Tuesday, February 21, 2012

Perilaku Orang Kaya Baru

Mereka Ada Tapi Tidak Memberi Warna


Tiket konser artis mancanegara seperti Evanescence, Roxette, Stevie Wonder, atau Dream Theater diserbu penonton meski belasan juta rupiah harganya. Ribuan orang antre panjang untuk mendapatkan BlackBerry dan iPhone terbaru. Restoran fine dining sering kekurangan tempat duduk. Pengusaha muda beramai-ramai menjadi anggota kelompok kebugaran atau klub bermain golf dan menghabiskan separuh penghasilannya untuk mencicil mobil terbaru.

Fenomena baru generasi muda Indonesia yang mengejutkan. Sering luput dari pengamatan betapa jumlah orang yang punya daya beli "lebih dari cukup" itu terus bertambah. Jika memakai ukuran Bank Dunia, yakni bahwa kelompok ini adalah mereka yang pengeluaran per kapita per harinya US$ 2-20, maka terdapat sekurang-kurangnya 130 juta orang. Angka itu 56,5 persen dari total penduduk Indonesia. Padahal, tujuh tahun sebelumnya, jumlahnya hanya 37,7 persen. (Tempo, 20/2).

Fase yang berlangsung di Indonesia saat ini adalah fase yang telah dilalui banyak negara. Pertumbuhan ekonomi Indonesia--dengan pendapatan per kapita US$ 3.000-an pada 2010--telah mengangkat jutaan orang dari jurang kemiskinan. Sekitar 70 persen ekonomi Indonesia ditopang oleh kelas konsumen baru ini. Kolom dosen ekonomi Universitas Indonesia Chatib Basri di majalah Tempo edisi 20/2 menjelaskan secara jernih bahwa di negara seperti Jepang dan Korea Selatan, kelompok kelas menengah ini terbukti bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Sayangnya di Indonesia, pemerintah mengabaikan peran kelompok ini.

Tumbuhnya kelas konsumen baru ini dinilai  tidak semuanya positif. Dosen filsafat Universitas Indonesia Rocky Gerung menyebut mereka sebagai parasit kapitalisme, mereka mampu beli mobil Alphard tapi selalu mengumpat saat macet. Meski kuat secara ekonomi, kelompok konsumen baru ini memiliki peran yang minim dalam politik.

Tiga tahun lalu Prita Mulyasari, pasien yang digugat rumah sakit Omni Internasional, Tangerang dibela oleh jutaan orang lewat Twitter dan Facebook. Tapi, setelah itu persoalan dianggap selesai. "Saya merasa ditinggal," kata Prita yang akhirnya dihukum enam bulan penjara dengan masa percobaan satu tahun. Prita adalah contoh pembelaan kelas menengah dalam sebuah aksi yang disebut click activism--aksi yang nyaris tanpa risiko sebagai potret kelas menengah Indonesia.

Referensi: yahoo!

BACA JUGA:
Ciri Bank Tidak Sehat
Membobol Facebook Dihukum 8 Bulan
Daging Kambing Meningkatkan Libido?
7 Tips Mencapai Jantung Sehat
Misteri Gerak Berputar Pada Tari Sufi
Sopan Santun, Penghormatan Pada Diri Sendiri
Ongkos Demokrasi Seharga Mi dan Sembako
Golok Babi Tajam Ke Bawah Tumpul Ke Atas

2 comments:

  1. yang jelas klo orang kaya baru itu ingin mencoba dan membeli barang2 mahal walaupun mereka tidak membutuhkan dan tidak tau bagaimana menggunakan barang tersebut, ini semua merupakan faktor hasrat menunjukkan bukti kekayaan ke orang2 aja..

    mampir2 ya mas Spesifikasi Sony Xperia Mini Pro

    ReplyDelete
  2. @jimmy63, Bener Mas Jimmy... mereka seakan bingung uangnya mau dipakai apa dan takut tidak habis....

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.