulangkannya dilakukan penjemputan istimewa dengan pesawat carteran berbiaya 4 miliar rupiah. Jumlah yang fantastis untuk dibuang begitu saja demi seorang Nazarudin.
Entah dosa sebesar apa yang telah dilakukan seorang Nazaruddin sehingga namanya selalu melintas dalam benak kepala orang-orang yang terlibat dengan dirinya. Orang-orang yang mendadak resah akan kepulangannya ke tanah air. Orang-orang yang tiba-tiba dicekam rasa takut seperti menghadapi hukum pancung esok hari. 

IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM.

“Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus.

SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADHDHAALLIIN. AAMIIN.

Yaitu Jalannya Orang-Orang Yang Telah Kau Berikan Nikmat, Bukan Jalannya Orang-Orang Yang Kau Murkai Dan Bukan Pula Jalannya Orang-Orang Yang Sesat.”


Dalam ketaatan menjaga amanahmu aku ruku:

SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH.

Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.
Sudut hatiku berbisik iba, kasihan kau Nazaruddin… saat ini semua telunjuk menuding ke arah mukamu dengan sejuta murka dan kecewa.


Puri Sunyi, 13 Agustus 2011


SHOLATKU INGAT INGAT LUPA

Oleh : Heru Supanji


INNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN.

Kuhadapkan Wajahku Kepada Zat Yang Telah Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Penuh Ketulusan Dan Kepasrahan Dan Aku Bukanlah Termasuk Orang-Orang Yang Musyrik.

Ya Allah… bagaimana aku hadapkan wajahku dengan wudhu yang tidak pernah sempurna, bagaimana aku menghadapmu dengan membawa dosa seluruh bangsa ini ya Allah? Aku telah salah memilih pemimpin untuk memimpin bangsa dan negara ini, apakah aku terlibat juga dalam dosa-dosa mereka?


INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN.

Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.

Ya Allah aku ingin beribadah karena engkau semata… termasuk perbuatanku di bilik Pemilu yang kuniatkan ibadah, tapi maafkan aku ya Allah kalau saat itu tanganku bergerak karena kaos partai dan mie instan…. Iming-iming dan janji mereka merubah sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku. Astaghfirullah….

LAA SYARIIKA LAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN.

Tidak Ada Sekutu Bagi-Nya Dan Dengan Demikianlah Aku Diperintahkan Dan Aku Termasuk Orang-Orang Islam.

Ya Allah… telah kusekutukan engkau dengan uang dan kenikmatan duniawi, aku belum bisa menyamai Nazaruddin yang bisa mengumpulkan uang 6,5 trilyun dalam lima tahun atau menabung 1,3 trilyun tiap tahun. Aku juga tidak diongkosi 4 milyar seperti Nazaruddin, aku hanya mengkorupsi uang pendidikan anak-anaku untuk biaya asap tembakau yang kadang lebih besar dari biaya pendidikan mereka… Aku juga menyelewengkan uang bedak dan lipstik istriku untuk membayar zakat ya Allah…

BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Ya Allah…. Ini rakaat berapa dalam sholatku? Astaghfirullah…. Subhanallah…..



Puri Sunyi, 14 Agustus 2011



SHOLATKU INGAT SMS
Oleh : Heru Supanji

“Kirim SMS?”, tanyaku.
“Iya, kirim SMS lebih murah daripada telpon”, sahut temanku.
“Tapi enak telpon, kan bisa omong langsung”, sergahku.
Akhirnya temanku mengajari bagaimana membuat SMS dan cara mengirimkannya. Lucunya kami saling kirim SMS walau duduk berdampingan sambil menunggu waktu ashar.
“Met sore kang Panji, apa kabar nich puasanya?”, SMS temanku
“Sore, alhamdulillah puasa nggak terganggu...cuma saya yang  terganggu puasa hhahahaaa....”, balasku.
“Syukurlah kalau gitu, kenapa  merasa terganggu berpuasa?” temanku bertanya dalam SMSnya.
“Yang halal saja aku sudah tidak tertarik lagi, apalagi yang haram...”, aku utarakan alasan sekenanya.
Temanku nyengir dan lalu ngetik sesuatu di Hpnya, entah apa dan aku menunggu untuk membacanya dari HPku sendiri.
“Nggak masuk,” kataku.
“Tunggu saja, mungkin jaringan sedang sibuk, ” temanku menjelaskan.
Akhirnya waktu ashar benar-benar tiba, kami bergegas wudhu.
Andai saja aku bisa kirim SMS sama Allah dan tidak usah bicara langsung dalam sholat malam yang kadang memancing rematik kambuh karena harus mengambil air wudhu dalam dinginnya malam.
Sering dalam sholat malamku aku hanya menangis karena tidak bisa berbicara apapun.  Aku malu untuk meminta dan menuntut terlalu banyak. Aku hanya bisa berbisik dalam hati minta ampunan untuk bapak dan ibu, juga ampunan buatku sendiri yang sudah menelantarkan anak dan istriku.
Aku yakin anak-anak ingin merasakan kebahagiaan seperti anak-anak tetangga, kebahagiaan yang belum aku bisa beri. Aku juga yakin, istriku yang tidak pernah menuntut itu ingin berganti mukenah untuk sholat Iedul Fitri.
Aku berdiri di shap pertama pas di belakang imam dan berniat sholat ashar.
“Allahu Akbar….”, aku mengagungkan asma Allah.
Suasana benar-benar hening… seumpama ada jarum jatuh di jerami pun akan terdengar.
RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.

Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.

Tetet..!!! Tetet..!!! Tetet..!!!

Astaghfirullah, HPku berbunyi…. Itu SMS masuk!

Aku tidak bisa membacanya ya Allah… seperti aku tidak bisa membaca semua isyaratmu selama ini. Ah, bukan cuma aku ya Allah… pemimpin kami juga buta huruf dan tidak bisa membaca SMS dan isyaratMu.

Puri Sunyi, 15 Agustus 2011


SHOLATKU INGAT UANG MAKAN
Oleh: Heru Supanji
 “Kejarlah duniamu seakan-akan kau akan hidup selamanya dan kejarlah akhiratmu seakan-akan kau akan mati besok.”  Kata temanku, entah dia mengutip dari mana kata-kata itu.
“Susah bro…”, kataku singkat. Aku memang sedang tidak ingin berbantah-bantahan, terlalu banyak bicara membuat tenggorokan tambah kering dan ujung-ujungnya teringat kelapa muda seperti dalam sholatku minggu lalu.
“Susah atau tidak mau?” tanya temanku sambil tertawa nakal. Dia mulai bisa membaca gelagatku kalau sudah malas diajak bicara.
Aku memandang lurus ke depan dan pura-pura tidak mendengar.
“Silent is golden….” Temanku menggoda dengan nyanyian pavorit semasa kami bersekolah. 
“Tidak selamanya diam itu emas.” Aku menimpali nyanyiannya.
Carut marut negeri ini mungkin akibat dari silent is golden berjamaah. Semua senangnya diam dan tutup mulut, kalau tidak asal bapak senang ya apalagi kalau bukan SDM… selamatkan diri masing-masing.
Pembiaran berjamaah atas nasib bangsa yang semakin mengenaskan seolah menjadi pemandangan lazim di layar kaca. Tidak bisa dipungkiri kalau saat ini timbul ketidak percayaan terhadap pemerintah. Rakyat benar-benar dibuat muak dengan ulah segelintir oknum yang memperkaya diri dan dibiarkan lari tanpa diadili. Kalaupun ada keadilan ditegakkan sepertinya hanya tebang pilih belaka.
“Tukang kayu juga pilih-pilih dong kalau mau nebang.” Kata temanku saat kami terlibat diskusi tentang kenapa beda hukuman koruptor dan maling ayam.
Orang desa lebih bijak menebang, dia bisa memilah pohon mana yang cukup untuk sekedar bikin kandang ayam  atau membangun sebuah rumah. Seharusnya orang kota juga bijak kalau mau menyelewengkan uang negara, artinya bisa memilih anggaran sebesar pilkades atau pilpres yang mau dia kemplang.
“Kalau cuma numpang makan dari anggaran proyek itu sah-sah saja, yang tidak boleh kau numpang membangun rumah.” Tangkis temanku saat ngajak makan begitu dapat proyek, suatu hari beberapa bulan lalu.
Aku jadi teringat pembangunan pagar gedung dewan yang sampai sekarang tidak selesai karena terungkap penggelembungan anggaran, yang aku dengar anggaran pagar gedung dewan itu mendekati 3 milyar rupiah. Anggaran pembangunan pagar mungkin tidak akan sebesar itu kalau hanya mengajak makan satu atau dua orang. Aku meraba-raba siapa saja yang diajak makan dan berapa besar uang makan yang diberikan.
IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM.

Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus.

SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADHDHAALLIIN. AAMIIN.

Yaitu Jalannya Orang-Orang Yang Telah Kau Berikan Nikmat, Bukan Jalannya Orang-Orang Yang Kau Murkai Dan Bukan Pula Jalannya Orang-Orang Yang Sesat.

Ya Allah, seandainya uang makan yang aku terima akan memberatkan timbanganku menuju neraka ampunkan hamba ya Allah….


Puri Sunyi, 16 Agustus 2011.


SHOLATKU INGAT MERDEKA

Oleh: Heru Supanji


“Itulah pokok berita yang akan mengawali Indonesia Terkini malam ini,” kata penyiar cantik di layar kaca. Lanjutnya, “inilah berita selengkapnya.”

Tradisi kenegaraan mengharuskan Presiden berpidato di depan anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta. Penyampaian pidato kenegaraan sesuai tradisi bernegara Indonesia sehari menjelang kemerdekaan Indonesia itu dihadiri sebagian besar wakil-wakil rakyat, kepala dan ketua lembaga-lembaga tinggi negara, anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, para perwakilan negara sahabat, dan undangan.

Mengikuti pidato Presiden dari layar kaca setiap tanggal 16 Agutus sudah menjadi tradisi di keluarga kami. Begitu juga dengan acara menonton upacara 17 Agustusan esok harinya di lapangan. Tradisi keluarga yang ditanamkan oleh Abah kami untuk menghargai jasa-jasa para pahlwan yang telah gugur.

Dari pinggir lapangan di bawah pohon beringin besar kami menonton upacara tujuh belasan. Kalau upacara belum selesai kami belum dibelikan es dawet atau permen aromanis oleh Abah. Awalnya kami ikuti acara upacara hari kemerdekaan di lapangan dengan terpaksa dan selebihnya karena dijanjikan es dawet atau permen aromanis. Setelah kami menjadi besar dan mendapat pelajaran di sekolah barulah kami mulai mengerti apa arti perjuangan merebut kemerdekaan.

Sering kami melihat mata Abah berkaca-kaca setelah acara detik-detik Proklamasi berlalu. Abah kami adalah pejuang. Teman-teman Abah banyak yang gugur di medan perang. Walaupun ikut berjuang tapi Abah kami tidak tercatat sebagai legiun veteran, karena dulu semasa perang kemerdekaan hanya ikut terlibat perang karena memang harus berperang. Seusai perang kemerdekaan, nama Abah tidak bisa dicatat sebagai Tentara Pelajar  karena tidak punya ijazah sehingga tidak bisa diberi pangkat dan penghargaan. 

Hari-hari Abah kami habis di ladang atau mengelola tambak pada siang hari dan malamnya mengajar ngaji di surau depan rumah. Banyak dari murid Abah yang sudah jadi orang dan mengirimkan anak-anaknya untuk di didik seperti Abah mendidik mereka di masa kecil, sampai-sampai kami menjadi iri dan cemburu pada mereka. Kadang-kadang ingin kami tanyakan siapa yang anak Abah itu, kami atau mereka?

Sekarang aku telah jauh dari Abah, ingin rasanya terbang ke kampung dan menemani Abah menonton upacara bendera memperingati Proklamasi kemerdekaan seperti dulu. Benar-benar menonton karena tidak merasa dilibatkan dalam perhelatan besar bangsa ini. Jadi penonton yang hanya boleh puas dengan bertepuk tangan atau mengurut dada melihat para pelaku sejarah yang masih tersisa. Atau menemani Abah melihat dagelan sejarah di layar kaca dan menjelaskan siapa yang melakonkan itu dan jalan ceritanya seperti apa.

ALLAAHU AKBARU KABIIRAA WAL HAMDU LILLAAHI KATSIIRAA WASUBHAANALLAAHI BUKRATAW WAASHIILAA.

Allah Maha Besar, Maha Sempurna Kebesaran-Nya. Segala Puji Bagi Allah, Pujian Yang Sebanyak-Banyaknya. Dan Maha Suci Allah Sepanjang Pagi Dan Petang.

Ya Allah, dalam sholat malamku aku memohon tunjukan merdeka yang sesungguhnya seperti yang diinginkan Abah kami terkasih. Merdeka seperti saat Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia, bukan merdeka yang hanya bisa dipandangi sebagai barang  mewah di etalase persada. 


Puri Sunyi, 17 Agustus 2011

 

 SHOLATKU INGAT BEHEL
Oleh: Heru Supanji

Kawat gigi sekarang menjadi lazim dikenakan tanpa malu-malu lagi. Bahkan anak-anak yang giginya tidak tongospun ingin memasang kosmetik gigi yang kemudian populer dengan sebutan BEHEL.
Dokter gigi kebanjiran order memasang dan merawat BEHEL yang sudah menjadi bagian dari mode. Orang-orang tidak lagi berpikir itu hanya sekadar alat untuk membantu meluruskan pertumbuhan gigi agar sempurna. Lahir dengan gigi tongos di jaman adalah anugerah karena jadi mempunyai alasan untuk tertawa lebar dengan gigi berBEHEL.
“Semua pejabat kita harus memakai BEHEL!” kawanku bersungut-sungut sambil melemparkan koran yang habis di bacanya. Aku memungut koran itu dan meniliti artikel atau berita mana yang membahas BEHEL. Tak ada satupun berita atau artikel tentang kawat gigi itu.
Hari-hari belakangan ini koran dan media layar kaca selalu tentang Nazaruddin, Nunun Nurbaeti, Neneng Sri Mulyani, Umar Patek, dan sederetan nama lain yang tidak bersedia disebut namanya. Hehehe…. Jadi mirip investigasi ya? Berita-berita yang membingungkan itu menutupi kasus-kasus besar seperti Century, Lumpur Lapindo, dan sederetan kasus besar lain yang bikin tambah muak saja kalau disebutkan.
“Kalau sejak hari pelantikan para  pejabat kita itu pikiran, hati, mulut, tangan dan kakinya dipasang BEHEL nggak akan terjadi dagelan memalukan seperti di koran ini.” Kata kawanku sambil merebut koran dari tanganku. Kemudian dia membentang koran itu dan menunjuk beberapa gambar wajah dan judul-judul berita.
“Aku mau bikin partai sendiri buat 2014.” Katanya dengan geram sambil meremas koran yang mulai lusuh. Aku hanya tersenyum memandangi kawanku yang terlihat nampak lucu kalau sudah meradang soal politik. Nasibnya yang tidak beruntung membuatnya hanya jadi politikus kelas teri sementara rival politiknya semasa muda dulu sudah ada yg duduk di gedung perwakilan rakyat, bahkan ada yang jadi pejabat publik.
“Kamu juga harus pasang BEHEL yang besar.” Kataku sambil melepas sepatu dan kaos kaki. Temanku diam dan menunggu reaksiku selanjutnya.
“Ini bulan suci, seharusnya BEHEL yang kau kenakan bisa menjagamu dari api neraka.” Kataku sambil merangkul bahunya. “Mari kita berwudhu agar pikiran dan hatimu jernih, dan tidak terpengaruh berita-berita di koran yang belum tentu benar. Halaman utama sebuah media bisa dibeli dan diisi sesuka hati si pembeli.”
Tanpa banyak cakap temanku mengikuti langkahku dari belakang. Aku bisa membayangkan jiwa patriotisme dalam dadanya meledak-ledak menyaksikan situasi yang kian tak terkendali di persada ini. Aku hanya berharap dia bisa melampiaskan amarahnya dengan mengadu pada yang maha kuasa lewat sholat. Kali ini temanku mengalah jadi makmum. Aku tidak bisa menjadi imam dengan segala kemarahanku, begitu katanya.
BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM.
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
AL HAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN.
Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
ARRAHMAANIR RAHIIM.
Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
MAALIKIYAUMIDDIIN.
Penguasa Hari Pembalasan.
Ya Allah…. Beri aku BEHEL yang kuat untuk diriku, anak-anakku, istriku dan kedua orangtuaku yang bisa menjaga dari panasnya api neraka di hari pembalasan. Hanya padamu aku memohon pertolongan. Hatiku menjerit dan pipiku tiba-tiba basah.

