Saturday, June 2, 2012

Estafet Pancasila Antar Presiden

Potret Muram Kehidupan Berbangsa


Terlepas dari kenyataan bahwa presiden juga manusia pertanyaan ini layak diajukan sebagai renungan, ber-Pancasila-kah Presiden kita? Kita maklumi bersama, sebagai manusia tentu presiden juga tidak luput dari sifat manusiawi sebagai tempat salah dan benar.

Menurut Nietsche, manusia adalah tali buhul antara binatang dan manusia utama. Ia seutas tali di atas jurang. Ia suatu penyebrangan sekaligus satu kejatuhan. Pendapat itu kemudian dianalogikan oleh Albert Schweitzer sebagai 'Perpaduan yang aneh kebudayaan dan kebiadaban sekaligus jiwa menyatu dalam watak pandita dan dursila'.

Ber-Pancasila-kah Soekarno, Soeharto dan Soesilo? 

Bisa jadi Soekarno ialah penemu Pancasila pada 1 juni 1945. "Seperti ubi yang ditemukan peladang ketika mereka mencangkul pada suatu pagi sehabis bermimpi," tulis Goenawan Mohamad. Jelasnya, Soekarno telah melangkah dari satu titik ke titik lain dengan menanam pohon kebangsaan tentang Indonesia yang gemilang, gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.

Bagi Soekarno, Pancasila adalah ajaran tentang moral, sportivitas dan pelestarian revitaliasi orientasi nasionalisme. Di dalamnya tersimpan kemajemukan status yang mengeliminasi ego hingga ke tingkat dasar demi mencapai cita-cita mulia yang bersifat majemuk. Mpu Tantular mentakwilkannya dalam kalimat 'Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa".

Pada ruang temaram, Presiden Soekarno mengaplikasikan politik otoriter despotisme. Ia tidak hanya membubarkan DPR yang menolak Anggaran Belanja Negara, tapi juga membubarkan Masyumi dan PSI pada 17 Agustus 1960. Soekarno terlena dalam hiruk-pikuk tepuk tangan dan yel-yel revolusioner. 

"Saat itu masyarakat berubah menjadi massa. Di sini proses pemudaran bentuk pun terjadi. Juga di sini ada mobilisasi revolusioner yang menggiring ke alam semu," tulis Farchan, Prisma 8, 1985:24.

Itulah potret nestapa politik di era demokrasi terpimpin gaya Soekarno, keprihatinan nasional saat rakyat ditempatkan diantara masa penguasa tunggal.

Pasca prahara demokrasi terpimpin terbitlah demokrasi Pancasila di era Soeharto yang ternyata tiada bedanya dengan era sebelumnya. Soeharto, ABRI, dan Golkar canangkan program berdasarkan fungsionalisasi. Ada Tap. MPR RI Nomor: II/MPR/1983 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.

Awalnya sangat menjanjikan sebelum kemudian Pancasila juga ditempatkan di ruang gelap otoriter dan militeristik. Deliar Noer menuding Soeharto telah mereduksi 34 dari 37 pasal UUD 45. Era Soeharto adalah era goro-goro! Era pembusukan yang destruktif bagi pembangunan ideologi kebangsaan. Era dimana kekuasaan dipandang sebagai pusat jagat raya pada tataran kedaulatan rakyat hanyalah sebatas basa basi.

Pancasila tiba di era reformasi, digenggam dalam penctiraan kekuasaan malu-malu oleh SBY. Indonesia berubah menjadi panggung teater tanpa protagonis. Hampir semua lini mencitrakan antagonisasi kekuasaan. Terdengar suara risau dari istana negara hingga kelurahan: birokrasi tumbuh dari aliran money-theism.

Daniel G. Groody dalam Globalization, Spirituality, and Justice (2011) menulis "Money theism" sebagai teologi kontemporer telah menjadi fenomena menarik sekaligus kutukan kultural ketika masyarakat modern dilanskapi pragmatisme, materialistis, dan hedonistis.

Jadi, ber-Pancasila-kah Soekarno, Soeharto dan Soesilo? Pancasila dalam genggaman mereka walau pada awalnya diposisikan sebagai Tuhan, tetapi yang tersisa pada ujung usia adalah napsu Dasamuka untuk mengeksploitasi kekuasaan hingga ke ruang dapur rakyat jelata. 

Sementara dimata pakar sejarah Indonesia Dr Onghokham, Pancasila hanya dokumen politik-sama seperti Magna Carta di Inggris, Bill of Rights di Amerika Serikat, Droit de l'homme di Prancis. Bukan ideologi atau falsafah negara. Sehingga tidak aneh ketika Pancasila mengalami paradoks metamorfosa: (1) Kekuasaan Yang Mahakuasa; (2) Ke mana kemanusiaan yang beradab; (3) Perseteruan Indonesia; (4) Kerakyatan yang dipimpin koruptor dan predator; (5) Kekerdilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sumber referensi: Pancasilaiskah Para Presiden Kita? Tandi Skober, Penasihat Kebudayaan - Indonesia Police Watch (PR, 1 JUni 2012)

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.