Monday, February 13, 2012

Sopan Santun, Penghormatan Pada Diri Sendiri

Secangkir Kopi dan Kehormatan


Terlepas dari rasa suka atau tidak suka menjadi bangsa Indonesia, tetap kita harus mengakui bahwa kulit kita sawo matang, bermata hitam dan berhidung kurang mancung. Kita bangsa Indonesia yang tinggal di zamrud khatulistiwa dengan segala keeksotisan alamnya dan semua keragaman suku bangsa di dalamnya.

Kalau kemudian kita banyak belajar dari bangsa lain dan budayanya itu tidak berarti kita sudah sepaham dengan adat budaya bangsa lain yang ilmunya kita adopsi, dan lantas kita mengklaim telah menjadi bangsa yang bukan bangsa Indonesia. Kita lahir, tumbuh besar, menjalani hidup dan kehidupan  dan bahkan akan menutup mata juga di sini. Jadi suka atau tidak suka kita adalah bangsa Indonesia.

Sebagai sebuah bangsa yang berharap setarap dengan bangsa lain, kita harus belajar. Pelajaran pertama adalah sopan santun. Selama ini kita tidak pernah santun kepada para pemimpin kita. Dengan mudah kita menghujat dan mencaci mereka melalui media masa atau demonstrasi di jalanan. Telunjuk kita dengan lancang menuding hidung mereka tanpa sungkan, seolah lupa bahwa adat ketimuran tidak mengajarkan hal yang demikian. 

Bagaimana kita bisa santun kepada orang lain bila selama ini kita juga tidak pernah santun kepada diri sendiri? Perlakukan diri kita dengan santun setelah itu perlakuan tersebut akan berjalan dengan sendirinya kepada orang lain. Kita tidak gila hormat dan menempatkan diri secara primordial, namun penghormatan yang kita berikan terhadap diri sendiri akan diikuti oleh orang lain bagaimana menghormati diri kita.

Saya mengajarkan kepada istri dan anak-anak bagaimana menghormati  dan santun kepada diri sendiri dengan menikmati secangkir teh atau kopi. Pernah mereka bertanya siapa tamuku ketika saya membawa kopi atau teh manis dalam cangkir di atas nampan lengkap dengan tatakan. Tentu saja saya jawab itu bukan untuk tamu, tapi untuk diriku sendiri sebagai hadiah dan penghormatan. 

Tadi, aku terharu sekali mendapat perlakuan sangat istimewa dari seorang anak lelakiku yang baru duduk di kelas satu sebuah SMA. Aku meminta tolong di belikan kopi dan sekalian diseduhkan. Harga kopinya memang yang termurah, bahkan satu sachet hanya Rp 500 rupiah. Namun secangkir kopi itu menjadi demikian berharga ketika dibawa dalam nampan dalam cangkir lengkap dengan tatakannya dengan cara berjalan setengah membungkuk lalu di letakkan di atas meja kerja sambil berlutut. 

Tidak terbayangkan andai seluruh ayah/bunda di negeri ini mengajarkan sopan santun pada diri sendiri seperti itu, atau seperti yang diajarkan bangsa Jepang dalam perjamuan minum teh misalnya. Tentu tidak akan terbilang berapa puluh atau ratus juta orang yang akan terkontaminasi rasa santun dalam dirinya. Dan kita tidak akan melihat demo-demo di jalanan yang menghujat para pemimpinnya, yang lebih parah menghujat para pendahulu bangsa ini yang telah jelas meninggalkan alam fana ini.

Baru-baru ini  Mahkamah Konstitusi menolak permohonan para Pemohon dalam pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan. Amar putusan dengan Nomor 67/PUU-IX/2011 dibacakan oleh Ketua MK Moh. Mahfud MD dengan didampingi delapan hakim konstitusi, di Ruang Sidang Pleno MK. Motivasi pemohon, seperti disampaikan oleh salah seorang pemohonnya, Ray Rangkuti, adalah agar mantan Presiden Soeharto tidak mendapat gelar pahlawan. “Ada dorongan dari kami agar Pak Harto tidak mendapat gelar pahlawan di tengah statusnya yang tidak jelas”.

"Bangsa kita memang harus belajar banyak bagaimana caranya mereka memperlakukan mantan pemimpinnya. Tidak ada manusia yang sempurna. Sebesar apapun seorang pemimpin, tetap saja ada kekurangan dan kekeliruan. Kita harus memperbaiki kesalahan itu, dan berani melangkah ke depan, tanpa harus terpenjara oleh masa lalu. Sikap terpenjara kepada masa lalu akan membuat bangsa kita terus-menerus bertikai, hujat-menghujat, salah-menyalahkan dan akhirnya tidak siap untuk melangkah ke depan." Tulis Yusril Ihza Mahendra di sebuah grup Fesbuker Indonesia pada jejaring sosial Facebook, Jum'at (10/2). 

Yusril mengungkap cerita sekitar 4 tahun lalu, saat berdialog di Metro TV, dan ditanya, “Apakah mantan Presiden Soeharto pernah minta maaf kepada rakyat. Apakah hal yang sama juga pernah dilakukan oleh keluarganya, dan lebih khusus lagi oleh anak-anaknya?” Menjawab pertanyaan tersebut Yusril hanya merujuk kepada sebuah dokumen, yakni naskah Pernyataan Berhenti Sebagai Presiden Republik Indonesia, yang ditandatangani dan dibacakan mantan Soeharto Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.

Di samping naskah resmi yang disiapkan Sekretariat Negara, mantan Presiden Soeharto menambahkan dengan tulisan tangan pada halaman belakang teks itu yang antara lain berbunyi: “Atas bantuan dan dukungan Rakyat selama saya memimpin Negara dan Bangsa Indonesia ini, saya ucapan trima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangannya. Semoga Bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD ‘45-nya”. Tulisan tangan itu diberi paraf oleh beliau. Jadi permintaan maaf itu telah diucapkan langsung oleh mantan Presiden Soeharto sendiri, papar Yusril Ihza Mahendra di artikel itu.

Sumber inspirasi: Yusril Ihza Mahendra

4 comments:

  1. Sayangnya saat itu Rakyat Indonesia pandangan hidupnya tentang negara ini sedang tertutup oleh gemuruh Reformasi , hingga pernyataan Maaf Beliau tak terindahkan ...dan ternyata...Rakyat harus mengakui...tak ada yang didapat dari Reformasi ini. hanya ibarat Maling Teriak Maling .

    ReplyDelete
  2. menarik sekali pak bahasan anda, sambil menikmati kopi juga dipagi hari ini.


    Revolusi Galau

    ReplyDelete
  3. bagus bloggnya..
    saya sendiri irih..
    tulisanya juga punya kelas tersendiri..

    ReplyDelete
  4. @Nila; itulah Indonesia kita dewasa ini, @ Adang Muhamad dan Frans; terimakasih sudah singgah, inysa Allah saya mampir ke blog Anda juga... Salam Hangat Selalu

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.