Puri Sunyi, 18  Agustus 2011.
 
 SHOLATKU INGAT SURAT WASIAT
Oleh: Heru Supanji
 “Tahu mau hujan lebat main terabas saja, mana enggak bawa jas hujan lagi.” Omel istriku di depan pintu. Kalau tidak ngomel namanya bukan istri yang sayang suami, begitu kilah istriku setiap aku protes emelannya. Ada benarnya juga, dan aku memang harus selalu diomeli untuk urusan naik motor yang kadang masih merasa seperti anak muda.
Sensasi balap memang tiada duanya, apalagi kalau disertai rasa percaya diri tinggi karena sudah menerapkan standar keselamatan berkendara. Sepatu tracking, knee guard, jaket kulit, sarung tangan, masker, kaca mata anti kabut dan helem membuat jalan serasa milik pribadi. Tapi itu dulu di masa muda, dan ketika aku merasa sudah muda (istilah kami untuk sebutan tua)  ya… penyakit kebut-kebutan itu masih juga singgah walau kadang-kadang.
“Ayo Pak kalau mau wasiat sekarang saja mumpung anak-anak lagi kumpul….”, canda istriku sambil menyodorkan sesendok makan obat batuk ke mulutku. Kami memang keluarga yang selalu penuh canda, makanya jangan coba-coba sakit di rumah kami kalau tidak ingin disuruh meninggalkan wasiat. Seperti biasa kalau ada anggota dicandai seperti itu ketika sakit, anggota keluarga lain juga akan terlibat layaknya dialogue sinetron secara improvisasi. Betul-betul hidup hingga siapapun yang sakit merasa terhibur.
“Ssttt…. Jangan ribut dulu.” Kataku sambil meraih remote  dan memperbesar volume suara TV. Semua memandang layar kaca dalam tayangan Lintas 6.
Diberitakan Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M. Nazaruddin mengirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Surat tersebut dibacakan oleh asisten pengacara OC Kaligis, Dhea, setelah pemeriksaan Nazaruddin di Gedung KPK Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Kamis (18/8).
Jakarta, 18 Agustus 2011
Bapak Susilo Bambang YudhoyonoPresiden Republik Indonesia
Di Tempat
Bapak Presiden yang saya hormati,
Saya mohon kepada Bapak agar segera memberikan hukuman penjara kepada saya tanpa perlu lagi mengikuti proses persidangan untuk membela hak-hak bagi saya. Saya rela dihukum penjara bertahun-tahun asalkan Bapak dapat berjanji Bapak akan memberikan ketenangan lahir dan batin bagi keluarga saya, khususnya bagi istri dan anak-anak saya. Perlu saya jelaskan bahwa istri saya adalah benar-benar seorang ibu rumah tangga yang sama sekali tidak mengetahui apapun yang berhubungan dengan kepartaian. Saya juga berjanji saya tidak akan menceritakan apapun yang dapat merusak citra Partai Demokrat serta KPK, demi kelangsungan bangsa ini. Demikian surat ini mohon bantuan dan perhatian Bapak Presiden.
“Itu berita beneran apa sinetron Pak?” tanya anak-anakku. Aku tidak menjawab hanya batuk-batuk karena tenggorokan terasa gatal dan dada sesak akibat hujan-hujanan ketika naik motor tadi.
“Ya sudah, kalau tidak mampu berwasiat… biar yang di tv itu saja wasiat bapak pada kami.” Seloroh istriku. Aku terkekeh-kekeh dan mengakibatkan batuk tambah parah. Istriku dengan sigap menyodorkan segelas air hangat ke mulutku. Begitulah cara istriku memanjakan aku kalau sakit.
Kulalui malam dengan sholat isya dan taraweh di rumah karena takut batukku mengganggu kekhusukan yang lain di mesjid.
IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IINU.
Hanya Kepada-Mu lah Aku Menyembah Dan Hanya Kepada-Mu lah Aku Memohon Pertolongan.
IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM.
Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus.
Ya Allah, seumpama aku harus menghadapMu kapanpun dan dimanapun tunjukilah aku jalan yang lurus menuju haribaanMu. Jadikanlah istriku wanita yang shalehah agar bisa mendidik anak-anak kami menjadi putra-putri yang tidak putus mendo’akan kami serta selalu berserah diri padamu. Luruskanlah hati mereka. Bisik batinku disaat pelupuk mataku mulai basah.

Puri Sunyi, 19 Agustus 2011
 
SHOLATKU INGAT  BONUS
Oleh: Heru Supanji

“Watak manusia memang mencintai materi," (QS Ali Imran: 14). "Walaupun kesenangan materi adalah palsu dan menipu," (QS Ali Imran: 185, al-Hadid: 20). "Dan, jika dia tenggelam dalam kemateriannya maka posisinya bisa lebih rendah dari binatang," (QS al A'raf 179).” Kawanku memulai perbincangan dengan mimik serius. Aku diam menunggu.
Kawanku menghela napas dalam sebelum  melanjutkan, lalu katanya “Setiap amalan anak cucu Adam adalah baginya kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Aku akan langsung membalasnya. Puasa adalah perisai, jika salah seorang berpuasa jangan berkata kotor dan jangan bertengkar. Bila dihina seorang atau diajak duel, hendaknya menjawab: aku sedang puasa ..." (HR Bukhari, Muslim, an-Nasa'i, dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).”
Obrolan sore itu terasa lain dari biasa, lebih berat dan serius. Untuk mengimbangi pembicaraanya aku hanya pasang jurus iya…iya…. dan selebihnya hanya mengangguk-anggukan kepala walau sebenarnya banyak yang aku tidak faham.
“Manusia harus seimbang antara materi dan rohani. Hanya orang yang bisa melepaskan diri dari kekuasaan materi akan naik ke derajat malaikat. Saat orang berpuasa berusaha untuk meninggalkan kemateriannya dan menuju alam malakut. Itulah bonus bagi orang yang puasa Ramadhan.” Kawanku diam dan memandangku untuk memastikan aku masih menyimak. Aku membuat coretan-coretan di notes.
“Supaya umat Islam di bulan Ramadan mencapai puncak dalam ibadah maka Allah menyediakan beragam bonus. Rasulullah SAW bersabda, Umatku diberi lima keistimewaan pada bulan Ramadan yang tidak diberikan kepada umat sebelum mereka:  Bau mulutnya orang-orang puasa lebih wangi di sisi Allah dibandingkan bau minyak kasturi. Setiap hari malaikat memintakan ampunan bagi mereka saat berpuasa sampai berbuka.” Kawanku berhenti berbicara karena terpotong suara adzan. Kami segera bergegas ke tempat wudhu.
Seaat sambil menunggu giliran dalam antrian di tempat temanku menambahkan, “Orang yang berpuasa diberi keistimewaan dengan dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan saat berbuka dan saat bertemu dengan Allah di surga. Di surga ada pintu yang disiapkan untuk orang puasa, yaitu pintu Ar-Rayyan. Bila para shoimin di dunia telah masuk, semua pintu ditutup dan tidak ada yang masuk lagi selain mereka.”
“Lebih dari itu, di bulan suci ini, Allah menyediakan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Barang siapa yang tidak mendapat kebaikan malam itu sungguh dia termasuk orang celaka. Demikian besar bonus yang disediakan Allah pada setiap Ramadan.” Kawanku mengakhiri kalimatnya saat muadzin membacakan iqomah, lalu kami segera berada dalam shaf sholat berjamaah ashar.
ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWATUTH THAYYIBAATU LILLAAH.
Segala Kehormatan, Keberkahan, Rahmat Dan Kebaikan Adalah Milik Allah.
ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.
ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

Ya Allah belum cukup waktu bagiku untuk bermujahadah dalam beribadah demi menyongsong keutamaannya? Ijinkan aku  bertemu kembali dengan bonus-bonus RamadanMu ya Allah…...

