Monday, January 23, 2012

Gas CO, Si Pembunuh Diam-diam

Pengaruh CO Terhadap Tubuh Manusia


Tragedi tewasnya desainer kondang Ade Chandra Kierana Sagi alias Ade Sagi (34) dan rekannya Randy Yana Putra (31) menggegerkan publik di awal tahun 2012. Bukan karena mereka ditemukan tewas dalam kondisi bugil di kamar mandi, namun karena penyebab keduanya tewas.

Hasil autopsi Tim Forensik RSHS Bandung menyatakan bahwa Ade Sagi dan Randy diduga meninggal karena menghirup gas karbon monoksida (CO) yang keluar dari alat pemanas (water heater) kamar mandi yang proses pembakarannya tidak sempurna. Ade Sagi dan Randy meninggal karena pembunuhan memang, tetapi bukan dibunuh oleh manusia lewat aksi kekerasan, melainkan dibunuh secara diam-diam oleh gas karbon monoksida (CO).

Dari banyak kasus kematian akibat menghirup gas CO terdapat persamaan kondisi yang dialami para korban, mereka meninggal  dalam keadaan rileks dan seperti sedang tertidur lelap di sebuah tempat yang mewah. Bahkan dr Elisna Syahrudin, SpP dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI menyebutkan kematian akibat keracunan gas CO sebagai "mati indah". (Kompas.com/16/6/2009).

Ketika dihirup, gas CO bereaksi dengan hemoglobin dalam sel darah merah dan membentuk carboxyhemoglobin (COHb). Ikatan antara karbon monoksida dan hemoglobin 200 sampai 250 kali lebih kuat daripada oksigen dan hemoglobin. Maka CO dengan mudahnya menggantikan kadar oksigen dalam darah, akibatnya oksigen dalam organ vital seperti otak, jantung dan paru-paru menjadi berkurang. Keadaan ini disebut "lapar oksigen".

Jenis gejala atau tingkat kerusakan yang mungkin dialami korban sangat ditentukan oleh kadar persentase COHb dalam tubuh. Pada kadar COHb  sekitar 10-30 persen, penderita hanya sakit kepala, pusing, gejala kelelahan dan flu. Pada tingkat 30-50 persen, penderita mengalami mual, muntah, sakit kepala dan sulit bernapas. Pada lebih dari 50 persen, penderita dapat kehilangan kesadaran, kejang, dan kejang-kejang, pada tingkat ini penderita bisa mati dengan cepat.

Gas Co dapat membunuh dalam beberapa menit jika terhirup pada tingkat yang cukup besar dan pernapasan yang intens. Sedangkan jika terhirup pada tingkat yang lebih kecil dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan kematian atau kerusakan permanen. Itulah sebabnya mengapa gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tak berasa ini dijuluki sebagai "silent killer" alias si pembunuh diam-diam.

Keracunan CO biasanya berpuncak pada musim dingin, ketika orang banyak membakar berbagai jenis bahan bakar untuk menciptakan kehangatan. Penyebab keracunan CO termasuk pembakaran tak sempurna berbahan karbon, peralatan yang rusak, dan ventilasi yang buruk. Hal ini membuat musim dingin (di negara dengan empat musim) sebagai periode lebih beresiko bagi keracunan gas CO dari periode waktu lainnya.

Pengobatan keracunan gas CO sangat tergantung pada tingkat atau kadar CO yang telah masuk ke dalam saluran pernapasan dan efek yang ditimbulkan terhadap korban. Perlakuan utama untuk keracunan CO yang bersifat kronis adalah dengan terapi oksigen. Terapi ini bertujuan menormalkan kadar oksigen dalam darah.

Terdapat dua jenis terapi oksigen. Terapi pertama adalah 100 persen terapi oksigen, merupakan perawatan paling umum dengan memberikan oksigen melalui masker ketat. Jenis terapi kedua adalah terapi oksigen hiperbarik, oksigen diberikan dalam ruang tertutup kepada penderita.

Anda tidak perlu panik saat mendapatkan seseorang terpapar keracunan CO. Berikan pertolongon pertama dengan memanggil dokter. Sambil menunggu ambulans tiba, pasien yang keracunan ringan harus diberikan kopi atau teh kental dan dibuat mencium kapas yang direndam dalam larutan amonium klorida. 

Dalam kasus keracunan yang parah, bawa pasien ke luar ruangan atau dibantu dengan masker gas oksigen. Bukalah seluruh pakaian yang dianggap menghambat pernapasan. Tempatkan pasien dalam posisi nyaman dan diberikan bantuan pernapasan jika perlu.

Sumber: Rita Zahara, PR 21/1/2012

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.