Thursday, March 8, 2012

Anak "Punk" Terjaring Operasi Premanisme

"Tinjulah Congkaknya Dunia Buah Hatiku", Kata Iwan Fals


Tak dapat dipungkiri bila anak "punk" dilahirkan oleh ketimpangan sosial di masyarakat. Dengan mudah mereka bisa ditemui pada masyarakat pinggiran atau marjinal, terutama pada daerah tertinggal pedesaan. Mereka meniru gejala-gejala yang mereka anggap modern, namun internalisasi mereka bukan karena pengetahuan tapi karena mudah terpengaruh.

Menurut sosiolog dari IAIN Syekh Nurjati Kota Cirebon, Abdullah Ali, anak punk lahir karena rendahnya sistem sosial dan budaya yang meliputi rendahnya cara berpikir, pengetahuan, agama dan keluarga.

Punk sebenarnya merupakan subbudaya yang lahir di London, Inggris. Sejak 1980-an, punk merajalela di Amerika. Saat itu Amerika tengah dilanda masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu kemerosotan moral oleh para tokoh politiknya sehingga berdampak tinggi terhadap pengangguran dan kriminalitas.

Punk menyindir para penguasa melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana tetapi kadang juga bisa kasar, cepat dan menghentak. Sepak terjang punk labih dikenal dari gaya dandan mereka. Potongan rambut mohawk ala suku indian atau dipotong ala feathercut dengan warna rambut terang, sepatu boot, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat, dan baju lusuh.

Bagaimana dengan anak jalanan Indonesia yang kerap kita jumpai di lampu merah? Menurut mereka, menjadi anak punk adalah berpakaian seperti kebanyakan anak punk lainnya dan hidup mandiri, tidak merepotkan orang tua.

Mereka memilih menjadi pengamen di pinggir jalan. Jalanan dipilih karena bisa memberikan rezeki cukup mudah, selain alasan bahwa anak punk adalah mereka yang berani merasakan kerasnya hidup di jalanan.

Giat Operasi Premanisme yang marak belakangan ini berupaya menertibkan anak punk yang tersebar di kantong-kantong keramaian, walau sebenarnya target utamanya preman biasa dan preman yang menjurus tindakan pidana seperti mencopet, menjambret, memeras, berjudi, dan mencuri dengan kekerasan. Rupanya keberadaan anak punk yang selama ini dibiarkan meresahkan masyarakat juga sudah meresahkan pemerintah dan aparat sehingga layak ditertibkan meski terlambat.

Semoga operasi premanisme juga menjangkau preman yang jago korupsi ya? Anak punk jenis ini jelas lebih meresahkan dan berbahaya. Mari kita do'akan aparat kita lebih bernyali, jangan beraninya sama bocah angon yang kehilangan kerbaunya sehingga berkeliaran di jalanan.


BACA JUGA:
DPR Jangan Boros Lagi!
Nasehat Investasi Orang Terkaya No. 2 Di Dunia
Bagaimana Mengontrol Emosi?
Indonesian children make perilous journey to schoo...
Sopan Santun, Penghormatan Pada Diri Sendiri
Ongkos Demokrasi Seharga Mi dan Sembako
Golok Babi Tajam Ke Bawah Tumpul Ke Atas

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.