Puri Sunyi, 20 Agustus 2011

SHOLATKU INGAT SUZY
Oleh: Heru Supanji

Alih-alih perhatian dari rasa lapar dan haus, di saat semua garapan di tempat pekerjaan selesai kami sepakat untuk saling tukar cerita. Misi sebenarnya sih ingin saling berbagi nasehat yang bermuatan agama atau pesan moral mumpung bulan Ramadhan. Soalnya jam-jam seperti ini di bulan biasa hanya kami habiskan dengan main kartu remi atau domino sebelum pulang.
Sesuai kesepakatan waktu bercerita tidak boleh lebih dari tujuh menit, supaya pahalanya mendekati pahala kultum. Inilah hebatnya bulan Ramadhan, selalu ada  bonus bagi orang yang puasa Ramadhan. Agar manusia yang materialis ini bisa tawazun (seimbang), Allah memberi motivasi dengan berbagai cara. Sebagai makhluk ekonom, ia tertarik dengan segala bentuk transaksi yang menguntungkan. Untuk itu, Alquran banyak menggunakan istilah ekonomi, seperti istilah transaksi (as-Shaf: 10), rugi dan timbangan (ar-Rahman: 9), dan lainnya.
Aku menjadi orang pertama yang mendapat giliran bercerita, walau dengan agak gugup karena nervous akhirnya selesai juga. Teman-temanku hanya tersenyum-senyum. Orang kedua mendapat aplaus agak istimewa karena bisa membuat kami tertawa-tawa, kawanku yang satu itu memang terkenal humoris walau kadang konyol.
Sekarang giliran orang ke tiga. Semua beringsut duduk mendekati kawanku, karena kawanku ini memiliki suara paling ningrat diantara kami. Ucapannya walau pelan tapi jelas. Perlu aku kau ketahui, kawanku yang satu ini kutu buku semasa sekolah… dan sekarang kaca matanya paling tebal.
Begini dia bercerita:
Madam pemilik rumah bordil di Milngavie membuka pintu dan ia melihat seorang pria nampak  agak bermartabat berpakaian rapi, tampan berusia sekita akhir empat puluhan atau awal lima puluhan berdiri di hadapannya.

"Bisa saya bantu Pak?" tanyanya.

Pria itu menjawab, "Saya ingin
ditemani  Suzy."

"Sir, Suzy adalah salah satu wanita kita yang paling mahal.
Mungkin Anda lebih suka orang lain ", kata madam.

Dia menjawab, "Tidak, saya
hanya ingin ditemani  Suzy."

Saat itu, Suzy muncul dan
menyatakan  kepada pria  itu tarifnya  £ 5000 per kunjungan.

Tanpa ragu, pria itu mengeluarkan £ 5.000 dan memberikannya kepada Suzy, dan mereka naik ke lantai atas.

Setelah satu jam, pria itu
berlalu dengan tenang.

Malam berikutnya, pria itu muncul lagi, sekali lagi menuntut untuk
ditemani  Suzy.

Suzy menjelaskan bahwa tak seorang pun pernah kembali dua malam berturut-turut karena dia terlalu mahal.

"Tidak ada diskon. Harga masih £ 5000" kata Suzy.

Sekali lagi, pria itu mengeluarkan uang,
 memberikannya kepada Suzy,  dan mereka naik ke lantai atas.

Setelah satu jam, ia pergi.

Malam berikutnya orang itu da
tang  lagi.

Semua orang heran bahwa ia datang untuk malam ketiga berturut-turut, tetapi dia
tetap membayar Suzy dan mereka naik ke lantai atas.

Setelah sesi mereka
usai, Suzy berkata kepada orang itu, "Tidak ada yang pernah dengan saya tiga malam berturut-turut. Kamu dari mana? "

Pria itu menjawab, "Edinburgh."

"Sungguh," katanya. "Saya punya keluarga di Edinburgh."

"Aku tahu." kata orang itu. "Adikmu meninggal, dan saya Pengacara nya
. Dia meminta saya untuk memberikan £ 15.000 warisan Anda. "
Kami semua menghela napas dan berdecak, sesaat kami hanya diam dengan pikiran masing-masing. Kami menyimpulkan pesan moral cerita itu bahwa ada tiga hal yang sudah menjadi ketentuan dan tidak bisa di tawar:

1.
Kematian
2. Pajak
3. Menjadi kacau oleh pengacara!
Kalau dalam pertandingan tinju ada istilah saving by the bell, maka kali itu saving by ashar membebaskan dua orang dari kewajiban bercerita. Tapi kami sepakat, dua orang yang belum bercerita hari ini besok akan mendapat urutan lebih awal.
Ketika imam mebacakan al ashar, hatiku mengikuti dan memaknai:
Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran 
dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ya Allah jadikanlah hidupku yang tidak tahu sampai kapan penuh dengan hiasan ibadah. Berilah aku kekayaan ilmu agar bisa mebayar pajak atas hidupku dengan amal saleh. Jauhkanlah hidupku dan negeriku dari kekacauan yang ditimbulkan oleh pengacara katanya…., carut marut campur tangan mereka membuat lakon politik menjadi komedi badut yang memuakan. Astaghfirullah….. aku melantur lagi.
Allahu Akbar….. (segera kurendahkan tubuhku dengan ruku’ berharap ampunan Allah)

SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH.
Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.


Puri Sunyi, 21 Agustus 2011.


