Friday, April 20, 2012

Hakim Berhati Nurani "Bismar" Telah Berpulang

Hakim Adalah Wakil Tuhan di Dunia


Kini pendekar hukum itu telah berpulang dengan damai meninggalkan beribu kenangan bagi bangsa yang mendambakan sosok seperti dirinya. Mantan Hakim Agung Bismar Siregar, wafat pada usia ke-84 tahun pukul 12.25 WIB di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, Kamis 19 April 2012.

Hidupnya  didedikasikan bagi penegakan hukum di tanah air sebagai sosok cermin bagi para hakim karena kebeningan hati nuraninya. Sebagai hakim, Bismar mengandalkan hati nuraninya dalam setiap kali mengambil keputusan, sebab baginya hati nurani tidak bisa diajak berbohong.

Bismar Siregar berani melawan arus demi tegaknya keadilan. Baginya, undang-undang dan hukum hanyalah sarana untuk mencapai keadilan. 

Bismar kerap melakukan terobosan hukum dan tak mau diintervensi siapapun dalam mengambil keputusan, termasuk oleh atasannya demi tegaknya keadilan. Karena bagi seorang Bismar, hakim adalah undang-undang. Walau kadang prinsipnya ini mengundang kontroversi dan banyak koleganya yang menganggap Bismar sebagai hakim yang aneh.

Bahkan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Profesor Satjipto Rahardjo, dalam Ensiklopedi Tokoh Indonesia mengatakan Bismar adalah sosok yang lurus. Ia tidak bersandar pada pasal-pasal hukum sebagai landasan untuk mengambil keputusan, melainkan pada hati nurani. Sesudah hati nuraninya memutuskan, barulah ia mencari pasal hukum sebagai dasarnya.

Mengenang sosok Bismar berarti juga mengenang sejumlah vonis fenomenal yang gaungnya masih terasa sampai hari ini. Ketika ia menjabat sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Utara, Bismar pernah menambah vonis sampai 10 kali lipat dari tuntutan terkait perkara perdagangan 161 kilogram ganja kering yang dilakukan Cut Mariana dan Bachtiar Tahir.

Kedua terdakwa yang awalnya dijatuhi hukuman 10 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Medan, akhirnya harus mendekam masing-masing 15 dan 10 tahun di penjara setelah Pengadilan Tinggi Sumatera Utara yang dipimpin Bismar melipatgandakan hukuman mereka.

Contoh kasus lain yang juga terkenal, ketika Bismar mengubah hukuman bagi seorang kepala sekolah yang mencabuli muridnya sendiri dari hanya 7 bulan menjadi 3 tahun. Kasus itu terjadi pada tahun 1965, masa keemasan Partai Komunis Indonesia.

Kepala sekolah yang diadili karena berbuat cabul tersebut adalah seorang tokoh Barisan Tani Indonesia/PKI. Namun Bismar tak ragu melawan tekanan PKI. Ia berpendapat, hakim adalah wakil Tuhan di dunia.

Kini Bismar telah menutup mata dan juga perjalanan hidupnya dengan penuh syukur. Kehidupan yang diliputi  prihatin sejak kecil berhasil menempa dirinya dan menyandang gelar yang cukup bergengsi di bidang hukum.

Bismar menjadi Hakim Agung pada 1984 sampai 2000. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia tahun 1956 dan pernah mengenyam pendidikan di National College of The State Judiciary, Reno, Amerika Serikat pada 1973. Selain itu almarhum juga sempat mengambil studi di American Academy of Judicial Education, Tecalossa, Amerika Serikat pada 1973.

Bangsa ini akan senantiasa merindukan sosok seperti Bismar Siregar, apalagi dalam situasi seperti sekarang ini ketika wajah hukum terlihat carut marut. Namun pendekar hukum itu kini telah tiada, setelah pria kelahiran Sipiro, Sumatera Utara, 15 September 1928 itu dinyatakan koma sejak Senin 16 April 2012 sekitar pukul 12 siang. 

Selamat jalan Pak Bismar Siregar.

Sumber: VIVAnews

1 comment:

  1. Semoga Beliau Tenang Di Alam barunya...dan Segala Amalan Beliau Selama hidup Didunia Dapat Menolongnya dari segala Dosa...Amin.

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.