Tuesday, March 27, 2012

Tsunami Politik dan Kenaikan Harga BBM


Siapa Menabur Angin, Dia Menuai Badai


Tsunami politik yang berpusar pada kebijakan pemerintah untuk menaikkan BBM dinilai berbagai kalangan tidak berpihak pada rakyat. Akibat rasa marah dan kecewa yang terakumulasi begitu besar menggejala berupa demo yang meletup di mana-mana. Bahkan demo besar-besaran diagendakan pada tanggal 27 Maret 2012 di Jakarta.

Berawal dari Mentri ESDM Jero Wacik di depan komisi VII DPR RI (6 Maret 2012), mewakili pemerintah menyodorkan opsi pemerintah dengan menaikkan harga BBM 1.500 per liter menjadi 6.000 per liter mulai April 2012. Rencana kenaikan harga BBM itu juga sudah dimasukan dalam RAPBN-P 2012 yang sudah diajukan ke DPR.

Rencana itu menuai banyak penolakan dari hampir semua kalangan masyarakat, bahkan menurut hasil survey LSI dengan responden dari seluruh Indonesia, 86 persen masyarakat menolak kenaikan harga BBM. Namun rupanya pemerintah mulai tipis nuraninya, bahkan menulikan pendengaran serta menutup mata  sehingga ngotot menaikan harga BBM untuk disetujui DPR.

Pemerintah meminta DPR mencabut Pasal 7 Ayat (6) Undang-undang APBN 2012 yang menyatakan harga jual eceran BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan. Permintaan itu disampaikan agar pemerintah bisa leluasa menaikan harga BBM saat harga minyak dunia meningkat tajam.

"Jangan pemerintah diikat dengan pasal 7 ayat 6," kata Menteri Keuangan, Agus Martowardojo di Jakarta, Minggu 25 Maret 2012. (VIVAnews, 25/3)

Jika DPR menyetujui, lengkaplah pahitnya derita rakyat negeri ini. Dimana pemerintah dan wakil rakyat yang tak bernurani tidak mau lagi repot dan lebih memilih kebijakan yang menyengsarakan rakyat. 

Sebagai reaksi dari rakyat atas niat pemerintah yang dipandang dzolim  akan digelar serempak demo  di sejumlah daerah yang terbesar di Jakarta, ribuan orang akan turun ke jalan. Ada tiga lokasi di ibukota yang jadi sasaran demo, yakni Bundaran Hotel Indonesia, di depan Istana Merdeka, dan di depan Gedung DPR RI. (VIVAnews, 26/3)

Terkait demo di Jakarta tersebut Polisi dibantu TNI akan dikerahkan amankan demo. "Kami hanya membantu Polri jika eskalasinya meningkat, itu pun jika diminta. Saat ini kami hanya menyiapkan kebutuhan anggota bila diperlukan," papar Pangdam Siliwangi kepada wartawan , usai gelar pasukan di lapangan Gasibu Bandung, Senin 26 Maret 2012. 

Bagi rakyat demo di Jakarta yang digelar besar-besaran adalah perjuangan antara hidup dan mati yang akan menentukan arah kemana pemerintah harus berpihak, berpihak kepada kepentingan asing atau rakyat jelata?  Sayangnya, SBY selaku Presiden enggan menghadapi situasi dan memilih menyerahkan panasnya situasi nasional kepada orang lain untuk mendinginkannya. Apakah ini berarti SBY lari dari tanggung jawab terhadap kemarahan rakyatnya?

Seseorang yang menamakan diri Dian Tak Pernah Padam menulis komentar di Grup FB Komunitas Sastra Sukabumi, "Setelah mengecewakan harapan rakyatnya, dia takut oleh kedunguannya sendiri, kasihan ya, tapi sebenarnya bukan dungu cuma dikuasai oleh org di sekitar yg harus dituruti kemauannya agar acceptable di mata mereka, bukan di mata raktyat."

BACA JUGA:
Alasan Pemerintah Dibalik Naiknya Harga BBM
Sukses dari Nasihat Martin Luther King Jr
Bisakah Indonesia Tanpa Pemilu Kepala Daerah?
Kemerdekaan Sendal Jepit vs Kenaikan BBM

1 comment:

  1. wah, udah kayak tsunamii ya gan? ane sih netral aja dalam hal ini.. kunjungan balik ya gan.hee

    http://www.info-yazid.com/2012/03/antara-cinta-dan-nafsu.html

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.