SHOLATKU INGAT BELAJAR NGITUNG
Oleh: Heru Supanji

Ini obrolan ngalor ngidul antara Pak Dadan ketua RT kami, Pak Deni Nursamsi sang Bendahara RT, dan Istriku yang samar –samar aku dengar ketika aku sholat ashar di rumah hari Jum’at lalu. Mereka terlibat obralan asyik ketika aku baru saja menggelar sajadah di kamar.  Pak RT dan Bendahara seperti biasa bertandang sebulan sekali sambil mengantarkan uang jasa dari warga untuk tugas ronda malam.
ALLAAHU AKBARU KABIIRAA WAL HAMDU LILLAAHI KATSIIRAA WASUBHAANALLAAHI BUKRATAW WAASHIILAA.
Allah Maha Besar, Maha Sempurna Kebesaran-Nya. Segala Puji Bagi Allah, Pujian Yang Sebanyak-Banyaknya. Dan Maha Suci Allah Sepanjang Pagi Dan Petang.
“Pada bulan Ramadhan ini, Pemerintah Provinsi membeli Beras, Gula dan minyak masing-masing 3.000 ton. Kemudian pemprov memberikan subsidi berupa pengurangan harga yaitu, beras lebih murah 1.500,- per kilo, gula pasir dan minyak goreng masing-masing 2.500,- per kilo. Subsidi dalam bentuk pengurangan harga tersebut dimaksudkan untuk membantu 2,8 juta penduduk miskin.” Pak Dadan memulai pembicaraan dengan nada serius.
Top of Form
“Kabagian sakilo lebih sedikit dong..... THR rupanya ya mang?”, tanya Pak Deni. RT kami memang lebih akrab dipanggil Mang Dadan ketimbang Pak Dadan. Sebutan Mang itu gelar kehormatan bagi orang Sunda, begitu Pak RT pernah menjelaskan ketika istriku yang asli dari sebrang menanyakan hal itu. Soalnya sebutan Mang itu lebih umum diberikan pada orang dengan kerjaan serabutan macam aku.
“Total subsidi pemotongan harga 38,5 miliar. Semoga  subsidi itu tidak salah alamat.” Imbuh Pak RT.
BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM.
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
AL HAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN.
Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
 “Masalahnya pedagang kalo udah naikkan harga gak bakalan turun lagi...aji mumpung...gak peduli apa kata pemprov...gitu Mang ...jadi pemberitahuan penurunan harga itu cuma menyakitkan hati ibu" rumah tangga aja...realisasinya nol besar dilapangan.” Timpal istriku orang yang paling pertama kena akibat dari kenaikan harga-harga.
“ Makanya, pedagang biarlah menaikkan harga, bagi rakyat miskin ada subsidi 38,5 miliar, itu pun kalau belanja.” Jawab Pak RT menjelaskan.
"Emangnya pedagang peduli dgn rakyat miskin...??? Atau harus ada pengakuan secara legal kalau kita orang miskin...mana sempaattt liatin daftar gituan...mereka hanya peduli ada uang ada barang.” Gerutu istriku. Istriku memang luar biasa, bisa mengatur pengeluaran dari sedikit uang gajiku di tempat kerja dan tambahan uang ronda.  Total penghasilanku hanya mendekati UMR kalau di total jendral.
SUBHAANA RABBIYAL ‘ADZIIMI WA BIHAMDIH.
Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.
“Jadi berdo'alah semoga dari 38,5 miliar itu sebagian sampai kepada orang miskin karena pedagang setidak-tidaknya telah mendapat untung dari 3 ribu ton beras, gula pasir dan Minyak goreng.” Kata Pak RT dengan nada menghibur dan penuh pengharapan.
“Sama aja pungguk merindukan bulan...gak berharap dengan pemerintah yg selalu bertindak terlambat...disaat rakyat udah nangis air mata darah baru bertindak...makan aja tuh 38,5 M....aku jamin gak bakal dirasakan oleh rakyat kecil.” Kata istriku setengah mengeluh.
RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINII WA’FU ‘ANNII.
Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Angkatlah ( Derajat )-Ku, Berilah Aku Rezki, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Kesehatan Dan Maafkanlah ( Kesalahan )-Ku.
“Yaaaa kasihan dong rakyat kalau langsung dimakan 38,5 M,” kata Pak RT, lalu tambahnya “1% juga kalau dari 38,5 = 385 juta, lumayan.”
“Aukh akh gelap...cape' main matematika ama pemerintah...rakyat cuma disodorin angka-angka  doang...tapi realnya mengucur kekantong sendiri .” Gerutu istriku yang hanya dijawab dengan derai tawa Pak RT dan Pak Deni. Sesaat kemudian aku mendengar istriku menyambut kedatangan anak kami yang baru pulang dari sekolah.
 Ya Allah…. Gajiku hanya 800 ribu ditambah 400 ribu uang ronda malam, ongkos sekolah anak-anak sebulan 450 ribu, uang jajan mereka sebulan 150 ribu, bayar listrik 80 ribu, jadi 1 juta 200 ribu dikurangi 680 ribu tinggal 520 ribu lalu dikurangi biaya sekolah 150 ribu tinggal 370 ribu…. Dibagi 30 hari jadi 12,333,333 untuk hidup kami setiap hari berempat….
Maha Besar engkau ya Allah yang Maha Menghidupi…. Air mataku meleleh mengenang betapa sulitnya istriku mengatur keuangan agar kami sekeluarga tidak  kekurangan makan, kiranya selama ini aku hanya menumpang hidup dari penghasilan istriku berdagang gado-gado.

Puri Sunyi, 22 Agustus 2011
Persembahan bagi yang terkasih Nila Sapti Supanji, Mang Dadan, Pak Deni Nursamsi dan anak-anak tercinta.
eBottom of Form
 
SHOLAT KU INGAT SURAT SBY
Oleh: Heru Supanji

Seorang teman datang tergopoh-gopoh dan menyeruak di antara kermununan kami yang siang itu sedang serius merancang acara buka bersama di tempat kami bekerja. Teman kami yang satu ini kami panggil Mr Internet, karena hampir semua dalil dia selalu ‘kata internet’.
“Lihat ini ada berita baru!” serunya sambil mengacung-acungkan BB miliknya.
“Ada berita Neneng tertangkap dan amnesia ya?” tanyaku.
Teman-temanku tertawa. Memang sudah menjadi rahasia umum bahwa senjata ampuh untuk melawan hukum  di negeri ini adalah tutup mulut atau amnesia, lalu andalkan pengacara yang buatkan sekenario terserah dia mau buat improvisasi apapun yang penting selamat.
“Bukan, ini tentang  SBY membalas surat Nazaruddin.” temanku menjelaskan.
“SBY, presiden kita?” tanya salah satu temanku yang lain.
“Ya iyalah…masa iya dong…” jawab temanku diiringi derai tawa.
“Kenapa SBY hanya menjawab surat Nazaruddin?” temanku berhenti sejenak, lalu lanjutnya “itu perkara sebenarnya.”
“Presiden tidak adil! Kata internet nih, ada 1927 surat dari korban pelanggaran HAM yang bertahun-tahun tidak dibalas.” kata temanku dengan nada berapi-api.
“Nazaruddin mendapat balasan surat dari Presiden hanya dalam waktu kurang dari empat hari.” Temanku mengangkat tangan kanan dengan telapak terbuka dan ibu jari ditekuk.  “Empat hari!”, tandasnya.
“Waktu yang empat hari ini menimbulkan kesenjangan sosial, betapa seorang Nazaruddin mendapat tempat istimewa di hati seorang Presiden.” Temanku berhenti dan menarik napas dalam dalam, setelah agak tenang dia membuka BB dan membacakannya untuk kami.
“Membalas surat menunjukkan bahwa Presiden peduli secara personal, bukan dalam kapasitasnya sebagai pemimpin negara yang tidak memiliki kewenangan apapun dalam penyelidikan," kata Pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya.
“Presiden SBY sebenarnya tidak memiliki kewenangan membalas surat yang dinilainya berbau drama itu. Dari sisi tata negara, seharusnya SBY menghindari membalas surat karena menyalahi kapasitasnya sebagai pemimpin negara,” kata Yunarto  Wijaya.
Lewat pengacaranya dari kantor hukum Otto Cornelius Kaligis, Nazar berkirim surat kepada Presiden SBY, yang juga sebagai Ketua Dewan Pembina PD. Dalam suratnya, Nazar minta SBY untuk segera menghukumnya. Imbalannya ia tidak akan membawa-bawa PD, dengan syarat istrinya, Neneng Sri Wahyuni, tidak dilibatkan dalam kasus yang membelit dirinya. SBY yang membalas surat itu menegaskan tidak akan ikut campur kasus hukum Nazar.
Benarkah Nazar bungkam demi cintanya pada Neneng dan anak-anaknya?

Sumber detik+ mengungkapkan janji Nazar untuk bungkam hanya merupakan trik saja. Janji yang disampaikan lewat surat pada SBY itu sebenarnya punya makna sebaliknya.

"Makna surat Nazar ke SBY tentang menjaga dan melindungi anak dan istrinya itu untuk SBY sendiri. Maksud Nazar supaya SBY mau melindunginya. Kalau tidak dilakukan, Nazar akan membongkar aliran uang ke istri dan anak SBY," jelas sumber tersebut.
Teman kami diam dan menarik napas. Kami juga terdiam dengan pikiran masing-masing yang terbang entah kemana. Suasana menjadi beku, masalah negara dan politik yang tidak kami pahami benar-benar membuat otak kami yang biasanya berisi THR terpaksa berisi Prseiden dan Nazaruddin.
“Kita duhur dulu, sudah waktunya.” Kataku memecah kebekuan. Akhirnya kami sepakat rencana buka bersama akan kami lanjutkan selepas sholat duhur.
ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.
Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.
ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.
Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.
Ya Allah, aku tidak ingin mendapat surat dari Presiden SBY kalau itu hanya akan mendatangkan rasa sakit hati dari saudara-saudara kami ya Allah. Walau sebenarnya aku hanya ingin menyuratinya untuk menyampaikan “Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin, Selamat Iedul Fitri 1432H.”
Tadi sambil menunggu teman-teman berwudhu aku sempat meminta Mr Internet membacakan surat SBY untuk Nazaruddin….dan bayangan surat  itu  melintas lagi di ujung sholatku.
Jakarta, 21 Agustus 2011

Kepada
Sdr. Muhammad Nazaruddin di tempat

Pada hari Minggu, 21 Agustus, saya telah membaca surat saudara. Meskipun, sebelumnya saya juga telah mendengarnya dari pemberitaan berbagai media massa. Agar rakyat Indonesia menjadi jelas duduk persoalannya, saya putuskan untuk membalasnya melaui surat ini.

