Thursday, May 17, 2012

Tidak Ada Pemuda di Gedung Pemuda

Anak Jalanan Lahir dari Ketidak Pedulian


Tentunya sangat miris ketika terjadi pemuda hanya dibutuhkan pada momen-momen tertentu seperti Pilkada, Pilgub, ataupun Pilpres. Padahal sebenarnya pemuda memiliki potensi dan skil yang siap dioptimalkan.

Minimnya perhatian pemerintah tentang hal tersebut terutama dari kalangan elite politik, membuat pemuda sulit berkembang. Pemuda yang memiliki pengaruh sangat besar di segala bidang seperti ekonomi, sosial dan bahkan politik seolah termarjinalkan.

Ungkapan di tangan pemuda bangsa ini akan maju dan mampu bersaing dengan negara lain hanya omong kosong belaka. Terbukti hingga saat ini banyak kota-kota di Indonesia yang tidak memiliki gedung kesenian. Kalaupun dulunya pernah ada gedung kesenian, gedung itu beralih fungsi menjadi gedung tempat resepsi pernikahan atau disewakan untuk kegiatan lain yang bersifat komersial.

Dilantarankan sarana dan prasarana yang kurang mendukung,  para pemuda akhirnya berkreasi seni sebagai seniman jalanan. Walau kegiatan mereka bernilai positif, namun kehadiran mereka yang memanfaatkan lampu merah, rumah makan, pusat perbelanjaan dan bahkan tenda warung-warung makan ternyata mengundang keresahan warga. Terlebih lagi ketika tampilan mereka sangat urakan dan jauh dari estetika seni.

Sudah saatnya pemuda meninggalkan sifat malas dan lebih tergantung pada budaya mengemis kepada pemerintah soal gedung kesenian, juga meninggalkan budaya seniman jalanan yang lebih banyak jadi pengemis pada prakteknya. Saat ini banyak sekali lahan kosong di sudut-sudut kota yang siap dicangkul dan ditanami apapun, dijadikan lahan hijau perkotaan ataupun ladang sayur-mayur dan buah-buahan. 

Kepada para pemuda, ingin kunyanyikan lagu Melati di Tapal Batas karya Ismail Marzuki ini, agar bangkit kesadaranmu. Matahari telah meninggi kawan... bangunlah dari mimpi, bergegaslah menuju masa depanmu!

Engkau gadis muda remaja
Bagai sekuntum melati
Engkau sumbangkan Jiwa raga
Ditapal batas Bekasi

Engkau dinamakan Srikandi
Pendekar putrl sejati
Engkau turut jejak pemuda
Turut mengawal negara

Oh pendekar putri nan cantik
Dengarlah panggilan ibu
Sawah ladang rindu menanti
Akan sumbangan baktimu

Duhai putri muda remaja
Suntingan kampung halaman
Kembali kepangkuan Bunda
Berbakti kita di ladang

BACA JUGA:
Permainan Bola Tangan Api
Pesan Terakhir Wamen ESDM
Belajar Santun dari Hukum Lese Mejeste
Kini Jadi Petani Tidak Lagi Bergengsi
Ketika Penegak Hukum Bertindak Setengah Hati
Solusi Keliru Masalah Korupsi

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.