Tuesday, January 17, 2012

Terapi Perilaku Bagi Anak Autis

Anak Autis Harus Mengenal Disiplin Diri


Autis berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Istilah autis pertama kali dikenalkan oleh Leo Kanner pada 1943, merupakan gambaran bahwa penyandang autis asyik dan seakan-akan berada dalam dunianya sendiri. 

Autis merupakan gangguan proses perkembangan yang ditandai terlambatnya perkembangan kognitif, konsentrasi, perilaku, bahasa, motorik, sosial dan emosi. Anak autis sulit melakukan kontak mata dengan orang lain, mereka lebih tertarik pada benda daripada manusia. 

Seorang anak autis lebih asyik dengan mainan-mainannya daripada bergabung bermain dengan teman/keluarga. Perilaku beberapa anak autis misalnya mengoceh, ekolali/membeo (meniru ucapan orang lain), melakukan gerakan motorik berulang, (hand flaping misalnya), self-injury (menyakiti diri sendiri), atau bahkan menyakiti orang lain, mempunyai minat terbatas/monoton dan hiperaktif (tidak bisa duduk dengan tenang). 

Penyebab autis belum diketahui secara pasti, namun beberapa teori mengemukakan beberapa faktor mulai dari genetika (keturunan), infeksi jamur dan virus, kekurangan nutrisi dan oksigen, polusi udara, air dan makanan pada saat kehamilan dapat menghambat pertumbahan sel otak bayi yang selanjutnya memungkinkan terjandinya autis. 

Secara anatomis anak autis mengalami kelainan pada otak sehingga proses perkembangan anak terganggu/terhambat. Kelainan anatomis pada anak autis ini secara ilmu kedokteran tidak dapat disembuhkan, namun dengan beberapa terapi anak autis mendapat kemungkinan untuk berkembang ke arah yang lebih baik. 

Dengan beberapa terapi diharapkan beberapa perilaku anak autis yang dianggap aneh bisa dikurangi dan ditangani, salah satunya dengan terapi perilaku (behavior therapy). Terapi perilaku dilaksanakan untuk mendidik dan mengembangkan kemampuan perilaku anak yang terhambat dan untuk mengurangi perilaku-perilaku tidak wajar dan menggantikannya dengan perilaku yang bisa diterima dalam masyarakat. 

Terapi perilaku merupakan dasar bagi anak autis yang belum patuh (belum bisa kontak mata dan duduk mandiri). Program dasar/kunci terapi adalah melatih kepatuhan yang akan dibutuhkan anak saat mengikuti terapi-terapi lainnya seperti terapi wicara, terapi okupasi, dan fisioterapi. 

Metode ABA (Applied Behavior Analysis), adalah metoda terapi perilaku yang memiliki ciri terstruktur, terarah dan terukur sehingga memudahkan terapis atau orang tua memantau perkembangan anak. Metode ABA sering disebut metode Lovaas karena ditemukan oleh O. Ivar Lovaas, Phd, seorang psikolog Amerika. 

Tujuan metode ABA adalah merubah perilaku, dan perilaku yang ditargetkan selalu dipilih dan dipertimbangkan untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Norma-norma perilaku disesuaikan dengan norma-norma yang ada dan berlaku dalam masyarakat. 

Teknik pelaksanaan ABA menggunakan pendekatan individual / one by one, dimana tiap satu anak ditangani oleh satu terapis dan jika diperlukan didampingi oleh tenaga prompting (yang membantu anak mengarahkan perilaku yang diarahkan terapis). Pengajaran ABA mengambil prinsip Operant Conditioning dan Respondent Conditioning, dimana perilaku yang diinginkan maupun tidak diinginkan bisa dikontrol/dibentuk dengan sistem reward dan punishment. Jika perilaku yang diinginkan muncul anak mendapat hadiah dan jika perilaku yang muncul yang tidak diinginkan maka anak mendapat hukuman. 

Program yang diberikan selama terapi adalah kepatuhan (kontak mata dan dapat duduk saat belajar), bahasa reseptif, bahasa ekspresif, pra-akademik dan bantu diri. Program ini akan disesuaikan dengan keadaan/kemampuan anak. Itulah sebabnya diperlukan observasi terlebih dahulu pada seorang anak sebelum menjalani terapi. 

Waktu yang disarankan pada terapi ABA adalah 40 jam/minggu. Keberhasilan terapi ini dipengaruhi juga oleh; 1. Berat ringannya derajat autism, 2. Usia anak saat pertama kali ditangani, 3. Intensitas terapi, 4. Metode terapi, 5. IQ anak, 6. Kemampuan bahasa, 7. Masalah perilaku, 8. Peran serta orang tua dan lingkungan.

BACA JUGA:
Komodo Bangkitkan Nasionalisme Indonesia
Bagaimana Mencegah Bell's Palsy?
STRATEGI MENJADI PENGENDALI NEGOSIASI
KONSUMSI VITAMIN SESUAI KEBUTUHAN
Kenangan Getir Marilyn Monroe
DUNIA MENJADI TOUCHSCREEN SEMUA
TINGKATKAN IMUNITAS DI MUSIM HUJAN
KIAT MENJAGA MISS V TETAP SEHAT
RAHASIA PERUT LANGSING
Animasi Pembagian Otak Manusia
Belajar dari Anakhon Hi Do Hamoraon Di Ahu

4 comments:

  1. Saya juga punya anak yang di vonis austis oleh dokter. Selain beberapa kekurangan, dia juga punya kelebihan yang tak terpikirkann :
    1. Dia sudah bisa membaca pada umur 3 tahun, tanpa diajari membaca. dia belajar membaca dari senangnya nonton musik video.
    2. Dia bisa main organ, juga tanpa diajari, dia mencari sendiri nada nada.
    3. dia juga bisa main drum juga tanpa di ajari. Anda bisa lihat salah satu kemampuannya di sini. atau lihat aksinya di youtube dengan keyword "emay bieto".

    ReplyDelete
  2. @Athan Bungi, terimakasih sudah membagi informasi.... semoga kelak menjadi dirinya sendiri dan bersinar. Amin...

    ReplyDelete
  3. Pusat Terapi dan Tumbuh Kembang Anak Rumah Sahabat Yogyakarta melayani terapi autism, terlambat bicara, ADHD, Down syndrom, musik, renang dengan terapi terpadu, speech terapi, sensori integrasi, terapi perilaku, fisioterapi dll. untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi Rumah sahabat di Perum Gambiran C 2 UH V, Jl Perintis Kemerdekaan Yogyakarta phone 0274 8267882

    ReplyDelete
  4. kita juga punya nih artikel mengenai terapi autisme, berikut linknya semoga bermanfaat ya :D
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/3565/1/JURNAL.pdf

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.