Sunday, February 12, 2012

Ongkos Demokrasi Seharga Mi dan Sembako

Dicari Pemimpin Terpilih, Bukan Dipilih!


Kasus gizi buruk, kelaparan, kemiskinan, banjir, pohon tumbang masih melanda sebagian besar masyarakat namun sepertinya hanya angin lalu bagi pemerintah. Terbukti belum adanya perhatian dan penanganan serius dari aparatur pemerintah atas ambruknya jembatan Ciberang di Lebak Banten misalnya. Padahal jembatan Indiana Jones itu sangat vital bagi masyarakat di sana.

Ditengah penderitaan rakyat yang kian hebat, para wakil rakyat kita justru melakukan pemborosan anggaran rakyat tanpa tanggung-tanggung. Bahkan kemudian terkesan ada lomba kemewahan antara lembaga negara, baik di lembaga eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Di DPR terkuak proyek fantastis seperti renovasi ruang rapat Banggar yang menelan puluhan miliar, renovasi toilet, perawatan gedung DPR dan pengadaan finger print. Lalu Mahkamah Agung, mempertontonkan kemewahan dengan anggaran pengadaan mebel yang mencapai belasan miliar. Di kalangan pemerintah juga terdapat indikasi pemborosan yang tidak efektif, terlihat dari besarnya penyerapan APBN yang meningkat drastis sebesar 60 persen.

Hal itu terjadi karena sistem politik demokrasi yang berbiaya amat mahal. Para politisi membutuhkan biaya miliaran per orang untuk melanggengkan aktivitas politiknya dan memerlukan pihak ke tiga yang menopang pendanaan yaitu para pengusaha dan pemilik modal.

Berbeloknya orientasi para wakil rakyat ketika sudah memegang kekuasaan, dari memikirkan rakyat menjadi memikirkan berbagai cara untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan akhirnya menghalalkan segala cara. Pemborosan uang rakyat menjadi lebih sulit dientaskan jika akar permasalahan masih diterapkan, sebab demokrasi membutuhkan biaya yang mahal.

Timbul pertanyaan setelah melihat fakta bahwa banyak pemimpin yang terbukti tidak pantas, tak layak dan bahkan khianat, apakah Tuhan telah salah pilih? Karena tidak ada seorang pun yang bisa menjadi apa pun atau siapa pun tanpa restu-Nya.

Kita tidak bisa menjustifikasi Tuhan salah pilih dalam menentukan siapa-siapa yang layak menjadi pemimpin negeri ini. Kuasa Tuhan untuk memilih pemimpin telah didelegasikan ke oknum lain seperti kepada pejabat yang memiliki hak prerogatif menunjuk pembantunya seperti presiden, gubernur atau walikota dan bupati.

Demokrasi telah mengambil alih delegasi dari tangan Tuhan dan memindahkannya ke tangan rakyat. Seluruh rakyat dititipi kuasa untuk memilih pemimpinnya sendiri. Lantas bagaimana sikap Tuhan terhadap orang-orang yang dibiarkan terpilih menjadi pemimpin? Dalam hal ini harus dibedakan antara pemimpin terpilih dan dipilih Tuhan.

Kenapa tidak semua pemimpin adalah pemimpin terpilih? Sederhana jawabannya, tidak semua senang dengan pilihan Tuhan. Banyak orang yang memilih pemimpin karena mi instan dan sembako. Figur-figur pemimpin yang dipilih karena mi instan dan sembako adalah figur yang telah mengamini korupsi dan suap sebagai hal wajar dalam memimpin.

Kita sebagai konsituen jangan lagi tergoda mi instan dan sembako untuk nasib bersama selama lima tahun. Harta terbesar kita di era demokrasi adalah sovereignty (kedaulatan), dalam hal ini suara kita. Suara yang kadang dianggap remeh-temeh namun menentukan masa depan seluruh bangsa dan negara. Ingat, vox populi vox dei, Suara Rakyat Suara Tuhan!

BACA JUGA:
DPR Jangan Boros Lagi!
Indonesian children make perilous journey to schoo...
Menguak Misteri Tan Malaka
Peradilan Sandal Jepit
Bunuh Diri Bukan Budaya Indonesia
Titik Nadir HAM di Indonesia
Tinjauan Psikologis Aksi Bakar Diri
Menjadi Tokoh Teladan Hidup Sederhana
Mahatma Gandhi Menuju Damai Tanpa Kekerasan
Kartu Pelajar Bukan Pengganti KTP Atau SIM?

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.