Wednesday, February 29, 2012

Marie Colvin, Wartawan Perang Legendaris

RIP Marie Colvin!


Kematian seorang wartawan perang legendaris Marie Colvin (55) di hari Rabu (23/2) akibat serangan roket begitu mengguncang dunia. Namun, Kementrian Luar Negeri Suriah menolak bertanggung jawab atas kematian para jurnalis perang di negara tersebut dengan alasan mereka masuk ke Suriah secara ilegal sehingga resiko ditanggung sendiri.

Sejak Maret 2011, pemerintah Assad melarang meliput Suriah banyak jurnalis asing yang meninggalkan negeri itu dan memilih tinggal di sejumlah negara terdekat seperti Turki. Hanya sedikit jurnalis yang bertahan seperti Marie Colvin, jurnalis foto Prancis Remi Ochlik dan Anthony Shadid (yang juga meninggal sepekan lalu karena asma di Suriah). 

Tugas jurnalis bagi Marie Colvin bukanlah sekedar membuat berita. "Jurnalis mengungkap kebenaran. Selama saya hidup, saya akan lakukan tugas itu, apapun resikonya," katanya seperti dilaporkan Daily Mail, Rabu (23/2).

"Jurnalis ulung dan pemberani. Kami semua kehilangannya. Dia bekerja selama 25 tahun sengan penuh dedikasi dan tanpa rasa takut meliput sejumlah wilayah konflik di dunia ini," kata redaktur Sunday Times, John Witherow.

Marie Colvin mendedikasikan dirinya di dunia pers sejak lulus dari Yale University. Dia mengabdi di koran Inggris, Sunday Times.

Selama tugasnya, sering Marie Colvin terluka dan bahkan terancam nyawanya. Marie Colvin kehilangan mata kirinya akibat tertembak pasukan Srilanka saat meliput konflik di negara itu pada 2001. Dia menolak memakai mata palsu (prosthetic) dan memilih menggunakan penutup mata hitam ala bajak laut yang kemudian menjadi ciri khas penampilannya selama 11 tahun terakhir.

"Apakah benar saya bodoh? Saya baru merasa bodoh jika menulis berita sola acara makan malam. Saya lebih baik bekerja di tengah-tengah suasana perang dan mungkin ini memang akan membuat saya tertembak," kata Marie Colvin menjawab cemoohan sejumlah rekannya yang menggangapnya bertindak bodoh, seraya minta maaf jika komentarnya menyinggung wartawan lain yang bekerja di balik meja.

Beberapa jam sebelum meninggal, Marie Colvin sempat menyampaikan informasi terkini Suriah. "Serangan pasukan Suriah di kota Homs terus berlangsung. Suara ledakan terdengar di mana-mana. Seorang bayi dua tahun terbunuh dalam serangan tersebut. Kota ini benar-benar dikepung pasukan Suriah. Anderson, saya harus bilang, apa yang saya lihat ini hanya secuil kisah memilukan," tutur Marie Colvin saat melporkan pengamatannya melalui telefon saat menjadi bintang tamu dalam acara berita CNN yang dipandu Anderson Cooper, Selasa (21/2) malam waktu Amerika.

Selamat jalan wartawan pemberani. RIP Marie Colvin!

dari berbagai sumber

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.