Wednesday, February 22, 2012

Risiko Tinggi Pejalan Kaki

Penyebab Jalan Kaki Tidak Aman



Tragedi Tugu Tani Jakarta di akhir Januari lalu yang menyebabkan sembilan orang tewas sekaligus oleh seorang wanita kemudian berita ditabraknya lima belas orang pejalan kaki di Makasar oleh seorang remaja mengindikasikan bahwa jalan kaki yang menyenangkan ternyata berpotensi tidak aman. 

Pengamat sosial Gustaff Harriman Iskandar menyebut fenomena itu sebagai puncak gunung es. Menurutnya, angka risiko pejalan kaki di Indonesia masih sangat tinggi. Malahan mudah sekali menemukan korban pejalan kaki yang sempat mengalami insiden di jalan, mulai dari sekala kecil sampai sekala besar. Insiden seperti terserempet, penyebrang jalan yang tidak disiplin dan tabrakan akibat pengguna jalan yang ceroboh masih sering dijumpai.

Minimnya fasilitas untuk pejalan kaki terutama bagi penyandang cacat atau difabel ditenggari sebagai asal muasal bencana bagi pejalan kaki. Trotoar yang semestinya bagi pejalan kaki beralih fungsi menjadi surga bagi pedagang kaki lima untuk menggelar dagangan sehingga pejalan kaki lebih memilih berjalan di pinggir jalan. Hal ini tentu menyebabkan insiden yang merugikan pejalan kaki.

Bila di suatu tempat pernah ada trotoar untuk pejalan kaki dan kemudian fungsinya berubah semestinya ada yang menegur atau lapor ke Satpol PP. Kemudian pihak-pihak tertentu berhenti memanfaatkan pedagang kaki lima dengan memungut restribusi kebersihan atau uang keamanan sebagai legalitas mereka menyabot torotoar dari pejalan kaki.

"Yang pertama harus punya itikad untuk melakukan perbaikan yaitu penyelenggara kota, juga didukung oleh aparat kepolisian, dan para pengguna jalan itu sendiri. Semua memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga keselamatan oraang lain," kata Gustaff.  

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.