Rabu, 07 Maret 2012

Iket Sunda, Apakah Simbol Mistis?

Lestari Budaya Tradisi Sunda


Tidak sedikit orang yang menganggap mereka yang mengenakan iket atau totopong sebagai penganut aliran tertentu ataupun mereka yang memiliki ilmu gaib atau percaya pada hal-hal mistis. Itulah pandangan miring masyarakat tentang iket atau totopong (ikat kepala) selain dipandang kuno dan ketinggalan zaman.

Kain berbentuk bujur sangkar yang dikenakan kaum pria Sunda untuk menutupi kepala selain disebut iket juga dikenal dengan nama totopong atau destar. Kain iket berbentuk bujur sangkar berukuran 105 X 105 cm atau 90 X 90 cm.

Pada awalnya kain iket hanya mengenal dua warna, putih dan hitam. Warna putih diperuntukan bagi orang yang dianggap sepuh atau yang ditokohkan, sedangkan warna hitam untuk masyarakat biasa. Kemudian dengan semakin berkembangnya budaya, iket di setiap daerah mengenal berbagai motif, corak maupun warna sesuai identitas daerah. 

Bahan dasar kain iket biasanya kain morin kasar berwarna polos (putih atau hitam) dengan pola hias pada bagian sisinya. Ragam hias yang ditampilkan biasanya modang atau cemungkiran (ornamen khusus atau simbol).

Menurut Abah Ilin, sesepuh Kampung Adat Cikondang, Manglajang, Pangalengan, iket terdiri dari empat jenis:

Iket Barangbang Semplak

Iket yang sangat sederhana dan mudah membentuknya. Ciri khas iket ini terletak pada bagian kain berbentuk segitiga yang menjuntai (jurai/cula badak) di belakang kepala yang menyerupai pelepah daun kelapa rebah.
Pengguna iket jenis ini biasanya mereka yang berprofesi pekerja yang membutuhkan waktu cepat dan ringkas, seperti petani, kusir delman, jawara atau jagoan, serta pedagang hewan (ayam, kerbau atau domba).

Iket Paros atau Parengkos

Iket ini dibentuk dengan cara dilipat dan diputar. Parengkos adalah menarik kain segitiga yang menjuntai ke belakang sehingga menutup bagian atas kepala, dan untuk menguatkannya ujung kain diikat di bagian belakang. Jenis iket ini paling banyak macamnya, ada parengkos nangka, parengkos jengkol, parengkos koncer, parengkos jahen dan lainnya. Iket jenis ini basanya dikenakan bagi mereka yang hendak bekerja, sekolah, beribadah dan kegiatan resmi.

Iket Kuda Ngencar

Iket ini bentuknya sangat sederhana karena berupa lilitan kain segi empat yang kemudian dibentuk menjadi segitiga dan diikat di bagian belakang, dan bagian atas dibiarkan terbuka. Jenis iket ini biasa dikenakan anak-anak muda yang hendak bepergian jauh, seperti banyak dilakukan warga Baduy luar.

Iket Porteng

Jenis iket ini sangat berbeda dengan jenis iket lainnya. Bentuknya seperti mengenakan sorban dengan bagian atas kepala terbuka. Pada bagian depan maupun belakang tidak terdapat hiasan berupa jurai atau cula badak.  Pada Iket Porteng diperkuat tanpa ikatan melainkan dengan cara menyelipkan ujung kain lilitan di bawah lilitan kain.   

Selain ke empat jenis dan bentuk tersebut di atas, sebenarnya di sejumlah daerah lain masih dikenal berbagai istilah seperti badak heuay, julang ngapak, kekeongan, tanduk uncal, talingkup dan banyak lagi lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.