Terkait proses hukum yang sedang saudara hadapi, mari kita semua tunduk pada aturan yang ada di negara hukum ini. Dalam setiap kasus hukum, yang melibatkan siapa pun, saya tidak pernah, tidak akan – dan memang tidak boleh – mencampuri proses hukum yang harus independen, bebas dari intervensi siapa pun. Prinsip dasar non intervensi, penegakan hukum yang merdeka tersebut, diatur dan dijamin dengan jelas di dalam UUD 1945 dan peraturan perundangan terkait lainnya.

Oleh karena itu, saya sarankan, saudara kooperatif menjalani semua proses hukum yang sedang berangsung. Saya meyakini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang sekarang menangani kasus saudara, akan bekerja secara profesional, independen, dan adil. Sampaikanlah seluruh informasi yang saudara ketahui kepada KPK, agar menjadi bernilai di hadapan hukum, agar semua menjadi jelas dan tuntas. Termasuk informasi tentang siapa saja yang harus bertanggungjawab, tidak peduli dari unsur manapun atau dari partai politk apa pun.

Karena, hukum tentu harus kita tegakkan berdasarkan alat bukti semata, tanpa pandang bulu, tanpa tebang pilih. Dengan demikian, kita melasanakan prinsip dasar persamaan di hadapan hukum (equality before the law), yang juga dijamin dalam konstitusi.

Terkait masalah ketenangan keluarga saudara, dalam semua kasus, tidak hanya kasus saudara, saya selalu memerintahkan agar aparat penegak hukum bekerja profesional, menjamin keselamatan semua pihak yang terkait. Adalah sudah menjadi tanggung jawab aparatur negara untuk menjamin ketenangan, kenyamanan, dan keamanan seluruh warga negara. Meskipun, itu bukan berarti juga perlindungan atau kekebalan dari proses hukum jika warga negara yang bersangkutan terjerat suatu perkara. Kita harus terus menjamin agar penegakan hukum kita berjalan adil, transparan, dan akuntabel – jauh dari proses tawar menawar atau negosiasi, dalam bentuk apa pun.

Demikian tanggapan saya atas surat saudara. Semoga dalam suasana Ramadhan kali ini, apa yang saudara alami, dapat menjadi bahan renungan dan intropeksi. Selamat berpuasa, semoga Allah SWT memberikan rahmat dan hidayah-Nya bagi kita semua.

Presiden Republik Indonesia,
Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono

Puri Sunyi, 23 Agustus 2011.

SHOLATKU INGAT ONTA DI ARAB
Oleh: Heru Supanji

“Kenapa onta di Arab tidak bisa ngomong bahasa Arab?”, temanku melemparkan pertanyaan sambil menyenderkan bahunya di dinding mushola.
Sekarang kami lebih sering kumpul di mushola dari pada di kantin yang memang tutup selama bulan puasa. Latihan I’tikaf  di mesjid, begitu niat kami dan berharap diam kami di mushola bisa menghindarkan kami dari hal-hal yang membatalkan ibadah puasa.
“Emang onta di Arab ngerti bahasa manusia?”, temanku yang lain balik tanya.
“Jelas ngerti, kan tuannya di Arab sana memerintahkan dengan bahasa Arab ke ontanya.” jawab temanku, lalu terusnya “Jawab pertanyaan tadi, kenapa onta di Arab tidak bisa ngomong bahasa Arab?”
“Yang ditanya tidak lebih pandai dari yang bertanya.” Jawabku sok bijaksana dan penuh diplomasi.
Temanku terkekeh senang karena sanjunganku. Aku kenal betul temanku yang satu ini tidak suka pertanyaannya dijawab. Dia hanya memancing kesempatan untuk berdebat, dan jangan harap orang yang mendebatnya akan menang. Benar saja, akhirnya dia sendiri yang menjawab pertanyaan tadi.
“Karena sepanjang hidupnya, walau onta tinggal di Arab dia tidak pernah berbicara dalam bahasa Arab.” Kata temanku, kami mengangguk-angguk menyepakati penjelasannya.
“Ini tidak beda jauh dengan pejabat kita, yang katanya mengagungkan hukum sebagai panglima tapi tidak pernah menggunakan hukum untuk memayungi perbuatannya. Katakan tidak pada korupsi! Katakan tidak pada kolusi! Katakan tidak pada nepotisme! Itu cuma slogan nirmakna belaka, prakteknya nihil.” Temanku berhenti sejenak dan memandang kami satu demi satu, kalau sudah seperti itu kami kadang merasa sedang dihakimi atau berhadapan dengan jaksa penuntut. Teman kami yang satu ini memang jago bicara mirip pengacara handal.
Kumandang adzan ashar menghentikan obrolan di tengah-tengah I’tikaf versi kami, yang sebenarnya ingin bisa melaksanakan I’tikaf dengan sempurna andai tidak dikejar-kejar kukusan agar tetap ngebul.  Bekerja bagi kami lebih menyerupai jihad dibanding I’tikaf yang meninggalkan beban bagi orang-orang di belakang kami yang deretannya panjang mulai dari istri dan  anak-anak dengan segudang keinginannya. Tentunya kami ingin para istri dan anak-anak kami bisa menikmati hari raya seperti orang lain, berpakaian pantas dan makan lebih layak walau sehari itu saja.
Saat imam membacakan surat ke enam surat Al Fatihah, hatiku berbisik memaknai agar bisa sholat lebih khusu.
IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM.
Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus.
SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADHDHAALLIIN. AAMIIN.
Yaitu Jalannya Orang-Orang Yang Telah Kau Berikan Nikmat, Bukan Jalannya Orang-Orang Yang Kau Murkai Dan Bukan Pula Jalannya Orang-Orang Yang Sesat.
Ya Allah… tunjukan kami jalan yang lurus, terutama  pemimpin-pemimpin kami…. Agar tidak seperti onta di Arab yang sepanjang hidupnya tidak pernah mencoba berbahasa Arab sepatah katapun. Padahal tak jarang onta berjalan dengan berkarung tumpukan kitab di punggungnya, tak jarang pula alunan ayat dia dengar dari mulut tuannya...tapi kitab tak perna dibacanya, alunan ayat tak pernah dimengerti olehnya...dasar ONTA ......(Orang Nekad Tolak Aturan)…. Astaghfirullah…..

Puri Sunyi, 24 Agustus 2011

SHOLATKU INGAT KODOK
Oleh: Heru Supanji

Selepas tarawih malam itu di masjid tinggal aku, Mas Rauf, Mang Hasan, dan Pak Dedy.  Masjid kami ini tidak terlalu besar dan megah seperti mesjid-mesid di kampung   sekitar kami. Kami menamainya Al Istiqomah, dengan harapan membuat semua warga yang pernah menyumbang pembangunan masjid ini senantiasa memiliki ketetapan hati untuk terus berada di jalan Allah.
“Malam ini i'tikaf biar memahami hakekat diri…” kata Kang Rauf sambil menggulung karpet tambahan yang digunakan oleh ibu-ibu tarawih.
Hakikat diri? Aku bertanya dalam hati, belum lagi pikiranku menjawab beberapa pertanyaan datang saling susul-menyusul berdentangan dari dasar hati. Siapa aku? Apa aku? Dimana aku? Mau kemana aku?
“Pastinya, yang mengetahui hakikat diri sendiri adalah diri sendiri. Tinggal bagaimana dirisendiri itu bisa menjadi diri sendiri. Diri sendiri tidak bisa menjadi diri sendiri bila diri sendiri enggan untuk menjadi diri sendiri.” Timpal Mang Hasan yang sedang membantu menggulung karpet dari ujung yang lain.
Pernyataan Mang Hasan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanku tadi. Mang Hasan hanya menambahkan teka-teki tentang hakekat diri.
“Injih Mas Rauf ... aku ikut mendo'akan aja dulu moga Mas Rauf mendapat berkah dari Allah SWT. Amin.” Kata Pak Dedy sambil melipat sajadah dan menyampirkannya di pundak.
“Mang Hasan meuni resep ngulas diri sendiri ih ....nuhun ah tos ngemutan.” Sambung Pak Dedy, yang artinya kira-kira ‘Mang Hasan begitu suka mengulas diri sendiri… terimakasih ya sudah mengingatkan.
“Inget cerita bangkong/kodok yang ingin menjadi lembu si kodok meniup dirinya sendiri agar ia menjadi besar seperti kerbau tapi ngga pernah besar-besar malah sibangkong jadi meletus. Darr....ina lilaahi wa inna ilaihi rooji'uun….” Mang Hasan terkekeh diujung ceritanya. Aku hanya tersenyum.
“Iya Mang Hasan ... cerita itu banyak terjadi di pemimpin kita ujung-ujungnya uang rakyat yang diambil dan dirinya sendiri dipenjara, mungkin hakikat dirinya yang nggak ditemukan.” Kata Pak Dedy sambil beranjak meninggalkan masjid diikuti Mang Hasan.
Aku masih tinggal tapi tidak untuk ber i’ Tikaf, aku hanya ingin menyelesaikan sholat malamku sementara Mas Rauf sudah duduk menghadap kiblat dan lamat-lamat berdzikir.
Aku masih hapal urutan yang tadi siang diajarkan oleh Aji Rismansyah, seorang teman di tempat kerjaku yang dulu pernah mondok di pesantren milik kakeknya. Dia memberikan catatan yang selalu terselip di saku kemeja koko. Aku mengambil catatan itu dan membacanya sekali lagi untuk memastikan.Bottom of Form

