Saturday, January 21, 2012

Mitos Seks Menyesatkan

Jangan Asal Percaya dan Dipraktekkan!


Kebudayaan dan adat ketimuran yang mentabukan pembicaraan seks secara terbuka ternyata bisa juga berdampak menyesatkan dalam pemahaman seputar seks. Jaman boleh moderen dan infromasi internet juga terbuka seluas-luasnya, namun referensi pengetahuan seksualitas tetap didapatkan dari mulut ke mulut secara bisik-bisik. 

Sebagian informasi seksualitas dan ilmu kesehatan yang dipercayai dan kerap dipraktekkan kadang menyesatkan. Dr. Bona Simanungkalit, DSHM, M.Kes (Pakar Seks and Drugs) memaparkan beberapa mitos seputar sex menyesatkan (jurnalbogor, 1/12).

Mitos 1: Setiap hubungan seks untuk pertama kalinya selalu ditandai dengan keluarnya darah dari vagina.
Fakta:  Tidak selalu hubungan seks yang pertama kali terjadi perdarahan. Banyak hal yang mempengaruhi hal itu seperti; Apakah ada benda yang mampu masuk dan menembus liang vagina dengan kekerasan yang cukup? Apakah masih ada hymen atau selaput dara yang utuh? Bagaimana elastisitas selaput dara tersebut? Kalau selaput daranya sangat elastis kemungkinan besar tidak akan terjadi perdarahan. Perdarahan dapat juga terjadi sebelumnya akibat kecelakaan, sehingga selaput dara robek.

Mitos 2: Loncat-loncat setelah hubungan seks tidak akan menyebabkan kehamilan.
Fakta: Ketika sperma memasuki liang vagina, maka sperma akan mencari sel telur yang matang untuk dibuahi. Kalau terjadi pertemuan dan siap dibuahi tentu loncat-loncat tidak akan mengeluarkan sperma. Tetap masih mungkin terjadinya pembuahan atau kehamilan.

Mitos 3: Selaput dara yang robek berarti sudah pernah melakukan hubungan seksual atau tidak perawan lagi.
Fakta: Harus ada pelurusan soal pemahaman soal selaput dara. Selaput dara merupakan selaput elastis tipis yang dapat meregang dan robek karena beberapa hal. Selain karena melakukan hubungan seks, selaput dara bisa robek karena kecelakaan dalam melakukan olah raga tertentu seperti naik sepeda dan berkuda, atau juga karena terjatuh. Maka robeknya selaput dara bisa saja tidak berkaitan dengan hubungan seksual.

Mitos 4: Keperawanan dapat ditebak dari cara berjalan dan bentuk pinggul.
Fakta: Keperawanan hanya dapat diketahui dengan pemeriksaan dokter secara khusus untuk mengetahui robek atau tidak serta kemungkinan penyebabnya. Jadi keperawanan tidak bisa dilihat dari bentuk pinggul atau cara berjalan.

Mitos 5: Posisi seks yang ampuh untuk mencegah kehamilan adalah sambil berdiri atau dalam air.
Fakta: Belum ada penelitian yang bisa membuktikan bahwa gaya tersebut bisa menahan laju sperma ke saluran telur. Untuk mencegah kehamilan, tidak usah berhubungan seksual bagi yang belum berkeluarga. Bagi pasangan yang sudah berkeluarga bisa menggunakan kondom.

Mitos 6: Hubungan seks memakai kondom itu aman.
Fakta: Asal tidak bocor, kondom bisa mencegah kehamilan dan penyakit menular seks. Namun tidak ada jaminan 100 persen kondom itu sempurna. Selalu ada kemungkinan kondom bocor, robek dan sperma masih bisa masuk karena pemakaian tidak pas.

Mitos 7: Hanya saling menempelkan alat kelamin tidak akan hamil.
Fakta: Tidak ada yang menjamin tidak akan terjadi kehamilan dengan keadaan tersebut. Banyak pria yang tidak bisa mengendalikan diri waktu mendekati ejakulasi. Apalagi kalau keluar cairan bening saat tahap rangsang yang sebenarnya sudah tercampur sel sperma yang lebih dari cukup untuk membuahi.

Mitos-mitos menyesatkan tersebut hidup subur di masyarakat dan berpengaruh sangat kuat. Bahkan banyak remaja yang sedang giat mencari informasi tentang seks dan kesehatan reproduksi terperangkap dalam mitos semacam itu. Hal ini karena minimnya informasi yang dapat diakses remaja melalui lembaga formal seperti sekolah, keluarga dan masyarakat pada umumnya.

2 comments:

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.