Tuesday, June 12, 2012

Mencari Pemimpin Tangguh Pasca Reformasi

Pemimpin Berwawasan Kebangsaan!


Ketika bangsa-bangsa lain mengedepankan agenda demokrasi dengan melahirkan kepemimpinan muda seperti Clinton dan Barack Obama dari Amerika Serikat, atau Thailand dan Rusia yang tergolong berkomitment penuh pada kepemimpinan berusia muda. Saat ini elit politik di Indonesia lebih berorientasi mengejar kekuasaan yang berciri oligarkis dan sekadar menghabiskan tenaga untuk membela kelompok kecilnya walau terjerat berbagai kasus memalukan.

Kesulitan mencari pemimpin tangguh salah satunya karena kesalahan di tingkat elit politik yang tidak fokus pada agenda regenerasi kepemimpinan bangsa. Termasuk  tak adanya proyeksi menampilkan lapisan kaum muda guna memimpin bangsa. 

Seharusnya era reformasi membuka peluang untuk melahirkan para pemimpin bangsa yang tangguh sebagaimana Soekarno, Sjahrir atau Mohammad Natsir dimunculkan di masa lalu. 

Kalau saja kita mau menoleh pada kaca sejarah, kita akan menemukan bahwa Malaysia hampir sepenuhnya belajar tentang nasionalisme dari Indonesia. Semestinya pengalaman menjalankan demokrasi sejak Orde Lama sampai Orde Reformasi yang cukup panjang, tidak menyulitkan Indonesia menemukan basis pemimpinnya yang mampu membawa panji-panji nasionalisme bangsa.

Perkembangan demokrasi di Indonesia pascaera reformasi dinilai gagal melahirkan pemimpin tangguh dengan karakter nasionalisme yang diharapkan sehingga martabat nasional dan kesejahteraan rakyat sulit diupayakan.

"Akibat hal itu, posisi kesetaraan bangsa semakin melemah di antara negara lain. Oleh Malaysia saja kita kalah, baik dalam menunjukkan corak nasionalisme maupun gaya kepemimpinan bangsa yang dapat melindungi rakyat dan negaranya," menurut Syahganda Nainggolan, Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke Circle (SMC) di Universitas Krisnadwipayana Jakarta. (PR, 10 Mei 2012).

No comments:

Post a Comment

Tinggalkan Pesan dan Kesan untuk penyempurnaan WINA PRIVATE COURSE. Terima kasih, Salam.