Thursday, January 26, 2012

Ekstasi Nikmat Sesaat Berujung Maut

Efek dan Risiko Bagi  Pengguna Ekstasi





Kejadian memilukan itu terjadi dalam hitungan detik, tiga belas orang menjadi korban keteledoran di jalanan. Namun saat keluar dari mobil setelah menabrak, sang pengemudi tampak biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak terlihat rasa bersalah, panik, takut, pucat, apalagi memperlihatkan empati untuk membantu korban dan segera meminta maaf. Kemudian pengemudi yang berkelit rem kendaraannya blong itu diketahui tidak melengkapi diri dengan Surat Izin Mengemudi (SIM), Surat Tanda Nomor Kendaraan  (STNK).  

Kecelakaan lalu lintas yang hebat, bukanlah sekali ini terjadi. Bila kali ini mengundang perhatian karena ternyata si pengemudi bersama ke tiga temannya di bawah pengaruh minuman  keras dan pil ekstasi. Padahal pemakaian alkohol bersama  ekstasi itu bersifat saling menguatkan. Kalau pun yang mengonsusmi tidak ambruk atau tertidur kesadaran mereka terganggu.

Ekstasi atau MDMA (3,4-Methylenedioxymethamphetamine) adalah jenis obat stimulan yang memiliki sifat halusinogen, merupakan derivat ampetamin yang banyak digunakan sebagai "party drugs". Ekstasi dan sabu sedang tren di kalangan pengguna narkoba menggantikan heroin.

Euforia sampai ekstase (senang yang sangat berlebihan) adalah efek yang diinginkan dari penggunaan ekstasi. Obat ini meningkatkan kepercayaan diri, harga diri dan peningkatan libido. Bahkan pemakai ekstasi bisa tampil penuh percaya diri tanpa ada perasaan malu sedikit pun dan menjadi orang yang berbeda kepribadian dari sebelumnya.

Banyak orang tertarik memakai ekstasi karena pemakaian zat ini tidak mengalami efek sedasi atau penurunan kesadaran akibat zat tersebut seperti pada pemakaian heroin atau ganja. Pemakai ekstasi dapat membuat dirinya untuk tetap terjaga dan konsentrasi ketika obat baru saja dikonsumsi. Maka tidak heran bila obat ini dipakai di lantai-lantai disko dengan iringan musik berdentam keras seirama degub jantung agar penggunanya merasakan kenikmatan dalam memakai stimulan ini.

Selama ini pengguna hanya terpaku pada efek menyenangkan seperti di atas. Mereka lupa bahwa ekstasi juga bisa membuat timbulnya gejala-gejala psikosomatik, paranoid, halusinasi dan agresivitas. Kelebihan dosis pemakaian obat ini akan membuat orang mudah tersinggung dan berani berbuat sesuatu yang berisiko tinggi.

Ekstasi memiliki perbedaan efek ketika dipakai dan setelah masa aktif obat tersebut di tubuh. Akibat pemakaian ekstasi terutama efek yang terjadi setelah selesai pemakaian akut (segera) terdiri dari gejala psikologis dan fisik. Gejala psikologis yang muncul bisa berupa: kecemasan dan paranoid, depresi, iritabilitas, kelelahan, hilangnya perhatian, fokus dan konsentrasi (juga hilangnya motovasi dan keingninan) akibat menurunnya level serotonin di sistem otak. Sedangkan gejala-gejala fisik yang timbul bisa berupa: rasa pusing, kepala ringan, vertigo, menurunnya napsu makan, diare, sulit buang air besar, dan rasa lelah berlebihan. 

Memperhatikan efek akibat penggunaan obat bernama ekstasi ini, wajar jika pengguna obat ini tidak diperkenankan mengendarai kendaraan bermotor setelah mengonsumsinya. Beberapa jam setelah pemakaian akan terjadi penurunan konsentrasi dan perhatian yang drastis, sangat berbeda ketika masih dalam pengaruh ekstasi ketika baru saja digunakan. Hilangnya konsentrasi dan perhatian sangat berbahaya jika dialami oleh para pengemudi kendaraan bermotor.

Keberanian berlebihan dan rasa percaya diri yang terlalu tinggi akibat ekstasi bisa membuat orang berperilaku risiko tinggi termasuk ngebut di jalan raya bila memutuskan untuk mengendarai kendaraan disaat efek obat ini masih terasa. Pencegahan untuk hal ini, pemerintah (penegak hukum) melakukan razia mobil-mobil di daerah rawan penggunaan zat adiktif seperti ekstasi dan sabu. Usaha ini akan mencegah para pengguna obat stimulan seperti ekstasi pulang dengan membawa mobil dalam keadaan masih terpengaruh obat.

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.