Amalan tuk menggapai Berkah Lailatul Qodr:
1. Niatkan dalam hati ingin mengharap ridho Allah, dan i`Tikaf di masjid
2.Dirikan Sholat dengan niat Usholli shalatan sunnatan Lailatal Qodri rak`ataini lillahi ta`ala, tiap raka`at ba`da Surat al fatihah baca surat al qodar 1 X, Surat al ikhlas 15 x
3. Ba`da salam baca Istighfar 100 X, Tasbih ( subhanallah ) 400 X dan perbanyak baca sholawat,
4. Insya allah do`a kita ijabah, amiiin
5. Good luck
Aku memasukan lagi catatan itu ke dalam saku setelah merasa yakin, lalu aku berdiri menghadap kiblat.
“Usholi shalatan sunnatan Lailatul Qodri rak’ataini lillahi ta’ala, Allahu Akbar.” Aku mengangkat ke dua belah tangan dan bersedakep.
NNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN.
Kuhadapkan Wajahku Kepada Zat Yang Telah Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Penuh Ketulusan Dan Kepasrahan Dan Aku Bukanlah Termasuk Orang-Orang Yang Musyrik.
INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN.
Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.
LAA SYARIIKA LAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN.
Tidak Ada Sekutu Bagi-Nya Dan Dengan Demikianlah Aku Diperintahkan Dan Aku Termasuk Orang-Orang Islam.
Ya Allah… sempurnakan ibadahku ya Allah agar tidak menjadi kodok yang hendak menjadi lembu. Aku tidak ingin menjadi besar karena keinginan-keinginan duniawi yang menjeratku, tapi aku juga harus memenuhi hasrat duniawi anak-anak dan istriku…. Karena dengan itu justru yang akan membuat mereka tawakal di jalanMu, bagaimana mereka akan tawakal bila perut mereka senantiasa lapar dan bodoh karena ridak bersekolah. Berilah yang mereka inginkan melalui perantaraanku ya Allah….
Puri Sunyi, 25 Agustud 2011





SHOLATKU INGAT KERANDA
Oleh: Heru Supanji

Kalau bukan karena prakarsa Mas Broto Seno waktu itu mungkin Masjid Al Istiqomah sampai sekarang tidak punya keranda. Aku masih ingat waktu pertama kali komplek perumahan kami mengalami musibah karena ada warga yang meninggal  dunia, kami terpaksa meminjam keranda dari masjid kampung sebelah yang beruntung sedang tidak di pakai. Keranda memang barang antik yang harus ada di masjid sekecil apapun masjid itu.
Keranda dan masjid ibarat saudara kembar identik, keduanya sering dibangun dengan biaya patungan tapi hampir sebagian besar enggan mengisinya. Masjid megah yang dibangun dengan biaya besar biasanya hanya penuh saat sholat Jum’at, itupun hanya seminggu sekali kan? Begitu juga dengan keranda, semua antusias mengeluarkan uang untuk membuatnya tapi tak satupun yang bersedia memakainya untuk yang pertama kali.
“Jangan samakan masjid dengan keranda!” begitu pesan  Mas Broto Seno saat serah terima keranda kepada Mang Dadan ketua DKM Masjid Al Istiqomah.
“Mari berlomba mengisinya!” kelakar Mas Broto Seno yang tentu saja disambut derai tawa hadirin waktu itu.
“Aktivitas masjid mencerminkan kualitas warga yang tinggal di sekitarnya. Kalau ingin tahu derajat kerukunan warga  atau tingkat keimanan masyarakat suatu lingkungan tertentu datang dan hitung saja berapa jumlah shaf dalam sholat subuh di masjid yang dibangunnya.” Begitu sebagian uraian ustad Dedy Ruhyadi ketika menjadi khatib sholat Jum’at.
Tiba-tiba keranda kecil beroda melintas dan berhenti tepat di depanku, aku tercekat kaget. Ini kelakuan Mang Hasanbasri Sanusi yang merancang kropak masjid berbentuk keranda.
“Biar yang mencuri uang dari kropak cepat mati.” Kata Firmansyah Zulvikar Djasmine sang ketua pemuda.
“Untuk mengingatkan bahwa kita harus mempunyai tabungan untuk dibawa mati.” Kata Susu Kecir.
 Aku merogoh saku kemeja koko dan mengeluarkan uang yang biasanya sudah diselipkan disana oleh istriku setiap hari Jum’at pagi. Tangan kiriku menutupi tangan kananku yang menyelipkan uang terlipat seukuran lubang celengan agar tidak terlihat berapa besar yang aku masukan. Setelah itu aku dorong kropak masjid berbentuk keranda itu ke arah jamaah lain.
“Itu recehan sisa uang belanja.” Begitu jawab  istriku ketika kutanya dari mana asal uang itu.
“Katanya mau buat beli bedak?” tanyaku.
“Sudah masukan saja uang itu ke kropak saat Jum’atan nanti. Jangan berpikir dapat membeli tiket ke surga dengan uang sebesar itu. Tiket menonton konser Justin Beiber saja jumlahnya beribu kali dari uang yang Mas masukan ke kropak.” Seloroh istriku sambil terkekeh.
Khutbah Jum’at telah usai dan shaf-shaf segera dibangun dengan rapi. Aku bertakbir beberapa saat setelah imam.
INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN.
Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.

Ya Allah… kropak masjid berbentuk keranda kecil itu mengingatkan aku akan kematian, walau istriku tidak berharap dapat membeli tiket ke surga dengan sisa uang belanja yang dia kumpulkan untuk membeli bedak yang uangnya tadi aku masukan… tapi aku berharap Ya Allah… bahwa istriku yang cantik itu suatu saat ada di surga yang Kau janjikan dan menantiku disana sebagai bidadariku…. Amin….

