Saturday, April 21, 2012

Pilih Beras Analog untuk Hidup Lebih Sehat

RIP: Lumbung Padi Asia Tenggara 


Kalangan kelas menengah pada strata sosial masyarakat Indonesia pada umumnya masih berpikiran jika mampu memakan nasi putih berarti tidak miskin. Selain itu media masa juga memperparah keadaan dengan memberitakan berita kekurangan pangan jika ada kaum kelas menengah ke bawah makan ubi atau jagung. 

Harus diakui bahwa opini semacam itu seolah-olah mengabaikan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik makanan masing-masing dan tidak semua orang harus makan nasi. Kini kita semua harus menata ulang kembali tradisi makan makanan pokok. 

Hal ini berawal di tahun 1980-an dimana beras atau nasi dapat mendongkrak status sosial masyarakat. Kampanye pemerintah yang diiringi melimpahnya produksi beras membuat konsumsi pangan lain seperti jagung, singkong, dan sagu menurun drastis. Ketika itu menguat anggapan orang dianggap tidak sejahtera kalau menyantap singkong, sagu dan jagung.

"Melimpahnya produksi padi dan ketakutan dianggap miskin yang menjadi penyebab utama mengapa masyarakat Indonesia memaksakan diri mengonsumi beras. Pada gilirannya kebiasaan ini menjadi budaya yang sulit dirubah," kata Direktur Technopark Institut Pertanian Bogor, Slamet Budijanto. (PR, 16 April 2012)

Menghadapi tantangan seperti itu, peneliti  dari F-Technopark IPB mengembangkan beras analog. Beras analog atau produk mirip beras diolah dengan menggunakan teknologi ekstruder.

"Semula beras non padi ini dikembangkan berdasarkan kebutuhan untuk kesehatan. Misalnya untuk para penderita diabetes agar indeks glikemiknya rendah atau diet nasi. Nilai gizi beras analog lebih besar ketimbang beras biasa. Energi per 100 gram (kalori) beras analog sebesar 378, sedangkan pada beras biasa 350," kata Slamet.

Di Cina dan Filipina, telah diproduksi beras serupa dari beras menir menjadi beras utuh untuk kebutuhan fortifikasi vitamin atau mineral tertentu. Namun beras analog ITB di buat dari tepung lokal selain beras dan terigu yaitu tepung sorgum, sagu, umbi-umbian dan penambahan berbagai kandungan serat, antioksidan dan kandungan lain yang diinginkan.

Cara memasak beras analog sama persis dengan beras biasa. Bedanya beras analog tidak membutuhkan pencucian seperti beras biasa. Soal rasa pun memiliki kesamaan dan tidak ada bedanya dengan nasi biasa. 

Kelemahan beras analog ialah masih terciumnya bau dan warnanya yang lebih kecokelatan dibanding beras biasa. Kekurangan ini dapat diakali dengan penambahan daun pandan waktu menanaknya atau dibuat nasi uduk.

Harga jual beras analog saat ini masih relatif mahal karena belum di produksi massal. Harga per kilogram  berkisar antara Rp 9.000 sampai Rp 14.000 tergantung dari kandungan yang ada di dalamnya. 

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.