Saturday, May 5, 2012

Aksi May Day untuk Hidup Lebih Layak

Dukung Perjuangan Buruh!


Tradisi tahunan di seluruh dunia dan tak terkecuali Indonesia, Hari Buruh pada 1 Mei selalu dirayakan dengan turun ke jalan.

Beragam tanggapan pun muncul terkait aksi buruh turun ke jalan dari anggota masyarakat yang tidak terlibat perayaan tersebut. Tanggapan miring dari kelompok pekerja "kerah putih", yang menganggap kegiatan tersebut hanya membuat macet dan mengganggu. Keluhan lain juga muncul dari sopir angkutan umum yang penghasilannya mendadak berkurang karena beberapa rute tertutup massa buruh.

Gerakan buruh turun ke jalan bukan suatu tujuan, melainkan hanya salah satu cara untuk mencapai tujuan. Setidaknya tiga tahun terakhir ini kita melihat ada tiga isu besar yang selalu diangkat buruh ketika turun ke jalan yaitu upah yang layak, outsourcing, dan jaminan sosial.

Upah Layak

Upah layak didefinisikan sebagai upah yang diterima buruh yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya secara layak. Berbicara tentang upah berarti berbicara tentang daya beli, pergerakan ekonomi, dan multiplier effect yang terjadi akibat kegiatan konsumsi yang dilakukan dengan upah tersebut.

Makin tinggi upah, makin tinggi daya beli buruh sehingga ekonomi akan semakin bergerak dan memperbesar multiplier effect kegiatan konsumsi. Ketika buruh dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak terutama sandang, pangan dan papan, secara psikologis akan membuat para buruh bekerja dengan tenang dan produktivitas kerja meningkat.

Pemenuhan kebutuhan hidup layak juga berarti, upah yang diterima buruh dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi buruh dan keluarganya.


Outsourcing

Persoalan utama outsourcing tenaga kerja ialah hilangnya kepastian kerja yang berarti hilangnya kepastian memperoleh pendapatan, serta diskriminasi yang dihadapi pekerja/buruh outsourcing yang seringkali harus bekerja di tempat yang sama dengan pekerja/buruh tetap tetapi memperoleh upah dan tunjangan fasilitas berbeda.

Praktik outsourcing tidak saja terjadi pada sektor manufaktur tetapi juga terjadi pada sektor perbankan dan telekomunikasi yang pekerjanya tergolong kategori "kerah putih". Di sektor perbankan, praktik outsourcing ditemukan pada bidang marketing, teller, kartu kredit dan sebagainya (Akatiga-OPSI-FES, 2012)

Ketika buruh turun ke jalan dan menolak outsourcing, perjuangan ini untuk semua pekerja/buruh yang saat ini bekerja dengan sistem outsourcing.

Jaminan Sosial

Perjuangan panjang selama lebih dari dua tahun dengan ratusan kali aksi turun ke jalan di berbagai kota membuahkan hasil berupa disahkannya Undang-Undang RI Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang meliputi BPJS kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan.

BPJS kesehatan beroperasi 1 Januari 2014, artinya saat itu seluruh rakyat Indonesia, seluruh anggota masyarakat tanpa kecuali, termasuk pekerja "kerah putih" dan sopir angkutan kota akan mendapat jaminan kesehatan, berdasarkan undang-undang.

UU BPJS Pasal 9 ayat 4 menyatakan, pemerintah membayar dan menyetor iuran untuk penerima bantuan iuran kepada BPJS. Artinya jika ada anggota masyarakat tidak memiliki kemampuan membayar iuran, kewajiban iuran beralih kepada negara dalam bentuk pembayaran bantuan iuran.

Referensi: Buruh Bergerak untuk Siapa? Rina Herawati, Peneliti Akatiga. PR, 4 Mei 2012

1 comment:

  1. memang kasian banget kalau upah buruh sedikit.

    http://www.unikgaul.com/2012/02/cara-mengatasi-kecanduan-rokok.html

    ReplyDelete

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.