Saturday, March 17, 2012

Kemerdekaan Sendal Jepit vs Kenaikan BBM

Jadilah Tuan di Negeri Sendiri


Sesungguhnya bukan kekuasaan yang menciptakan kebejatan, tapi ketakutan. Takut kehilangan kekuasaan merusak mereka yang biasa memilikinya. Rasa takut diungguli orang lain atau takut terhina telah menjadi pendorong maksud-maksud jahat.

Akan sulit menghalau kebodohan kecuali ada kebebasan untuk mencari kebenaran tanpa belenggu rasa takut. Begitu dekatnya batas antara rasa takut dan kebejatan sehingga tidak mengherankan jika kebejatan tersebar dengan luas di segala macam masyarakat.

Dua alinea itu menjadi pembuka esai tentang kemerdekaan karya Suu Kyi. Ditulisnya untuk dibacakan pada penerimaan Hadiah Shakarov yang dimenangkannya pada 1990. Namun Dia tak bisa menghadiri acara tersebut  sebab posisinya sebagai tawanan junta militer. Dalam esainya itu dia bercerita negerinya yang tanpa demokrasi.

Bagaimana dengan kemerdekaan Indonesia di kekinian? Sepertinya ada yang salah dengan konsep kemerdekaan yang ada di kepala para birokrat sebagai pelayan rakyat dan para rakyat yang menjadi tuannya. 

Banyak sekali hal-hal janggal dari para birokrat yang tidak lagi sesuai dengan janji-janji lima tahunannya. Mereka seolah harus diingatkan terus akan janji-janji itu, yang memang mungkin saat itu hanya pelamis bibir semata? Kejanggalan-kejanggalan itu juga sebanyak hilangnya rasa hormat dari rakyat sebagai tuan di negeri ini. 

Kemerdekaan rakyat tidak lagi dihormati semestinya. Atau mungkin para birokrat terlanjur trauma dengan kebebasan yang telah mereka berikan dan menjadi bablas di awal reformasi? Traumatis ini menjadikan aparat birokrasi menjadi lebih represif. Tidak segan-segan lagi pentungan mereka menghunjam tubuh mahasiswa yang demo menolak kenaikan harga BBM.

Rakyat, sebagai tuan negeri ini terlanjur curiga akan niat baik pemerintah dibalik naiknya harga BBM. Bagi rakyat jelata, kenaikan BBM adalah kesengsaraan dalam wujud baru. Toh selama ini yang manikmati kemewahan di Gedung DPR hanya segilintir saja? Itu yang ada di benak semua orang saat ini. Lalu kenapa orang-orang yang selalu nyenyak dalam sidang di Gedung DPR itu tidak mau membagi mimpinya dengan rakyat jelata yang tidur di gubug-gubug reyot atau gelandangan yang tidur di emperan metropolitan?

Penyelewengan pajak dan rekening gendut para PNS muda seolah berlomba dengan kasus korupsi berjamaah para politisi yang mendudukkan seorang Angelina menjadi kunci pembuka. Rakyat jelata dipaksa memandangi layar kaca persidangan Gayus Tambunan, Nazarudin dan Nunun Nurbaeti yang tak kunjung selesai.  Ataukah mereka hanya pengalih perhatian dari kasus Century? Jangan-jangan keributan soal naiknya BBM juga ya?

Entahlah, aku jadi kehilangan tanya.... Kemerdekaan, tidak mengajariku untuk bertanya lagi. Satu- satunya milikku yang paling berharga hanya sendal jepit, kemerdekaan sendal jepit yang akan kupakai kemana-mana sebagai rakyat jelata. Dengannya, aku bisa datang dan pergi sesuka hati.... 

Diam-diam aku membatin, kita butuh seorang seperti Aung San Suu Kyi rupanya....

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.