Saturday, March 10, 2012

Mitologi Buaya Biru pada Suluk Linglung Sunan Kalijaga

Daur Ulang Asmarandana Saida Saini



Buaya Biru dalam perspektif budaya Cirebon adalah sosok hewan kutukan yang bersemayam di garis batas air asin dan tawar Sungai Cimanuk. Dalam tuturan kuno turun temurun, ini bermula dari cerita citra sosok pesinden "Saida Saini" yang tersesat di hutan oyod mingmang pada 1527 di era akhir kejayaan Majapahit sebagai simbol Hindu Buddha.  

Mitos Buaya Biru  muncul ke permukaan ketika Demak merebut dan menguasai Cirebon, Banten dan Sundakalapa dari kekuasaan Pajajaran. Bila Putri Giri Lawung sebagai sosok putri yang memiliki ketajaman tombak pikir (lawung) sekaligus istikhamah dalam menegakkan keadilan (giri, gunung) maka Saida Saini memiliki suara bagai suluk perindu, sehingga dinobatkan sebagai Ratu Asmarandana.

Malangnya, Ratu Asmarandana itu menjadi primadona rakyat Junti di abad ke 16 karena bersetubuh dengan setan merakayangan. Hingga pada titik terjauh saat emanasi Islam menyadarkannya, Saida Saini lari ke Dermayu untuk melakukan lelaku kungkum di Sungai Cimanuk dan menjadi Buaya Biru.

Tidak dijelaskan kenapa menjadi Buaya Biru. Namun manusia hewani ini selalu muncul di permukaan sebagai pertanda akan datangnya prahara kala tida. 

Konon menjelang September 1965 pun Buaya Biru ini muncul. Kala itu, awan hitam memayungi langit dan orang-orang berkumpul di tanggul sungai tetembangan ulili wa lili wa uwaing. Negara porak poranda, ambruk, tata nilai rusak, tak satupun penggede negeri bisa dijadikan pola anutan. Manusia berpaling dari kearifan petuah lama.

Keyakinan banyak orang saat itu bahwa buaya berwajah manusia itu sedang tengadah, mencari ribuan bintang. Semilir angin malam pun diterjemahkan sebagai suara batin buaya berwajah biru. Buaya Bitu itu, Saida Saini alirkan wangsalan lirih. Meski banyak bintang gemerlap namun malam tetap gelap, namun dengan satu rembulan jadi benderang. Buaya Biru tahu betul kala purnama akan muncul kearifan linuwih dalam bentuk seorang wanita suci uni suci rupi suci ati.

Wanita itu bernama Nini Towok, sosok wanita sepuh yang tak letih mengatur bintang-bintang di langit agar tetap bercahaya terang. Tiap kali ada meteor melintas, ini diyakini sebagai bintang berkelamin binatang sekaligus iblis korup. Ninik Towok pun melepaskan lintang suci untuk mengusir sang meteor. 

Saat Buaya Biru melihat lintang suci, ada lintasan sunyi di mata sang buaya untuk mendapatkan sisa cahaya lintang suci. Namun nihil, yang didapat hanyalah jerat-jerat oyod mingmang yang pedih dan melelehkan air mata. 

Dalam urai air mata sang buaya mengalir macapatan Tapal Adam yang bila diterjemahkan bermakna "Sekejab mata, ada cahaya saat matahari redup bernama Lintang Jauhar. Dari cahaya berbinar tercipta lagi Hijab Rahman. Dan dari sinilah mengalir keringat mengilat bercahaya kebenaran."

Itulah Buaya Biru sebagaimana bisa kita petik dari Suluk Linglung Sunan Kalijaga, cuma bisa mangap tertelikung. "Tertelikung bingung, sendiri, bisu. Terpuruk di sudut pucat. Tetapi selalu saja ada konflik bermahkota amarah."

Seperti konflik pada seorang Angelina Sondakh ketika menjadi saksi dalam kasus Wisma Atlet (15/2), yang terlihat angel ngeyel sehingga sulit dijadikan pintu pembuka korupsi berjamaah politisi. Angelina dalam bahasa Itali bermakna malaikat kecil, tapi dalam bahasa Cirebon ternyata angel berarti sulit, rumit bahkan pada titik didih involutip tertentu kerap ditutur sebagai simbol pergulatan oyod mingmang.

Konflik diujung pemberhalaan diri itu tidak bisa dihentikan! Mereka saling-silang berseteru memperebutkan pepesan kosong belaka. Mereka cuma seonggok hantu yang menjahit kekalahan dan kekerdilan di atas involusi kloset berbau busuk. Adakah Angelina Sondakh adalah ayat-ayat mitologi yang mendaur ulang asmarandana Saida-Saini saat menjadi Buaya Biru? Entahlah....  
   
Suntingan dari Angelina Buaya Biru (PR-19/2)
Tandi Skober, Penasihat Kebudayaan Indonesia Police Watch

2 comments:

  1. Hanya dapat melihat dan memperhatikan saja Sob !


    Sukses selalu

    Salam Wisata

    ReplyDelete
  2. @Masatorus Anwarsejati: dalam diam kita jadi penonton setia...sampai lupa bernapas dan membuat dada sesak... semoga endingnya bagus ya?

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.