Puri Sunyi, 26 Agustus 2011




SHOLATKU INGAT ROSA ALBA 'MAIDEN'S BLUSH'
Oleh: Heru Supanji
 Katakan cinta dengan bunga. Ungkapan yang mungkin setua sejarah cinta itu sendiri. Cinta bisa bermacam-macam artinya tergantung darimana datangnya dan motivasi apa yang mendorong cinta itu tumbuh.
Menyatakan cinta dengan bunga tidak selamanya berujung romantik seperti di filem-filem atau novel picisan. Firmansyah Zulvikar Djasmine kawanku belakangan ini malah sedang termehek, entah pada siapa. Tiap hari dia tulis puisi dan menempelkannya di dinding warung gado-gado istriku yang tutup selama bulan puasa.
“Dia nggak mau bunga mawar, maunya bunga deposito.” Kata Firman suatu saat, datar sekali kalimat yang terucap dari bibirnya. Entah berkelakar atau mengeluh, yang jelas aku tidak berani tersenyum seperti biasa.
“Cinta nggak cukup modal dengkul.” Kata Hasanbasri Sanusi. “Bermodal dong!” , tambahnya penuh canda.
“Merpatiku juga terbang entah kemana.” Keluh Iwa K Cusmin.
“Salahnya sih... punya peliharaan gak pernah dikasih pakan..., ya kabuurrr  atuhhh...hehehehe..”,  goda Nila Sapti istriku.
 “Duh.....begitu kejamnya Iwa K Cusmin ya, nggak kasih pakan sama peliharaannya, oh.... kejamnya, kejamnya kejamnya...”, Ummu Hanifah menambahkan.
Cinta kita pada seseorang menjadi sangat begitu besar ketika orang yang kita cintai tidak bisa kita lihat lagi. Kerap kita menyia-nyiakan kesempatan karena kita tidak tahu bagaimana mencintai itu sesungguhnya. Banyak dari kita mencintai dengan pamrih, dengan ukuran membuat hati kita bahagia bukan bahagia pada orang yang kita cintai.
Balik lagi ke urusan bunga mawar.
Tadi Umi Rosida Ghazali datang ke rumah kami dan meminta beberapa kuntum bunga mawar. Anak kami si bungsu Narendra Utpala yang sudah dianggap cucu oleh Umi membantu memetikan bunga-bunga itu.
“Jangan mawar yang itu sayang, itu untuk bunga tabur.” Istriku mengingatkan anakku yang akan memetik bunga mawar rambat yang lebih populer dengan sebutan mawar tabur karena memang dipakai untuk tabur bunga di kuburan. Mawar jenis itu di pekarangan ku tanam Mawar 'Zépherine Drouhin'. Sebenarnya ada banyak jenis mawar rambat seperti Ayrshire, Climbing China, Laevigata, Sempervirens, Noisette, Boursault, Climbing Tea, dan Climbing Bourbon.
“Untuk Umi beri yang itu tuh…” tunjuk istriku pada Rosa alba 'Maiden's Blush' yang sedang mekar berwarna putih berseri.
“Terimakasih ya nak… Abah pasti senang memandangnya dari surga.” Kata Umi ketika menerima bunga itu dari anakku sambil menyelipkan sesuatu ke saku celana anakku. Anakku tangannya menepis-nepis menolak, tapi kalah cepat dengan Umi yang sudah memasukan paksa lebih dalam dan akhirnya anakku diam sambil memandang istriku.
“Bilang, terima kasih Umi…” kata istriku mewakilkan anakku.
“Beli kolak untuk buka ya, jangan beli petasan,” kata Umi. Anakku cuma mengangguk.
“Umi terimakasih….” Kata istriku sekali lagi.
Bayangan tentang Abah, suami Umi yang gugur di Timor Leste dan dimakamkan disana membuat konsentrasiku buyar. Sekuat apapun aku menepis, aku tidak bisa khusuk dalam sholat asharku. Aku teringat tahun pertama saat Umi Rosida Ghazali menjadi tetangga kami, tepat beberapa hari menjelang lebaran seperti ini.
“Ini untuk nyekar pusara Abah, jadi Umi minta dipilihkan mawar terbagus.” Kata Umi waktu itu. Dan aku salah memilih karena kukira untuk ditabur.
“Pusara Abahmu ada di sini.” Kata Umi sambil menunjuk dadanya. “Abah terbaring tenang di sanubari Umi, tapi Abah ada di surga sekarang.”
SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.
Semoga Allah Mendengar ( Menerima ) Pujian Orang Yang Memuji-Nya ( Dan Membalasnya ).
RABBANAA LAKAL HAMDU MIL’US SAMAAWATI WA MIL ‘ULARDHI WA MIL ‘UMAASYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU.
Wahai Tuhan Kami ! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji, Sepenuh Langit Dan Bumi Dan Sepenuh Barang Yang Kau Kehendaki Sesudahnya.
Ya Allah, berilah ketabahan pada kami dalam setiap cobaan…. Hanya kepadaMu kami akan kembali, entah kapan… berilah kami waktu untuk menyempurnakan ibadah kami Ya Allah….
Sekarang aku memahami, kenapa  Umi selalu iri pada para tetangga yang bisa menaburkan bunga mawar di kuburan kerabatnya. Karena Umi hanya bisa menyimpan mawar indah itu di hatinya, di pusara Abah kami tercinta.

Puri Sunyi, 27 Agustus 2011


SHOLATKU INGAT HILAL
Oleh: Heru Supanji

“Kenapa Pak?”, tanya istriku membuyarkan lamunanku.
Entah sejak kapan istriku sudah berdiri di belakangku. Kedua tangannya memegang bahuku dan kepalanya tepat disamping kepalaku. Istriku melihat langsung ke coretan di meja sejajar dengan mataku.
“Umur Wulan berapa tahun?”, tanya istriku setelah membaca  apa yang aku tulis.
“Duapuluh atau duapupluh satuan lah, lagi cantik-cantiknya.” Jawabku.
“Lah dia itu sudah besar…. Sudah dewasa atau aqil balig, sudah saatnya dia bisa menjaga diri.” Kata istriku dengan mimik serius sambil menatapku.
“Nggak bisa, Wulan harus dicarikan jalan keluar…. Nah jalan keluarnya ini yang aku belum dapat.” Aku berhenti sejenak dan menyeruput sisa kopi dari cangkir.
“Ah… benar juga, biar dia cari jalan sendiri.” Kataku sambil tersenyum dan membalik kertas kotretan.
Wulan dalam cerpenku kali ini tidak bisa pulang kampung karena tidak kebagian tiket kereta, sementara di kampung dia ditunggu orangtuanya untuk segera dipertemukan dengan calon suaminya dan calon mertuanya. Alasan Wulan harus segera pulang karena ibunda Wulan di kampung sakit keras dan ingin Wulan cepat-cepat menikah selepas lebaran nanti.
Wulan akan terlambat datang di kampung. Sama seperti bulan sabit yang juga terlambat datang sehingga menyulitkan untuk menentukan awal bulan.
Penentuan awal bulan menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah dalam agama Islam seperti bulan Ramadhan (yakni umat Islam menjalankan puasa ramadan sebulan penuh), Syawal  (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri, serta Dzulhijjah (dimana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha.
Saat ini posisi hilal (bulan mati) berada pada posisi kurang dari dua derajat. Atas posisi hilal itu, nihil kemungkinannya dapat terlihat untuk kemudian diambil keputusan untuk menentukan jatuhnya 1 Syawal 1423 Hijriah. "Perhitungan hisab kurang dari dua derajat, siapapun dengan posisi itu tidak ada yang bisa melihat,"jelas Said Agil di televisi.
 “Dede pengen lebaran hari Selasa aja, pengen cepat pake baju baru.” Kata anak bungsuku.
“Yang puasa bocor terus lebaran hari Rabu juga gak boleh apalagi Selasa.” Goda kakaknya  disambut rengekan Dede  yang minta diijinkan segera memakai baju barunya.
Istriku dengan sigap melerai keduanya sebelum pecah tangisan, “Sekarang Kaka sama Dede cuci kaki dan pergi tidur, besok sahur tidak ada lagi yang makan sambil merem. Bunda tidak mau menyuapi lagi, kan sudah besar.”
Anak-anakku bergegas mencuci kaki dan segera beranjak ke peraduan, dan melanjutkan ribut-ribut disana karena berebut selimut.
Terlihatnya hilal buat kaum muslim sangat penting. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.
Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad:
Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)".
Buatku kapanpun  datangnya 1 Syawal  sama saja. Tapi emang aneh juga di negeri yang mayoritas muslim ini hari raya Idul Fitri selalu jadi perdebatan. Aku menghela napas dalam dan segera berwudhu untuk sholat malam.
INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN.
Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.
Ya Allah, andai esok lusa hilal terlihat maka berakhir sudah bulan Ramadhan yang engkau muliakan ini. Akankah aku kau undang lagi memasuki bulan penuh berkah dan ampunan ini di tahun depan? Panjangkan usiaku Ya Allah… sehatkanlah aku dan mudahkanlah semua urusanku sampai Ramadhan tahun depan…
Amin Ya Rabbal Alamiin…

Puri Sunyi, 28 Agustus 2011